Glasanefa: Bersenang-Senang Sehari Tanpa Stigma Bersama ODGJ

Suasana Acara Bersama GLASANEFA (foto: Muti’ah)

 

Berawal dari ikatan persaudaraan yang terjalin pasca training oleh Yayasan Siaware (Self Insight awareness) dibawah Ikatan Alumni ITB November 2017 lalu,  32 pemuda yang tergabung dalam Glasanefa mengadakan talkshow dan workshop bertajuk “A Happy Day with Beautiful Minds”. Kegiatan ini diikuti oleh 40 penyandang gangguan kejiwaan bipolar dan skizofrenia yang terhimpun dibawah naungan komunitas terkait seperti BCI (Bipolar Care Indonesia) simpul Bandung dan KPSI (Komunitas Penderita Skizofrenia Indonesia). Kegiatan yang berlangsung hari Sabtu (13/1) di Gedung Serbaguna Salman ITB ini berlangsung dalam tiga tahap yaitu tiga sesi talkshow, 6 mini workshop paralel, dan sesi hiburan.

“Acara ini merupakan acara perdana Glasanefa sebagai angkatan dan follow-up training dari Siaware. Tujuan pelaksanaan acara ini adalah untuk memberikan gambaran karir dan kegiatan bagi ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dan wahana untuk menyalurkan stressor penyebab gangguan jiwa melalui kegiatan bersenang-senang namun bermanfaat,” jelas Rizal Agustin selaku ketua pelaksana. Rizal menjelaskan pesan yang terkandung dibalik  tajuk acara ini. “Saya dan teman-teman ingin menciptakan satu hari bersama ODGJ yang penuh dengan kegiatan menyenangkan untuk melepaskan beban mereka. ‘Beautiful minds’ disini terinspirasi oleh sebuah film mengenai seorang skizofrenia yang terus berkarya.”

 

Talkshow Pembangun Jiwa bagi ODGJ

Glasanefa menghadirkan empat pembicara dalam tiga sesi berbeda, namun memiliki satu tujuan yaitu untuk pembangunan karakter ODGJ. Sesi pertama diisi oleh Dhini Andriani, S.Psi, M. Psi. Pada sesi ini dibahas mengenai keterampilan sosial bagi ODGJ untuk bersosialisasi ke masyarakat. Beberapa keterampilan sosial yang diperkenakan dan wajib dikembangkan oleh ODGJ adalah mendengarkan, bertanya dan meminta, menyapa dan berkenalan, mengekspresikan emosi, membangun relasi, berbicara, mengatasi stress, menjaga kesehatan dan kebersihan, serta mengatasi konflik. Keterampilan-keterampilan sosial tersebut dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mental, fisik, dan sosial ODGJ yang akan berdampak pada kesehariannya. Bagi ODGJ, beberapa hal ini cukup berat untuk dilaksanakan karena besarnya kecemasan (anxiety) yang dirasakan oleh ODGJ. Dhini menekankan bahwa ODGJ harus berani mencoba melakukan keterampilan sosial tersebut, karena keterampilan tersebut adalah langkah awal sosialisasi yang baik. Pemaparan ini diperkuat pada sesi kedua yang diisi oleh Fauzi Noerwenda.  Fauzi, pada sesi ini menekankan pentingnya bersosialisasi dengan orang baru sebgai latihan. “Pentingnya silaturrahmi adalah menjadi gerbang kebahagiaan dan membuka pintu rezeki. Bagaimanapun kitalah yang mmeilih untuk menjadi bahagia. Kita harus bahagia. Maka dari itu, kuncinya adalah jangan takut dan berani membuka diri,” ujar Fauzi menyemangati.

Fauzi menekankan bahwa beberapa cara berkenalan dengan orang lain adalah matching (mencari kecocokan dengan seseorang melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan) dan meniru gerakan tubuh orang lain.

