Sejarah Kaderisasi Mahasiswa di Masjid Salman ITB (2-Habis): Dari SSC hingga Spectra

Foto bersama peserta Salman Spiritual Camp (SSC) 6 di lapangan barat Salman ITB, Ahad (21/2/2016) lalu. (foto: dokumentasi SSC)

(Sambungan dari bagian 1)

Bandung, (Salman Media) – Dalam perjalanannya, sebagaimana LMD, program kaderisasi dasar Salman pun mengalami perubahan yang cukup signifikan, disebabkan oleh arahan dari Ketua Yayasan Pembina Masjid (YPM) Salman ITB saat itu, Ir. Syarif Hidayat, M.T, Ph.D. Itulah sebabnya, sejak tahun 2015, Menara berganti nama menjadi SSC. Sebelum itu, Menara 1-4 diselenggarakan satu kali per semester dalam rentang waktu dua tahun (2013-2015).

Pada bulan September 2015 dan Februari 2016, diselenggarakan SSC berturut-turut untuk pertama dan kedua kalinya, sebagai SSC 5 dan 6. Sekalipun namanya berubah menjadi SSC, bilangan angkatannya tetap dihitung dari penyelenggaraan Menara 1. Sejak SSC 6, SSC diselenggarakan dua kali per semester.

Adanya program Menara dan SSC menunjukkan bahwa sistem kaderisasi mahasiswa di Salman telah berkembang secara signifikan. Namun, Bidang Mahasiswa dan Kaderisasi (BMK) sebagai penanggung jawab kaderisasi mahasiswa di Salman tidak berpuas diri sampai di situ. Sistem kaderisasi ini terus dikembangkan oleh BMK, hingga terbentuklah Spectra.

Spectra adalah sebuah program kaderisasi lanjut bagi aktivis Salman. Maka, sebelum mengikuti Spectra, aktivis Salman harus mengikuti LMD sebagai program kaderisasi inti. Dan sebelum mengikuti LMD, aktivis harus mengikuti SSC sebagai program kaderisasi dasar.

Menurut Rifqi Fathul Azhar, asisten manajer BMK subbidang kaderisasi lanjut, dalam program Spectra ini, para aktivis nantinya akan mengembara ke suatu daerah untuk menyelesaikan masalah nyata di daerah tersebut, seperti layaknya Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Namun, yang membedakan Spectra dari KKN adalah kontribusi peserta yang lebih besar di Spectra. “Karena ini lanjutan dari LMD, porsi peserta (kontribusi) lebih banyak dari panitia, panitia hanya memberi modal dan beberapa materi,” jelas Rifqi. Dengan kata lain, program ini bersifat semimandiri.

Dalam pelaksanaan program ini, peserta dituntut untuk menjadi lebih mandiri. Mengapa demikian? Menurut Rifqi, hal itu disebabkan peserta sudah mendapatkan pembekalan kemandirian di LMD. Selain itu, Spectra juga dirancang untuk meningkatkan kemampuan bertahan peserta. “Zaman dulu, kan, orang harus bekerja kasar untuk bisa bertahan hidup. Sekarang, orang-orang banyak mempelajari ilmu eksak untuk bertahan hidup. Tapi, kan, ilmu praktikalnya kurang. Zaman sekarang, kita ingin menciptakan orang-orang yang mampu bertahan dan berjuang, karena itu Salman mengadakan acara ini (Spectra),” jelas beliau.

Selain tujuan yang telah disebutkan, Spectra juga diadakan dengan tujuan menerapkan teknologi tepat guna untuk kemaslahatan masyarakat. “Salman menyatakan diri sebagai masjid teknologi. Banyak ide-ide dari PKM (program kreativitas mahasiswa) dan lain-lain. Tapi, berapa banyak teknologi tepat guna yang sudah diaplikasikan?” ujar Rifqi.

Program kaderisasi lanjut ini akan diadakan untuk pertama kalinya di Kab. Sampang, Pulau Madura pada tanggal 7-14 Januari 2018, saat mahasiswa ITB sedang menjalani libur semester. “Kenapa di Sampang? Karena termasuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, serta terluar) dan sering kekeringan saat musim kemarau,” jelas beliau. Sebelum tiba di Sampang, peserta diharuskan mengunjungi beberapa checkpoint dalam perjalanannya, yaitu tempat-tempat penting yang telah ditentukan sebelumnya.

Untuk bisa mengikuti program kaderisasi lanjut ini, mahasiswa harus mendaftarkan diri via online dalam rentang waktu sebelas hari (18-28/10/2017). Sebelum mendaftarkan diri, mahasiswa harus memenuhi dua syarat: telah mengikuti LMD dan aktif berkegiatan di Salman minimal setahun. Kemudian, pada hari Ahad (29/10/2017), pendaftar terpilih – yang nama-namanya diumumkan sehari sebelumnya – diharuskan mengikuti pertemuan pertama dengan panitia. Pada pertemuan tersebut, akan dijelaskan seluk-beluk Spectra, juga akan diadakan pembagian peserta ke dalam lima kelompok serta pembagian modal – yang harus cukup dari pertemuan pertama hingga eksekusi program di Madura.

Dalam waktu dua pekan – dihitung dari pertemuan pertama – para peserta harus melakukan survei lapangan, yaitu survei kondisi air di Kab. Sampang, Pulau Madura. Setelah survei, peserta harus sudah menemukan akar masalah dan solusi krisis air di sana. Kemudian, dalam satu pekan berikutnya, peserta harus merumuskan solusi atas permasalahan tersebut. Lalu, hingga hari eksekusi program, peserta akan merancang teknologi yang akan digunakan di lapangan dan menguji cobanya. Barulah setelah itu, eksekusi program di Madura dapat dilaksanakan. Tentunya, peserta harus diberi wejangan/nasihat terlebih dahulu sebelum diberangkatkan ke sana.

Rifqi menuturkan, sebelum dilepas ke Madura, peserta diwajibkan mengikuti tes fisik. “Mengapa ada tes fisik? Karena program ini adalah sebuah pengembaraan,” jelasnya. Ya, seorang pengembara tentu saja harus memiliki fisik yang sehat dan kuat, agar pengembaraan berjalan dengan baik.

Pada hari eksekusi program, akan ada tiga puluh orang dalam lima kelompok yang berangkat ke Madura. Angka tiga puluh muncul sebagai hasil dari serangkaian seleksi, yang dimulai dari rekrutmen terbuka via online hingga hari H. “Kita targetkan lima puluh orang mengikuti kumpul perdana, dari target pendaftar 150 orang,” jelas Rifqi.

Sebagai program kaderisasi lanjut, tentu saja Spectra membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit. Waktu penyelenggaraan Spectra sangat terbatas, karena hanya dapat dilakukan saat mahasiswa sedang menjalani libur semester. Karena itu, ke depannya, BMK hanya akan mengadakan Spectra setiap tahunnya sekali atau dua kali, tergantung jumlah anggaran yang tersedia.

Faisal Tahir Rambe

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

Related posts

*

*

Top