‘Alihkan Kiblat’ Bersama Baris Baru Imam Salman

Barisan Imam Muda Salman

Walaupun kiblat ummat Islam tetaplah Ka’bah, ada banyak poros pergaulan yang mampu mengalihkan ummat dari indahnya berislam dengan benar. Imitasi menjadi salah satu proses yang mempengaruhi hal ini. Imitasi menurut Robert Le Vine, seorang ahli antropologi, adalah  proses peniruan dalam belajar yang selalu memerlukan tauladan. Ada beragam parameter bagi seorang manusia dalam menentukan tauladannya: popularitas, preferensi pribadi,  kesamaan pemikiran, ideologi, karakter, bahkan kesamaan latar belakang. Semakin banyak kesamaan tersebut, maka semakin besar kesetiaan seorang manusia terhadap idolanya. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud  yang selalu berada didekat Rasulullah, tanpa disadari Ia telah menirukan gaya Rasulullah berjalan. Tatkala melihat boyband Korea, ada kebahagiaan dan kekaguman ketika melihat tarian patah-patahnya. Sekali beberapa waktu, kita menyempatkan untuk menonton dan menirukan gayanya. Mendownload video dance practice, men-subscribe akun-akunnya, membeli aksesorinya, hingga berbicara dengan gaya sepertinya.

Dari kampung ke kota, segala profesi dan usia, pengejawantahan makna idola mengacu pada tokoh-tokoh dari negeri ginseng, negeri matahari terbit, dan negara-negara barat. Padahal sebagian besar negara-negara tersebut tidak menggunakan Islam sebagai ideologi dan dasar pedoman bertindaknya. Kiblat pemuda, aset masa depan peradaban Islam, beralih secara perlahan dalam sebuah langkah yang cantik. Adalah 4F, bumbu rahasia yang berhasil memisahkan muslim dari kewajiban-kewajibannya sebagai muslim yang sempurna: Fun, Film, Fashion, dan Food. Tidak hanya muslim, bumbu-bumbu ini berhasil memisahkan umat beragama dari agamanya. Akibat ‘kemewahan’ dan kebahagiaan dunia yang ditawarkan secara halus, nilai-nilai agama dinilai sebagai ‘kuno’, ‘konservatif’, dan ‘tidak berkembang’.  Setelah 4F berhasil menimbulkan perasan ilfeel, mulailah dimasukkan muatan perang pemikiran yang ampuh dalam menghancurkan pondasi pemahaman yang telah goyah.

‘Mengalihkan Kiblat’. Sebuah frasa yang mengandung harap dan doa, lahir dari akumulasi kekhawatiran atas krisis tauladan di kalangan pemuda. Harap itu muncul saat Muzammil Hasballah, pemuda lulusan Arsitektur ITB 2011 muncul di YouTube sebagai seorang tokoh pemuda cerdas  yang hafizh Qur’an dengan bacaan yang indah. Pada kemunculannya terjadi pergeseran sosok panutan pemuda. Hal ini juga didukung oleh perkembangan channel dakwah  yang bersifat “gue banget” lainnya seperti Pemuda Hijrah, The Murabbians, dan komunitas-komunitas Hijabers. Prestasi Muzammil dalam dunia qiraatil Qur’an membawanya hingga kancah internasional. Tawaran demi tawaran menghampiri Muzammil yang juga dibesarkan oleh Masjid Al-Lathif, Bandung. Dibawah nama Ammar TV, berbagai publikasi rekaman Muzammil dihasilkan dan didistribusikan secara maya. Menyusul Muzammil ada banyak nama yang bermunculan seperti Taqy Malik, Ibrahim Elhaq, Salim Bahanan dan lain-lain. Masing-masing menawarkan bacaan qiraat dengan khas masing-masing, namun kesamaannya adalah bacaan dengan maqamat dan tajwid yang baik dan indah.

Sebagai salah satu institusi dakwah yang bertekad menjadi titik awal peradaban, Salman memandang ini sebagai suatu peluang dalam melebarkan sayap dakwah. Hal inilah yang menggagas Agus Alhusna, salah satu imam salman pentolan UPTQ (Unit Pengembangan Tilawatil Qur’an), menggagas program Beasiswa Imam Muda Salman.

“Bekerjasama dengan Rumah Amal Salman, Imam-Imam muda yang akan dicetak diharapkan dapat menjadi figur motivator untuk mengembalikan pemuda-pemuda kebanggaan Islam ke masjid, mengembalikan kecintaan pemuda pada Al-Qur’an, sekaligus menjadi  role model  bagi pemuda-pemuda masa kini,” ujar Agus dalam Soft Launching Beasiswa Imam Muda Salman pada (8/12), seusai Isya’.

Saat pendaftaran beasiswa ini dibuka, antusiasme pemuda melebihi ekspektasi. 1004 peserta dari seluruh Indonesia mengikuti tes administrasi dengan mengirimkan video murattal. Juri harus berusaha keras dalam tahap ini karena jumlah peserta direduksi menjadi 40 orang. 40 orang terpilih ini direduksi menjadi 20 orang melalui seleksi tajwid, maqamat, dan wawancara.  Adapun 20 orang baris baru Imam Salman tersebut terdiri atas 14 mahasiswa ITB (Syihabuddin, Syahril Sulaiman, Raffandy Tryanda, Rafi Refinaldi, Abdullah Ivan F., Muhammad Idham Alwi, Muhammad Hilmi, Herianto, Farros Ahmadipraja, Farhan Makarim, Fakhruddin Arrozi, David Aditama W., Mikail Alby A., dan Agri Yazid A.), dua orang dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (Zezen Futuhal A. Dan Muhammad Luthfi K.), dan masing-masing satu orang dari UPI (Muhammad Abid), Polman (Agni Silmi Hanifudin), Al-Imarot (Fazi Futzu B. K.), dan STAI Al-Musydariah (Muhammad Rifai). Seluruh penerima beasiswa dilantik secara simbolis dengan penyematan surban oleh Drs. Imam Choirul Basri. Kelak 20 Imam muda ini akan mendapatkan pelatihan intensif Kealqur’anan dari Salman ITB.

