Menghidupkan Kembali Api Kepahlawanan Pemuda

sumber gambar : www.beritametro.news

 

“(Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan” QS Ash-Shu’ara’: 83 – 84

 

10 November dipilih sebagai Hari Pahlawan karena pada hari itu pasukan Indonesia melakukan perang pertama dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kejadian itu menjadi satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. Momentum peperangan di Surabaya, Jawa Timur menjadi legitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam sebuah perjuangan melawan agresi militer. Pada saat itu para pejuang hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya menggunakan bambu runcing. Namun hal itu tidak menjadikan para pejuang kita gentar untuk melawan penjajah. Salah satu tokoh kunci yang terkenal pada saat perjuangan itu adalah Bung Tomo yang mampu memekikkan takbir sebagai semangat perjuangan rakyat.

Jadilah pemuda yang memiliki nilai kepahlawanan

Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Oleh  karena itu, nilai-nilai kepahlawanan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pahlawan memiliki karakteristik yaitu jujur, pemberani, dan rela melakukan apapun demi kebaikan dan kesejahteraan masyarakat.  Kita dapat  berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Setidaknya harus mampu bertanya pada diri sendiri apakah rela berkorban untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Selain itu kita dapat menanyakan pula pada diri sendiri apakah keberadaan kita berarti untuk orang lain, pada situasi apakah kita dibutuhkan oleh orang lain serta pada saat apa kita dapat menjadi seorang pahlawan.  Untuk memaknai hari pahlawan ini, kita dapat mengupayakan sesuai dengan apa yang termuat dalam QS Ash-Shu’ara’ ayat 83 – 85, yakni berkumpul dengan orang-orang saleh, bertutur kata yang baik, dan mempusakai surga.

 

Membangun generasi

Untuk melahirkan generasi yang berintegritas agar bermanfaat bagi bangsa, kita dapat melihat sejarah masa lalu, memantapkan diri pada keyakinan dan kepercayaan, serta mempersiapkan masa depan kita dengan sebaik mungkin. Namun sebelum itu kita perlu tahu bahwa manusia diciptakan dengan berbagai potensi, salah satunya adalah sebagai khalifah. Maka dari itu kita harus memiliki integritas dan keinginan yang kuat untuk memajukan generasi bangsa terutama generasi islam. Menjadi khalifah sama artinya dengan menjadi tokoh penting dalam sejarah, yang dapat memberikan pengaruh positif dan memegang kendali atas hal tersebut. Kita harus mampu memberi makna baru atas tonggak bersejarah kepahlawanan sesuai perkembangan zaman. Menghadapi situasi seperti sekarang, diharapkan akan muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan.

Ciri pemuda yang baik

“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain” (HR.Bukhari Muslim)

Seseorang mendapatkan berkah yang melimpah dari Allah SWT jika ia dapat hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.  Dengan begitu ia dapat bermanfaat untuk orang lain. Manusia yang baik mempunyai ciri seperti: mempunyai iman, teguh dalam pendirian, tekun, berkeinginan yang kuat, berani dan pantang menyerah. Ciri pertama yang utama dan tidak dapat dihapuskan adalah mempunyai iman. Seseorang dikatakan baik jika ia mempunyai iman yaitu keyakinan dalam hati, perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat terutama atas perintah-perintah Allah SWT.

Menghargai jasa pahlawan bukan hanya dilafalkan di lisan atau hanya berbentuk seremonial belaka dengan mengheningkan cipta pada upacara bendera. Menghargai jasa para pahlawan adalah pertama mula meluruskan niat membangun bangsa dengan bekal kemampuan berpikir, pengelolaan diri, pengelolaan tugas, serta pengelolaan manusia agar dapat mencapai tujuan bangsa Indonesia dan menjadi pemuda-pemuda Indonesia yang tergolong khairunnas.

 

-Disarikan dari kajian malam Mabit Ashabul Qur’an Feat Gerakan Subuh Jamaah Nasional oleh Ir. Syamril, M.Pd-

(Detika Astri Sukasah)

*

*

Top