Sejarah

Banyak yang telah dialami dan dikerjakan semasa pendirian Masjid Salman ITB. Berikut ini beberapa peristiwa yang masih dapat dilacak, baik dari dokumen-dokumen maupun tuturan para aktivis, dari awal hingga tahun 1981.

19 April 1960
Panitia Masjid ITB dibentuk. Diketuai oleh Hasan Babsel Soetanegara.

27 Mei 1960
Shalat Jumat perdana di Aula Barat ITB. Bahkan ini mungkin shalat Jumat pertama di Indonesia yang dilakukan di lingkungan kampus. Khatib: Moh. Hamron.

Tahun 1961
Shalat Idul Fitri dan Idul Adha yang pertama di kampus ITB. Disembelih 11 ekor kambing kurban pada Idul Adha saat itu.

13 Oktober 1962
Dimulainya perkuliahan agama di ITB. Dibuka oleh Prof. T. M. Soelaiman.

28 Maret 1963
Dengan persetujuan Presiden ITB, Jajasan Pembina Masdjid (JPM) ITB disahkan oleh akta notaris Komar Andasasmita nomor 83. Ketua yayasan Prof. T.M. Soelaiman. Modal awal 10 ribu rupiah.

23 April 1964
Mentri/Panglima AL Laksamana Madya Laut R.E. Martadinata dan Mentri Veteran Brigjen Sarbini shalat Idul Adha di kampus ITB.

24 April 1964
Kasab Jendral A.H. Nasution berkunjung ke ITB atas undangan Dewan Mahasiswa (DM) ITB. Pak Nas ikut shalat Jumat di Aula Barat ITB. Malamnya sebelum ceramah Pak Nas, mahasiswa membacakan ikrar untuk membangun masjid di ITB. Pak Nas memberi dukungannya.

4 Mei 1964
Emma Poerdiradja, anggota Dewan Penyantun ITB, mendukung pembangunan masjid ITB.

25 Mei 1964
Walikota Bandung, Priatna Kusumah, bersedia menjadi penasehat JPM ITB.

Kamis, 28 Mei 1964, jam 07.30
Delegasi JPM ITB yang dipimpin Prof. T.M. Soelaiman beserta Ahmad Sadali dan Ahmad Noe\’man, bertemu Bung Karno di istana. Bung Karno menandatangani rancangan gambar masjid yang dibuat oleh Ahmad Noe\’man dan memberi nama Salman.

Jumat, 29 Mei 1964
Nama Salman diumumkan pada jamaah shalat Jumat.

30 Mei 1964
Bung Karno mengirim surat dengan kop kepresidenan yang menyatakan bersedia menjadi pelindung dan memberi nama Salman.

5 Juni 1964
Rektor ITB, Prof. Ukar Bratakusuma mengirim surat kepada Walikota Bandung tentang ijin pemakaian tanah di Jl.Ganesha untuk Masjid Salman.

18 Juni 1964
Kepala Cabang Kejaksaan Tinggi Bandung Prijatna Abdurrasjid, SH bersedia menjadi penasehat JPM ITB.

24 Juni 1964
Kepala Polisi Komisariat Djawa Barat bersedia menjadi penasehat JPM ITB.

8 Juli 1964
Pembantu Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Soemantri bersedia menjadi penasehat JPM ITB.

29 Juli 1964
Penilikan Pembangunan dan Rumah Kotapradja Bandung mengeluarkan surat izin pendirian masjid di Jl. Ganesha.

Akhir tahun 1964
Mushalla Salman yang dibangun Dewan Mahasiswa ITB selesai.

27 Januari 1965
Keputusan Rektor ITB Prof. Ukar Bratakusuma bahwa JPM ITB satu-satunya yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pengumpulan dana pembangunan masjid ITB.

6 – 13 Maret 1965
Diselenggarakan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) di Bandung. JPM ITB mengundang para delegasi untuk shalat Jumat di Aula Barat ITB. Khutbah disampaikan dalam bahasa Inggris oleh Prof. T. M. Soelaiman.

