Sampaikan Berita Gembira ke Setiap Sekolah se-Jawa Barat

Sudut sekolah SMAN 4 Tasikmalaya. (foto : Fathia)

Saat muncul pemberitahuan siapa yang mau ikut jadi panitia roadshow beasiswa ter-hits sepanjang tahun di Salman (baca: Perintis), tanpa tedeng aling-aling saya daftarkan diri untuk ikut. Saya isi setiap pertanyaan formulirnya dengan penuh harap bahwa saya akan menjadi angin segar bagi adik-adik SMA yang tengah dilema dilanda pilihan kuliah. Ada banyak pilihan kota dan kabupaten di Jawa Barat yang menggiurkan mata. Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, ah dekat. Lalu saya pilih 3 kota yang belum pernah saya jamah. Pangandaran, Majalengka dan Karawang.

Tidak semua anak kelas 12 berminat untuk lanjut ke bangku kuliah. Bangku mahasiswa yang direbut oleh jutaan siswa dan siswi se-Indonesia. Ribuan usaha bimbingan belajar menjamur hingga ke pelosok daerah. Sudah tidak diragukan lagi katanya. Dijamin masuk PTN Favorit, kalau tidak uang kembali!

Lalu, nun jauh di sana yang tidak terdengar hiruk pikuk kota. Ada sekelompok orang yang ingin sekali mencicipi indahnya mendengar dosen berkhotbah, atau makan jajanan Bandung yang tengah membahana di pinggir Jalan Ganeca. Jikalau masuk ITB rasanya sudah menjadi orang paling pintar se-Indonesia. Lalu, mereka teringat, oh biaya hidup di Bandung pastilah mahal. Apalagi kuliah di kampus terbaik itu?

***

SMAN 8 Tasikmalaya. 

Seminggu kemudian saya diberi pesan singkat oleh panitia roadshow bahwa saya harus ikut briefing sore itu. Hujan besar pun saya terjang untuk datang. Tak disangka bahwa kota dan kabupaten yang saya pilih di atas sudah habis didatangi oleh panitia lain sebelumnya. Alhasil, tinggallah beberapa kota yang belum didatangi. Garut, Tasikmalaya, Cianjur, dan lain-lain.

“Fathia, di Tasikmalaya ya sama Lutfiani!” kata Apih, ketua panitia kegiatan ini. Tanpa pikir panjang saya katakan siap dan memulai pembicaraan kepada Lutfiani yang baru saya kenal detik itu juga.

Perjalanan menuju sekolah-sekolah.

Lutfiani pernah menempuh SMK di Tasikmalaya 3 tahun lamanya. Oleh karena itu ia memilih Tasikmalaya dan rela menerima saya menjadi partner timnya. Ya, kami hanya berdua. Langsung saja kami putuskan untuk bertemu di Dangdeur,

Dangdeur pagi hari 06.30 WIB

sebuah daerah di Rancaekek untuk menunggu Primajasa menuju Tasikmalaya. Lutfi sungguh hafal dengan seluk beluk Tasikmalaya seperti harga bus-nya, jenis-jenis bus yang kesana, hingga letak setiap SMA di Tasikmalaya. Kami kebagian 6 SMA di Tasikmalaya sehingga melaksanakan perjalanan ini selama dua hari.

SMAN 2 Tasikmalaya

Setelah kami lalui selama dua hari menjelajahi ke setiap sudut kota Tasikmalaya, kami menjumpai berbagai kearifan. Meskipun setiap sekolahnya berjauhan, kondisi setiap sekolah yang berbeda-beda, hingga berbagai penerimaan para guru dan muridnya saya merasakan ada angin segar yang menembus di setiap pembicaraan kami dengan para guru BK. Beberapa sekolah ada yang mafhum tentang beasiswa ini. Dampaknya mereka makin semangat dan terus bertanya pada kami perihal bangku kuliah.

Selain membawa angin segar yang makin segar, hal ini pun membuat rasa pesimis hadir di setiap perbincangan. Sekolahnya jarang ada yang berminat keluar Tasik, masuk ITB mungkin hanya satu orang dari setiap angkatan, atau ungkapan kekecewaan. Bukan perkara mudah untuk menghidupkan kembali rasa yang menggairahkan. Apalagi mereka seorang guru BK yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia pemilihan jurusan dan universitas.

SMAN 7 yang terletak di atas bukit dan menancap ke bawah

Saat kami bersosialisasi ke SMA Negeri 2 Tasikmalaya,  kami terjebak hujan besar hingga pukul 17.30. Bukankah hujan membawa berkah? Betul sekali. Selama tiga jam kami berdiskusi, berbincang hingga saling follow di Instagram dengan anak-anak 12 IPA 3. Dilema itu pun menjadi-jadi pada beberapa siswa. Mereka bingung ingin memilih apa dan di mana. Sungguh, apa jawaban salah satu siswi? “Aku mah jurusannya apa kata guru BK”.

Tak terbayangkan apa rasanya jadi Guru BK yang terus didatangi oleh para siswa dan orang tua siswa untuk berkonsultasi perihal ini. Bagaimana jika pada akhirnya seorang siswa menuntut ketika siswa sudah diterima kuliah lalu ia tidak kuasa? Apakah Guru BK adalah biang keroknya?

Setidaknya kami sudah membawa angin sepoi-sepoi yang menyegarkan, bukan membuat masuk angin atau hujan badai. Meskipun pada akhirnya tidak semua orang akan memperoleh Beasiswa Perintis 2.0 ini, mereka harus mengerti bahwa masih ada jalan menuju kemudahan untuk menjumpai pendidikan. Tentu perjuangan bukan hanya sampai di sini, masih ada beberapa tahapan lain yang harus ia perjuangkan supaya menerima hasil yang diidam-idamkan. Niscaya, mereka harus bersaing dengan ratusan siswa dan siswi yang sama-sama galaunya ingin kuliah dan mendapatkan beasiswa ini.

MAN 1 Kota Tasikmalaya / MAN Awipari, sekolah terjauh yang kami jamahi.

Akhirnya kami pulang ke Bandung dan telah selesai amanah untuk emban sebuah risalah. Risalah suci, yakni sebuah map berisi surat undangan kepada setiap sekolah, formulir data anak dan 3 poster Beasiswa Perintis 2.0. Semoga penghantaran ini membuat mereka semakin bercahaya dan bahagia untuk menjadikan perjuangan sebagai temannya.

Oh ya, perlu diingat. Beasiswa ini adalah beasiswa untuk mendapatkan pengajaran intensif SBMPTN layaknya bimbingan belajar di luar sana. Asyiknya, jika kamu masuk ITB, kamu akan dibiayai penuh dari biaya hidup hingga kuliah selama 4 tahun.

“Sesungguhnya, pada kesulitan itu ada kemudahan”

Related posts

*

*

Top