Sesi terakhir, yang paling istimewa, diisi oleh dua survivor ODGJ: David W. Rehatta (wirausahawan) dan Mirna Ashfriyanti. Pada sesi ini, David dan Mirna memaparkan pengalaman mereka saat menghadapi berbagai tekanan dan tantangan sebagai ODGJ. Pada awalnya, David bahkan distigmakan sebagai ‘orang gila’. Tapi, hal ini tidak membuat David mundur. “Stigma masyarakat menuduh ODGJ sebagai orang gila. Ini tugas kita. Mungkin masyarakat menilai kita sebagai orang gila, tapi buktikan kita adalah orang gila yang berkarya,” tegas David. Untuk berkarya, maka harus berani mencoba, terutama berinteraksi dan mengomunikasikan ide kepada orang lain.

Mirna mengawali pemaparannya dengan cerita mengenai seorang gadis survivor ODGJ yang bahkan pada masa kecilnya mengalami bully karena mampu melihat apa yang orang lain tidak lihat. Namun, gadis ini tergolong  beruntung karena dukungan yang besar dari keluarganya. Kakak sang gadis senantiasa mengingatkannya bahwa penyakit (gangguan jiwa) ini bukan musibah, namun sebuah ujian dan pembelajaran bagi manusia lainnya. Hal inilah yang membuat Mirna menjadi pribadi yang lebih positif pada masa ini.

David adalah seorang survivor Skizofrenia Afektif, dan Mirna adalah survivor bipolar. Keduanya memang sempat down ketika mengetahui kondisi masing-masing, namun berhasil bangkit karena dukungan keluarga dan inspirasi dari beberapa tokoh. Mike Shenoda dari Linkin Park, Eminem, dan Amber J. Liu adalah beberapa tokoh yang ‘menemani’ proses perubahan Mirna. Ketiga tokoh tersebut memiliki latar belakang yang mirip dengan Mirna, namun tetap mampu tersenyum dan menebar kebahagiaan kepada penggemarnya. “Selain mereka, kakak saya juga merupakan caregiver yang setia walau dia juga sakit,” jelas Mirna sambil tersenyum. Saat ini, Mirna menekuni dunia musik indie dan memproduksi beberapa lagu bertema perjuangan. “Tapi salah satu personilnya sedang keluar, jadi agak ke-pending dulu,” jelas Mirna lagi.

Pada sesi hiburan, Mirna berkesempatan menyanyikan lagu berjudul “Safe”. Lagu ini merupakan campuran pop dan rap. “Inti lagu ini adalah untuk menjawab kegelisahan mereka yang merasa negatif terhadap dirinya. Kamu sudah aman, jangan takut lagi,” Paparnya.

Lain Mirna, lain halnya dengan David yang mengidolakan tokoh Mr.Bean yang diperankan oleh Rowan Atkinson. “Mr. Bean sebenarnya berada dalam gangguan mental yang cukup parah. Namun, Ia tetap percaya diri dan tersenyum. Bertingkah sekonyol apapun, Ia tetap membuat orang tertawa,” jelasnya.

David kini menjalankan wirausaha kuliner, yaitu coklat diet. “Rasanya manis tanpa tambahan gula,” promosinya. Cokelat ini dijual dengan harga yang relatif murah, tiga puluh lima ribu per toples. David memang telah berkecimpung di dunia wirausaha sejak SD. “Dulu saya berjualan permen dengan harga dua kali lipat dari harga beli, maklum anak kecil yang ingin punya uang saku,” paparnya sambil tersenyum.  David sendiri mengisi waktunya dengan melakukan berbagai hobi dan kegiatan. “Ada saja ide yang hadir. Bahkan seminggu saja saya bisa merombak kamar hingga tiga kali. Saya juga hobi menggambar. Apa pola yang hadir, langsung saya gambar. Apapun gagasan yang hadir, tanpa menunda, langsung saya kerjakan,” jelas David yang menyandang Skizofrenia afktif. Salah satu berkah pada penyandang sikzofrenia afektif adalah  ide yang terus bermunculan bak air bah, namun saling tumpang tindih. Untuk itu penting untuk mengeksekusi ide tersebut secepat mungkin.