Imam C. Basri mengalungkan sorban tanda pelantikan Imam Muda Salman.

Muzammil Hasballah; Sebab-Sebab Mencintai Qur’an

Mendahului sesi pelantikan, terlebih dahulu diberikan motivasi mencintai qur’an oleh Muzammil Hasballah. Muzammil mengutip beberapa fakta dari ayat terkait mengenai sebab-sebab kenapa seorang muslim harus mencintai Al-Qur’an. Pertama, Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang tinggi, karena merupakan kalam langsung dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Tidak ada satupun kitab di muka bumi yang dapat menandinginya. Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat kompleks, dan bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Ilahi yang diterjemahkan menjadi bahasa Arab yang mampu menjelaskan sesuatu dengan detail. Kedua, pada QS Al-Baqarah ayat 2 disebutkan bahwa Al-Qur’anlah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa.

Muzammil menjelaskan, pada ayat ini dalam terjemah terbitan Kementerian Agama, ‘Dzaalika’ yang berarti ‘itu’, diterjemahkan sebagai ‘ini’. Hal ini tidak berarti sebagai kesalahan, namun tafsir memuat ringkasan bagi keseluruhan makna Al-Qur’an. ‘Dzaalika’ berasal dari kata ‘Haadza lika’. ‘Ini’ mengacu pada ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dalam Al-Qur’an. Ayat Al-Qur’an akan mendekatkan manusia kepada Allah jika maksud Allah tertangkap oleh manusia, dengan membaca tafsirnya. “Haadza” berarti ini, dan “Li Ka” mengacu pada “Sisi Allah”; memberi makna bahwa Kitab (Al-Qur’an) diturunkan dari sisi Allah, untuk selalu dibaca dan diperdengarkan terus menerus.

Penggunaan kata “Rayba” untuk keraguan juga memiliki alasan, karena ragu diartikan sebagai “Sya’” dalam bahasa Arab. “Rayba” bermakna ragu dan menuduh, karena saat itu Rasulullah dituduh sebagai seorang pendusta dan gila, padahal sebelumnya beliau adalah Al-Amin, yang dapat dipercaya. Sejenis ragu yang berganda: ragu pada kebenaran Al-Qur’an dan ragu pada kerasulan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Al-Qur’an, kitab yang diturunkan langsung dari sisi Allah ini membantah keraguan dengan gamblang dan menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Hal ini sesuai untuk menghadapi lingkungan akademis yang berat; mematahkan keraguan-keraguan yang muncul dari logika saintifik, sebuah logika tinggi yang tetap saja tidak dapat mengejar nilai-nilai ilahiyat. Menegaskan fakta ini, pada ayat ketiga surat Al-Baqarah terdapat definisi taqwa, yaitu orang yang beriman pada yang ghaib (tak dapat dideteksi indera), melaksanakan shalat, dan menyisihkan sebagian harta bagi yang membutuhkan.

Ketiga, semua yang terlibat dalam turunnya Al-Qur’an adalah sesuatu yang mulia. Secara waktu, Al-Qur’an diturunkan pada malam Laylatul Qadar yang mulia, pada bulan Ramadhan. Malaikat Jibril yang menurunkannya adalah malaikat yang mulia, diterima oleh Rasulullah, manusia yang mulia; dan diturunkan pada dua kota yang mulia: Makkah dan Madinah. “Maka seharusnya orang yang sering berinteraksi dengan Al-Qur’an, insya Allah akan menjadi orang yang mulia,” ujar Muzammil menyimpulkan. Keempat, sebaik-baiknya interaksi dengan Al-Qur’an adalah menjaganya (hafzhil qur’an), maka untuk membacanya, mempelajari Al-Qur’an menjadi sebuah kewajiban. “Allah menjanjikan dalam surat Al-Qalam sebanyak empat kali bahwa Al-Qur’an dijadikan mudah bagi Allah,” tandas Muzammil.

Muzammil memberikan pengingat dalam sharing tersebut. “Kecintaan pada Al-Qur’an menjadi penunjang keimanan pada Al-Qur’an, dan keimanan pada Al-Qur’an menentukan bagaimana kita mengamalkan Al-Qur’an pada saat bersamaan. Maka penting untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur’an untuk memperbaiki iman kita,” ujarnya.

Pada sesi ini, Muzammil menekankan bahwa tidak ada alasan untuk tidak membela Al-Qur’an dan Islam.  Membela Islam berarti menyebar kebaikan dan manfaat kepada semesta alam. Membela Islam, berarti mendirikan peradaban berdasarkan nilai Qur’ani dengan memperhitungkan segala aspek, termasuk aspek politik yang sering dijauhi oleh aktivis Islam.  Jika ekspansi nilai Qur’ani tidak menyentuh semua aspek kehidupan, maka nilai-nilai Islam tidak dapat diterapkan dan akan tersudutkan, sehingga  peradaban Islam yang menjamin keamanan dan kesejahteraan bagi umat manusia tidak dapat diterapkan.

*

*

Top