Sejarah Kaderisasi Mahasiswa di Masjid Salman ITB (1): Dari LMD hingga Menara

Apel pelepasan peserta Latihan Mujtahid Dakwah Nasional (LMDN) 186 di lapangan rumput timur Salman ITB sebelum diberangkatkan menuju Kec. Jatinangor, Kab, Sumedang, siang hari setelah shalat Jumat (14/4/2017). (foto: Faisal Tahir Rambe)

Bandung, (Salman Media) – Masjid Salman ITB adalah sebuah masjid kampus. Sebagai masjid kampus, tentu saja mahasiswa menjadi penggerak utama bagi aktivitas dan pergerakan di Salman. Maka, boleh dikatakan bahwa Masjid Salman adalah sebuah masjid berbasis mahasiswa. Sebab itu, diperlukan suatu sistem kaderisasi yang matang dan mapan, untuk menjamin setiap aktivis memiliki tujuh nilai dasar Salman: merdeka, jujur, hanif, sabar dan syukur, kerja sama, rahmatan lil ‘alamin, dan ihsan, serta memahami visi dan misi Salman. Dengan demikian, para aktivis nantinya diharapkan dapat membantu Salman untuk mewujudkan peradaban yang Islami, serta menjadi kader pembangun peradaban Islami di mana saja mereka berada.

Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak dahulu, Masjid Salman telah berupaya untuk membangun suatu sistem kaderisasi yang ideal. Karena itu, dari masa ke masa, selalu ada perubahan pada sistem untuk memperbaikinya. Sebagai contoh, sejak tahun 1974, Masjid Salman menyelenggarakan suatu pelatihan yang diberi nama LMD (Latihan Mujahid Dakwah). Namun, karena tekanan dari pemerintah Orde Baru saat itu, program unggulan ini terpaksa dihentikan, dan diganti dengan SII (Studi Islam Intensif).

Setelah pemerintahan Orde Baru berakhir pada tahun 1998, dengan semangat reformasi, Masjid Salman kembali menghidupkan LMD, dengan konsep yang digagas oleh Muhammad Imaduddin Abdulrahim (Bang Imad) pada tahun 1970-an. Sampai LMD 165 dilaksanakan pada tahun 2012, LMD selalu dilakukan dengan konsep yang digagas oleh Bang Imad.

Pada tahun 2012, terjadi perubahan yang mendasar pada sistem kaderisasi di Masjid Salman. Perubahan ini tak lepas dari sosok psikolog yang menjadi konseptor baru di Salman kala itu, yaitu Adriano Rusfi (Bang Aad). Bang Aad telah mentransformasi banyak hal dari LMD, mulai dari nama, konsep, sampai teknis pelaksanaan.

Pada pelaksanaan LMD 1-165, konsep yang digunakan mencakup penekanan tauhid dan etos perjuangan, yang diperkaya oleh amalan ibadah dan aura heroisme yang kuat. Inilah konsep yang digagas oleh Bang Imad pada tahun 1970-an. Konsep ini kemudian dikembangkan dan dimutakhirkan oleh Bang Aad, sehingga menjadi bersifat tematik terskenario dan mengacu pada isu-isu aktual.

“Setelah mengalami perubahan, konsep LMD mencakup identifikasi masalah, pemecahannya, solusi teknologi dari masalah tersebut, dan terpecahkannya masalah dengan solusi tersebut. Karena itu, namanya pun berubah. LMD masa kini menjadi sangat berbeda dengan LMD zaman dahulu,” kata Aad saat diwawancara oleh penulis pada hari Senin (13/3/2017).

Karena perubahan konsepnya begitu signifikan, nama LMD pun diubah menjadi Latihan Mujtahid Dakwah, begitu pula teknis pelaksanaannya. Bang Aad bercerita bahwa dari angkatan 1 hingga 165, LMD dilaksanakan secara indoor, baik di Masjid Salman atau masjid kampus lainnya. “Namun sejak angkatan 166 hingga sekarang dilaksanakan secara outdoor di beberapa kawasan sekitar Bandung,” jelas Aad.

Sejak saat itu, hingga saat ini, LMD selalu dilaksanakan dengan konsep Bang Imad yang telah dikembangkan oleh Bang Aad. Perubahan mendasar pada sistem kaderisasi mahasiswa di Salman tidak hanya mencakup perubahan konsep LMD. Perubahan tersebut juga mencakup penyelenggaraan program-program kaderisasi yang baru, seperti program kaderisasi dasar Menara (Mengenal Aktivitas dan Sejarah) dan SSC (Salman Spiritual Camp), dan program kaderisasi lanjut Spectra (Spiritual Entrepreneurial Civilizer Training).

Sejak September 2013, Salman menyelenggarakan Menara (Mengenal Aktivitas dan Sejarah). Sejak saat itu pula, Menara dijadikan tahap kaderisasi dasar bagi para aktivis Salman. Adapun LMD dijadikan tahap selanjutnya, yaitu tahap kaderisasi inti. Hingga saat ini, Menara dan SSC telah diselenggarakan sebanyak dua belas kali.

Menurut mantan asisten manajer BMK Salman ITB, Khairun Rizki, Menara dan SSC bertujuan untuk mengenalkan Salman kepada para calon kader serta mempersatukan mereka dalam satu visi Salman, yaitu menjadi masjid kampus yang mandiri sebagai wadah pembinaan insan, pengembangan masyarakat, dan pembangunan peradaban yang Islami. “SSC (dan Menara) ini untuk kalibrasi, untuk menyamakan kita semua,” kata Khairun saat diwawancarai oleh penulis, Rabu (1/2/2017).

(Bersambung ke bagian 2)

Related posts

*

*

Top