Menumbuhkan Karakter Islami “Kids Zaman Now”

Problematika publik tengah merasakan riuhnya pembahasan mengenai anak muda zaman sekarang, atau “kids zaman now”. Semua media sosial seperti menertawakan suramnya masa depan mereka, tak segan pula mengutarakan kebencian dengan  mengutarakan kata “generasi micin” misalnya.

Apakah kita lupa bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa, cikal bakal mereka menjadi sekarang juga tidak semata-mata murni karena tingkah mereka sendiri. Banyak hal yang mempengaruhi kepribadian mereka. Perlu diingat pula bahwa kelemahan karakter mereka bisa jadi karena kurangnya perhatian “kids zaman old” atau generasi pencetak sekarang. Sudahkah anda sebagai generasi lama, mengantarkan perhatian kepada generasi masa kini?

Berbeda dengan zaman dulu yang terkesan kuno bagi remaja masa kini. Maka penekanan “pendidikan” perlu adanya pembenahan untuk menangkal budaya hedonis yang melingkupi segala aspek kehidupan mereka. Maka peran siapakah itu? Jika bukan kita para “generasi zaman old” lalu siapa lagi?

Kemana orang tua?

Fenomena menggemparkan publik jagat maya tersebut sebenarnya perlu mempertanyakan peran orangtua, apakah mereka tidak bisa mendidik dengan baik atupun setidaknya mengetahui anaknya mempunyai perilaku hedonis yang membahayakan. Apakah para orang tua masa kini tidak menyadari atau bangga anaknya menjadi selebgram, youtuber dan budak-budak teknologi yang tidak membawa maslahat bagi umat.

Anak adalah anugrah sekaligus amanah yang diberikan Allah SWT kepada setiap orang tua. Anak yang dilahirkan ibarat lembaran kosong, putih, bersih, dan fitrah, maka orang tuanyalah yang berperan menulis apakah dalam lembaran kosong tersebut. Bekal yang dibawa semasa kecil akan berdampak besar pada karakter seseorang ketika menginjak usia dewasa.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa sedikitnya ada dua hal yang mempengaruhi kepribadian anak ketika menginjak usia dewasa yaitu, orang tua yang melahirkannya serta lingkungan yang membesarkannya.

“setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat dia (memiliki karakter) yahudi, atau (memiliki karakter) nasrani atau (memiliki karakter) majusi” – HR. Muslim

Semua orang tua mendambakan buah hatinya menjadi insan yang berguna, maka sangat penting menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini, dengan pendidikan Islam anak menjadi mengerti akan pentingnya mengatur dirinya untuk menjadi lebih baik. Sebagaimana dalam penerapan pola asuh, ada tujuh metode Nabi dalam mendidik anak:

  1. Menampilkan suri tauladan yang baik
  2. Mencari waktu yang tepat untuk memberi peringatan
  3. Bersikap adil dan menyamakan pemberian untuk anak
  4. Menunaikan hak anak
  5. Membelikan mainan untuk anak
  6. Membantu anak untuk berbakti dan menjalankan ketaatan
  7. Tidak suka marah dan mencela

Dapat dipahami bahwa menanamkan jiwa karakter melalui pendidikan islam dalam lingkup keluarga maupun sekolah, secara tidak langsung bisa menjadi benteng pertahanan buah hati dalam menghadapi zaman yang penuh dengan retorika kedepannya nanti.

 

Sumber:

Suwaid, M. N. 2012. Prophetic Parenting: Cara Nabi SAW Mendidik Anak. Diterjemahkan oleh: Farid Abdul Aziz. Yogyakarta: Pro-U Media

Related posts

*

*

Top