Sebuah Kesaksian di Masjid Lautze dan Bangunnya Muallaf Care

Pengurus Masjid Lautze.

Pada salat Jum’at kemarin saya berkesempatan untuk mengabadikan momen berharga di Masjid Lautze Bandung. Sebuah masjid yang berada di Jalan Tamblong, Bandung ini sungguh menarik perhatian. Selain kental dengan budaya Cina dan keturunannya, Masjid ini cukup kecil yang bisa disebut sebesar mushalla mall. Tapi, jamaah Jum’atan tidak pernah sepi. Jalan Tamblong sejak beberapa menit sebelum adzan Dhuhur berkumandang akan ditutup untuk sementara.

Masjid yang berada di tengah ruko ini memasang tenda hingga para jemaah berhamburan ke jalan untuk menunaikan Salat Jum’at. Motor dan mobil pun parkir di trotoar hingga ke Hotel Istana, sebuah hotel yang bersebelahan dengan Masjid ini. Ibu-ibu sibuk membawa makanan ringan seperti kue basah yang siap dibagikan kepada para jama’ah Jum’at.

Momen ini terus bergulir di setiap Jum’atnya. Namun, ada yang berbeda pada Jum’at (8/12/2017) lalu. Seorang lelaki asal Palembang siap bersyahadat di depan para jama’ah. Namanya Hendi Oktovianto. Diajak kakaknya ke Bandung dan memulai dunia kerja di tanah Pasundan. Selama ia berkuliah di Palembang dan bekerja di Bandung, rata-rata temannya adalah muslim. Setiap lima waktu teman-temannya menunaikan ibadah Salat dan berwudhu sebelumnya. “Merasa kayak nyaman dilihat, merasa lebih tenang, wudhu itu merasa lebih bersih,” ungkap sarjana ekonomi itu.

Sudah memiliki getaran hati untuk berpindah keyakinan ketika tinggal di Bandung. Ia semakin yakin karena bertemu teman-teman kerja mayoritas muslim hingga ia pun bertemu dengan Koko Rahmat. Koko Rahmat, ketua DKM Masjid Lautze Bandung. “Ini masjid keturunan juga, jadi lebih nyaman lagi,”.

Hendi (kiri) dan Ustadz Maman (kanan).

Penerimaan Hendi di lingkungannya bagai gayung bersambut. Ia makin mantap untuk berikrar di hadapan Allah dan umat muslim lainnya. Apalagi saat ia diajak temannya untuk ke Masjid Lautze. Ia merasa senang karena di Lautze ia menemukan teman-teman yang memiliki keturunan sama.

Sebelum bersyahadat pada Jum’at (8/12/2017) lalu, Hendi telah belajar tata cara wudhu dan shalat serta penyampaian mengenai Tauhid oleh Koko Rahmat. Selama 5 hari ia sudah dibimbing sebelum waktu bersyahadat tiba di depan para jama’ah Jumat di Masjid Lautze.

Masjid yang tak lebih dari seukuran mushalla itu masih penuh meski jamaah Jum’at lain sudah meninggalkan area masjid. Semua mengerubuni Hendi dan mantan ketua umum Persis, Ustadz Maman Abdurrahman yang akan membimbing syahadat lelaki kelahiran 1988 ini.

Hendi sedang bersyahadat di depan Ustadz Maman.

Proses ikrar ini berlangsung khidmat. Meski Hendi terbata-bata, Maman terus membimbing dan mengulangi ucapan syahadat hingga benar-benar sempurna. Tangan Hendi dan Maman yang bersalaman selama prosesi, puluhan saksi yang turut melihat dan mendoakan, Masjid Lautze sebagai saksi atas keagungan hidayah Allah SWT. Akhirnya Hendi telah resmi menjadi seorang muslim. Koko Rahmat dari DKM Masjid Lautze dan Riki Ramdhani dari Manajer Program Rumah Amal Salman menandatangani surat pemindahan agama sebagai saksi Hendi menjadi seorang muslim.

Maman dengan santai memberikan petuahnya untuk menjadi seorang muslim. Gelak tawa tak jarang menghangatkan suasana ruangan bernuansa merah dan kuning itu. “Segala perbuatan baik yang dilakukan olehnya sebelum masuk Islam akan dicatat sebagai amal baik,” tegas Maman.

“Saya yakin waktu belajar perbedaan tentang ajaran saat saya baca-baca. Pas dijelasin oleh Ko’ Rahmat juga sama. Soal perbedaan tuhan itu satu, gak ada kedua dan ketiga,” ucap Hendi. “Saya ingin berpesan juga untuk para muallaf, setelah jadi muallaf jangan tidak diteruskan belajarnya. Setelah masuk Islam, eh udah ditinggal saja,” tutupnya mengakhiri perjumpaan siang itu.