 

Mengenal Baik Bipolar dan Skizofrenia

Masyarakat sering salah paham mengenai kepribadian ganda, bipolar, dan skizofrenia sendiri. Oleh karena itu, penulis meminta klarifikasi dari pihak BCI (Bipolar Care Indonesia) simpul Bandung mengenai ketiga hal ini.

“Setidaknya ada 54 gangguan jiwa di seluruh dunia yang berhasil diklasifikasi. Beberapa memiliki ciri yang mirp, seperti depresi, euforia, dan lain-lain. Akan tetapi, psikiater memiliki cara dalam membedakannya, salah satunya melalui pemantauan berkala,” jelas Putri Nur Padilah Salma, S.Psi, wakil ketua BCI simpul Bandung. Menurut Andri Suradman Toena, S.Sn, ketua BCI simpul Bandung, bipolar adalah gangguan kejiwaan yang ditandai dengan perubahan mood yang sangat fluktuatif dan cepat. Hal ini mengganggu keseharian penderita dan lingkungannya. Untuk mendeteksinya digunakan tes MMPI dan konsultasi ke pskiater secara berkala, karena bipolar memiliki tiga tipe yang dapat dibedakan berdasarkan durasi fase manik (euforia) dan depresi. Tipe I adalah bipolar dengan fase manik dominan, tipe II adalah bipolar depresi dominan, dan tipe III adalah tipe campuran. Sebagai informasi, jumlah ODGJ bipolar Indonesia per 2017 mencapai 2% dari penduduk Indonesia. Kini, 1 dari 4 warga Indonesia adalah Bipolar.

Skizofrenia sendiri adalah gangguan kejiwaan yang ditandai dengan adanya delusi/ waham/ bisikan yang dialami penderita dan bersifat mengganggu karena frekuensi yang tinggi. “Kadangkala seseorang yang skizofrenia mampu mendengar bisikan dari puluhan ‘sumber sekaligus,” jelas Putri. Penderita skizofrenia memiliki dunia lain yang tidak dipahami oleh orang normal. Salah satu penyebab  sekaligus faktor yang memperparah skizofrenia adalah maltreatment dari masyarakat yang menstigmakan penderita sebagai orang yang tidak waras, sehingga meningkatkan stressor penderita dan memperparah kondisinya.

Sedangkan kepribadian ganda adalah kondisi yang jelas: sang penderita memiliki dua kepribadian, dan masing-masing kepribadian tidak mengetahui apa yang dilakukan kepribadian lainnya akibat adanya demensia pada fase peralihan pribadi. “Jadi, jika ada yang mengaku dapat mengingat perbuatannya saat jadi pribadi lain, orang tersebut hanya mencari perhatian. Mereka butuh kasih sayang,” jelas Andri.

Andri dan Putri berpesan kepada masyarakat untuk menghentikan pemberian stigma negatif, terutama yang berujung kepada bully kepada ODGJ. ODGj juga manusia, sama seperti kita. Berbeda dengan cacat fisik yang masih dapat dihadapi dengan tegar terutama bagi penderita dengan mental yang kuat, cacat mental jauh lebih mengerikan karena efeknya lebih besar akibat sifatnya yang lebih abstrak dan kadang tidak mampu dimaklumi dengan mudah.

“Kenapa pada lagu Indonesia Raya ada bait ‘Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya’? Sesungguhnya leluhur kita telah memproyeksikan pembangunan apa yang terpenting bagi rakyat di masa depan. Ialah pembangunan jiwa, pembangunan mental. Tidak hanya bagi ODGJ saja, namun untuk seluruh masyarakat. Untuk menerima dan menghargai perbedaan,” ujar Andri menutup pembicaraan.

*

*

Top