Di Balik Pekik Takbir Bung Tomo

Bung Tomo menjadi sosok yang melekat dalam memori bangsa Indonesia khususnya umat muslim. Beliau adalah salah satu aktor penggerak para pejuang dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pria bernama asli Sutomo ini sukses membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk melawan tentara Inggris dan NICA-Belanda, yang ingin kembali menduduki Tanah Air setelah kekalahan Jepang.

Pria kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920 ini terkenal mahir berorasi. Telah beliau buktikan melalui corong Radio Republik Indonesia (RRI), beliau mendorong gelora perlawanan pejuang di Surabaya. Allahu Akbar! Merdeka! Itulah pekik keramat yang disisipkan Bung Tomo dalam pidatonya.

Menguak Psikologis Bung Tomo

Putra Kartawan Tjiptowidjojo ini boleh saja tak lulus MULO atau pendidikan setingkat SMP. Namun, analisa psikologis Bung Tomo patut diacungi jempol. Bung Tomo yang kala itu masih berusia 25 tahun tahu betul, para pejuang bukan hanya datang dari Surabaya. Ribuan orang telah datang ke kota itu untuk tujuan yang sama yaitu berjuang mengusir penjajah. Kematangan berpikir sudah beliau raih pada usia belia.

Dalam disertasi William H. Frederick, “In Memoriam: Sutomo” yang diterjemahkan dengan judul Bung Tomo: Pandangan dan Gejolak (1979) menyebutkan, pekik takbir dilakukan setelah melalui perhitungan psikologis yang cukup matang. Bung Tomo tak ragu menggunakan takbir sebagai senjata ampuh karena beliau cukup tahu bahwa pejuang yang terjun di lapangan adalah kalangan santri yang sebagian besar datang dari luar kota. Faktanya, pidato menggelora Bung Tomo membuat semangat heroisme para pejuang di lapangan semakin mantap. Sebab, dalam tradisi Islam, penggunaan takbir untuk mempertahankan tanah air sama halnya dengan panggilan suci bagi kaum Muslim di Surabaya dan sekitarnya untuk bahu-membahu menghadapi musuh bangsa. Beliau sadar siapa lawan para pejuang. Tentara-tentara Eropa itu dilengkapi senjata modern era itu. Sehingga, dia berusaha membuat bara dalam jiwa setiap pejuang di Surabaya.

Jihad Melawan Penjajah

Fakta berikut ini memperjelas mengapa Bung Tomo memilih pekik takbir sebagai kata pendobrak dalam pidatonya. Sebelum 10 November itu, ternyata Bung Tomo menemui KH Hasyim Asyari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama. Dia meminta izin membacakan pidato yang merupakan manifestasi Resolusi Jihad yang sebelumnya disepakati oleh para ulama NU.

Presiden Sukarno mengirim utusan untuk menghadap Kiai Hasyim. Melalui utusan itu Sukarno menanyakan hukum berjuang membela negara. Dan para kiai NU menyatakan berjuang demi negara adalah jihad. Seperti firman Allah SWT:

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [At-Taubah/9: 41]

Kontan saja, setelah resolusi itu ribuan santri dan kiai bergerak menuju Surabaya untuk berjuang. Tiba lah hari yang bersejarah bangsa Indonesia, Bung Tomo naik ke atas pangung. Dengan penuh semangat berpidato, membakar semangat para pejuang di Surabaya. Menyeru segenap anak bangsa untuk mempertahankan tanah airnya.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka! Itulah pekik Bung Tomo dalam pidato legendaris di Surabaya yang hingga saat ini dikenang oleh bangsa Indonesia. (Detika Astri Sukasah)

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/3864-jihad-amalan-yang-paling-utama.html

 

Related posts

*

*

Top