15 Juni 1965
Mukadimah, Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan susunan pengurus baru JPM ITB disahkan oleh notaris Komar Andasasmita. Dan ini berlaku surut sejak 1 Juni 1965. Ketua JPM ITB tetap Prof. T.M. Soelaiman.

Selasa sore, 22 Juni 1965
Peresmian menara sekaligus peresmian Pramuka Salman. Ceramah disampaikan oleh Prof. T.M. Soelaiman dengan tema surat Al-Ashr. Hadir antara lain Wakil Gubernur Jawa Barat, Walikota bandung, wakil pangdam siliwangi dan panca tunggal jawa barat.

4 oktober 1965
Kesatuan aksi mahasiswa indonesia (kami) dibentuk di mushalla saman

Menjelang Ramadhan 1387 H/1967
JPM ITB mengadakan kampanye di Hotel Homann. Hadir diantaranya Buya Hamka dan istri.

20 Agustus 1967
Walikota Bandung Kol. Inf. Djukardi memutuskan JPM ITB diberi izin untuk memanfaatkan Taman Ganesha sebagai tempat rekreasi umum, dan diberi hak untuk memungut biaya. Hasilnya digunakan untuk dana pembangunan masjid.

4 Desember 1967
Walikota Bandung Kol. Inf. Djukardi mengirim surat kepada mentri perindustrian, tekstil, dan keradjinan rakjat Ir. sanusi untuk meminta bantuan pendirian masjid salman.

2 Maret 1968
Pengesahan Anggaran Dasar baru di depan notaris.

1 Mei 1968
JPM ITB diizinkan untuk mendirikan poliklinik di lingkungan Salman. Namanya Balai Pengobatan Salman ITB.

19 Desember 1968
Rektor ITB Letkol. Ir. Kuntoadji membentuk Tim Usaha Penyelesaian Masjid Salman ITB. Tim diketuai oleh Ir.Muslimin Nasution, Wakil Ketua: Ir. M.Imaduddin A, Ir. Hasan Poerbo, Wimar Witular. Sekretaris Umum: Sjarief Tando. Bendahara: Aburizal Bakrie.

6 Juni 1969
Pengesahan Mukadimah dan Anggaran Dasar baru di depan notaris Komar Andasasmita. Yayasan sekarang bernama Yayasan Pembina Masjid Salman ITB.

30 Juli 1970
Memperoleh anggaran dari proyek untuk menyelesaikan atap beton 20 juta rupiah.

Juli 1971
Pelelangan kayu jati untuk finishing Masjid Salman ITB. Juga dilakukan kemudian pekerjaan finishing yang lain.

9 Juli 1971
Ketua Umum Yayasan Pembina Masjid Salman ITB diserahterimakan dari Prof.T.M.Soelaiman kepada Drs. Ahmad Sadali.

5 Mei 1972
Untuk pertama kalinya Masjid Salman ITB dipakai untuk shalat Jumat. Sebelumnya dibuka oleh Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Doddy Tisna Amidjaja. Khatib: Prof. T.M. Soelaiman. Imam: Abdul Latif Aziz. Muazzin: Endang Saifuddin Anshari.

Tahun 1974
Latihan Mujahid Dakwah (LMD) pertama kali diadakan. Digagas oleh Dr.Ir.M. Imaduddin Abdurrahim yang akrab dipanggil Bang Imad. LMD menjadi training dakwah paling diminati pada masa itu, karena diikuti oleh para aktivis mahasiswa Islam di seluruh Indonesia. Masjid Salman ITB menjadi pelopor berdirinya masjid-masjid kampus di seluruh Indonesia.

Tahun 1978

Kampus ITB diduduki tentara karena menolak dipilihnya kembali Soeharto sebagai presiden. Asrama Salman juga sempat diduduki. Bang Imad dipenjara selama 14 bulan karena ceramahnya di Yogyakarta yang mengkritik Presiden Soeharto.

18 maret 1981
Karisma atau keluarga remaja islam Salman berdiri. Karisma adalah unit aktivitas pertama yang memicu lahirnya unit kegiatan lain seperti PAS, BIOTER, dan PUSTENA. kegiatan Karisma dengan mentoringnya menjadi pelopor aktivitas dan pembinaan remaja islam di indonesia.

Top