Kembalikan Semangat Pemuda Masa Kini di Mabit Aktivis Salman

Ibu Sumi tengah memaparkan kondisi anak jalanan di Kota Bandung

Bandung, (Salman Media) – Masjid Salman ITB kembali mengadakan salah satu kegiatan bulanan yaitu Mabit Aktivis dirangkaikan dengan Gerakan Subuh Jamaah Nasional (GSJN). Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 3-4 November 2017  yang berlangsung di ruang utama Masjid Salman ITB. Menghadirkan pembicara – pembicara hebat yang sesuai dengan tema yang diusung yaitu “Menghidupkan Kembali Api Kepahlawanan  Pemuda Indonesia” diantaranya, Ir. Syamril, M.Pd selaku Koordinator Yayasan Kalla dan Kepala SDM Kalla Group & Direktur Yayasan Sekolah Islam Athirah, dr.Dani Ferdian Founder Volunteer Doctor Bandung dan Ibu Sumi sebagai Founder Rumah Belajar Anak Jalanan Bangsa.

Kegiatan ini lebih tepatnya dimulai pada malam hari Jumat (3/11/2017) setelah melaksanakan sholat Isya Berjamaah yang diisi langsung oleh Ir. Syamril, M.Pd.  Beliau menitikberatkan materinya kepada nilai-nilai kepahlawanan yang terdapat di Al-Qur’an dan As-Sunnah, yaitu pada surah As-Syuara ayat 83-85 tentang tiga hal utama tujuan manusia.

“Tiga hal utama tujuan manusia diantaranya untuk menjadi orang – orang saleh, bertutur kata yang baik hingga nantinya masuk ke dalam surga, mengajak kepada seluruh jamaah tepatnya para pemuda yang memadati ruang utama masjid Salman untuk menjadi orang yang baik dengan berintegritas tinggi. Serta beriman dan bersikap tegar,” ucap Syamril.

Antusiasme para jamaah cukup tinggi karena pembawaan materinya menampilkan slide presentasi dan menampilkan video sehingga mudah divisualisasikan oleh para jamaah. Selain dari pemuda, berlangsung sekitar dua jam dan diselingi dengan sesi tanya jawab hingga pada akhirnya kang Syamril menutup dengan kalimat “Hidup jangan sekedar mencari makan, tetapi carilah Makna”

GSJN bertemakan “Menghidupkan Kembali Api Kepahlawanan  Pemuda Indonesia”

Setelah penyampaian materi oleh Syamril dilanjutkan dengan sesi istirahat. Setelah itu, pukul 02.00 jamaah mengikuti Qiyamullail yang diimami oleh Syihabuddin,  Mahasiswa Desain Produk ITB yang merupakan salah satu imam muda Masjid Salman ITB. Lantunan ayat suci oleh Syihabuddin membawa suasana subuh yang begitu tenang hingga dilanjutkan dengan Shalat subuh berjamaah.

Dani Ferdian : Mahasiswa Punya Ruang Gerak Lebih

Setelah Qiyamul Lail dan Salat Subuh, dr. Dani Ferdian mengajak seluruh pemuda untuk memanfaatkan waktu sebaik-sebaiknya. “Supaya menjadi manusia yang bermanfaat kepada sesama, melihat bahwa saat ini terjadi krisis kelangkaan kepahlawanan dimana seharusnya mahasiswa mempunyai ruang gerak yang lebih bila dibandingkan dengan yang lainnya,” katanya.

Dani menyebutkan bahwa mahasiswa dapat menjamah masyarakat ekonomi, masyarakat sosial sampai pada lingkungan DPR yang seharusnya mahasiswa adalah Agent Of Change. Selain dari itu, untuk mewujudkan kepahlawanan dalam diri mahasiswa harus dengan bisa mengembangkan 3 aspek utama yaitu Hardskill (kompetensi Akademik), Softskill (Leadership) dan Lifeskill (identitas).

“Mahasiswa dapat melakukan pergerakan sosial di masyarakat, dengan melihat kondisi disekitar dan bersama-sama mengatasi permasalahannya itulah sosok kepahlwanan yang seharusnya ada didalam diri Mahasiswa” tambah Kang Danfer.

Ibu Sumi : Pekalah!

Sumi, pendiri rumah belajar anak jalanan mengajak pemuda, khususnya mahasiswa untuk lebih bersifat peka dengan lingkungan di sekitarnya. Melihat kenyataan bahwa di kota Bandung meskipun sering mendapatkan penghargaan,  tetapi masih banyak anak – anak jalanan yang terenggus cita-citanya dan harus memperjuangkan hidupnya setiap hari untuk sekedar mengisi perut.

“Kita lihat bagaimana susahnya seorang anak kecil yang seharusnya menikmati hidupnya dengan bermain, bersekolah tapi pagi hari harus mendapatkan tamparan dengan turun ke jalanan, dan mengetuk satu per satu kaca mobil untuk mendapatkan sekoin rupiah,” paparnya.

Ada pula fakta di jalanan bahwa kondisi seksual yang tidak sehat hingga pelecehan seksual pun terjadi kepada anak-anak. Sumi selain menjadi pendidik untuk anak-anak jalanan, beliau juga sekaligus Ibu bagi mereka. Ia terus memberikan semangat dan berusaha untuk menghilangkan efek trauma yang mereka alami.

“Mahasiswa harus bisa melihat kondisi yang ada disekitarnya, mengajak pemerintah untuk mengayomi bersama anak  jalanan sebab mereka juga punya hak untuk hidup dan dilindungi oleh pemerintah” pesan beliau.

Jamaah sesekali mengerutkan wajahnya, matanya hampir basah dan terus menontoni paparan fakta yang Sumi ceritakan.  (Ari Saldi/Ft)

 

Related posts

*

*

Top