Muallaf Care, Program Setiap Ahad di Masjid Lautze

Rahmat Nugraha, Ketua DKM Masjid Lautze yang lazim dipanggil Koko Rahmat menjelaskan pada saya mengenai Muallaf Care yang dijalankannya. Program muallaf care yang diadakan setiap Ahad mengadakan pembinaan kursus mandarin sejak pukul 10.00-12.00. Siangnya pukul 12.00-15.00 ada pembinaan muallaf bekerjasama dengan lembaga Tarqi untuk bisa lancar baca Alquran dan pemahaman ilmu seperti tauhid, aqidah dan akhlaq.

“Pukul 15.00  ada nasyid irama mandarin. Nasyid islam berirama mandarin yang digelar  sebulan sekali. Apabila dalam satu bulan ada 5 pekan, maka pekan ke 5 kita mengadakan rihlah atau tadabbur alam. Mualaf yang kita bina kita ajak bareng-bareng,” katanya. Rencananya, sekitar bulan Februari 2018, pengurus Masjid Lautze akan mengadakan pesantren kilat 3 hari 2 malam di Cikole, Lembang.

Bicara kuantitas muallaf, selama kepengurusan 2017 Masjid Lautze telah menjadi saksi atas 25 orang muallaf. Selain itu, ada 3 sampai 4 orang yang tengah menanti untuk bersyahadat. Pada hari Ahad (10/12/2017) lalu pun ada Koko Willy yang telah bersyahadat. “Insya Allah, bulan Januari nanti ada Koko Dede akan ikrar. Juga ada Koko Ari dan Koko Irfan,  kalau hatinya Allah lembutkan, hanya hitungan waktu mereka akan syahadat di Lautze,” kata Ko’ Rahmat seraya mengeluarkan ayat bahwasanya sungguh hidayah Allah akan datang kepada siapa yang Ia kehendaki. Bagi Ko’ Rahmat, ada 1001 jalan dan cara bagaimana Allah berikan hidayah.

Pembinaan di Muallaf Care akan diberikan pengajaran mengenai kristologi, hidayah menurut Alquran, serta tata cara wudhu dan salat. Pengajarnya adalah pengurus dari DKM Masjid Lautze sendiri. Sementara Koko Rahmat menjadi pengajar mengenai hidayah Alquran.

Rumah Amal Salman Berkolaborasi Untuk Bangun Muallaf Care

Hendi, Maman dan Riki (Manajer Program Rumah Amal)

Rumah Amal Salman menjadi lembaga yang mendukung Masjid Lautze dalam setiap pembinaan para muallaf. Setiap orang yang bersyahadat di Masjid Lautze, Rumah Amal Salman memberikan bingkisan berupa Alquran dan alat salat, santunan untuk muallaf, serta biaya khitan untuk laki-laki. Rumah Amal Salman sudah bekerjasama dengan Masjid Lautze untuk setahun ke depan dari bulan Oktober 2017 hingga Oktober 2018 mendatang.

“Kami menjadi bagian dari supporting penyerapan zakat melalui asnaf muallaf. Berdasarkan kegiatan mereka, kami dukung melalui dana untuk pembinaan Muallaf. Muallaf Care sudah berjalan namun belum optimal, hanya irisan-irisannya saja yang baru kita support. Misalnya bantu renovasi dan penyewaan gedung ini,” papar Riki Ramdhani, Manajer Program Rumah Amal Salman.

Riki menjelaskan bahwa Masjid Lautze dari karakteristiknya bisa meraih calon muallaf yang rata-rata chinese dan keturunannya. Dampak positifnya mereka mudah untuk berbaur sejak dulu kepada para calon muallaf. Maka dari itu Rumah Amal Salman mendukung setiap kegiatan yang dilakukan oleh Lautze khususnya mengenai pembinaan Muallaf.

“Apalagi soal khitan kan biayanya mahal untuk khitan orang dewasa di atas satu juta. Jadi setiap ada muallaf baru, kapanpun ia siap dikhitan maka kami langsung dukung biayanya,” ujarnya.

Masjid Lautze sendiri berharap untuk menarik jamaah di sekitar lingkungan masjidnya sendiri, khususnya non muallaf. Koko Rahmat menerangkan bahwa DKM telah menjembatani warga sekitar Braga untuk aktif di Masjid Lautze. “Setiap hari Sabtu siang ada tadabbur Alquran. Ba’da Ashar hingga Maghrib pun ada kajian juga untuk seluruh warga. Alhamdulillah sudah ada 18 sampai 20 orang beserta anak-anaknya hingga 15 anak yang datang ke sini. Kami berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada non muallaf juga,” harapnya.

 

 

One Comment;

*

*

Top