Edisi Silaturahmi Pengurus: Dari Pebisnis Properti Menjadi Pelukis Kaligrafi

Para aktivis dari berbagai unit dan bidang di Salman berfoto bersama salah satu pengurus Salman, Drs. Imam Choirul Basri dan istri beliau saat kunjungan ke rumah beliau, Sabtu (16/9/2017) lalu. (foto: Ali Aziz)

Sabtu (16/9/2017) lalu, setelah shalat zhuhur, sekumpulan muda-mudi Salman – termasuk saya – berkumpul di selasar Bank Muamalat Salman ITB. Kumpulan muda-mudi ini berasal dari berbagai unit dan bidang di Salman, dan berkumpul dalam rangka kunjungan ke rumah salah satu pengurus Salman, Drs. Imam Choirul Basri. Semakin lama, jumlah kumpulan ini semakin banyak, dan hingga keberangkatan, terlihat bahwa sebagian besar dari kumpulan kami adalah para penghuni asrama Salman, termasuk fasilitatornya.

Setelah sekian lama kami berada di selasar, dan jumlah aktivis yang berkumpul sudah cukup banyak, akhirnya kami berangkat menuju rumah Mas Imam. Kami berangkat dengan tiga angkot, dua angkot untuk ikhwan (laki-laki) dan satu angkot untuk akhawat (perempuan). Setelah beberapa waktu angkot berjalan, akhirnya kami tiba di rumah Mas Imam, yang terletak di Jalan Kawung Ungu, Kota Bandung.

Sesampainya di depan rumah Pak Imam, kami disambut oleh beliau dan istrinya dengan sambutan yang ramah. Karpet telah digelar, dan kami pun duduk di atasnya. Maka semakin hangatlah suasana ruang tengah itu dengan ramainya suara-suara pembicaraan kami.

Ketika kami duduk-duduk di rumah itu, kami melihat beberapa lukisan kaligrafi yang sangat indah. Lukisan-lukisan itu dibuat sendiri oleh beliau, di studio pribadinya yang terletak di bagian belakang rumah itu. Lukisan-lukisan beliau tidak hanya dibuat sebagai pajangan penghias rumah beliau, tetapi juga sudah dipasarkan dan bahkan dilelang untuk pendanaan pembangunan Rumah Sakit Salman Hospital di ibukota Kab. Bandung, Soreang.

Mas Imam sedang menunjukkan lukisan-lukisannya dalam album kepada kami, para aktivis Salman. (foto: Ali Aziz)

Dalam suasana santai itu, beliau menunjukkan album yang berisi galeri lukisannya, dan menceritakan kepada kami sejarah kehidupannya. Beliau dahulu pernah menggeluti bisnis properti. Namun, krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 menggoyahkan bisnis tersebut, sehingga beliau terpaksa memutar otak agar beliau tetap bisa mendapatkan uang. Akhirnya, beliau memutuskan untuk melukis, dan lukisannya kemudian dijual untuk menyelamatkan beliau dari krisis tersebut.

Beliau mengakui, sepanjang beliau melukis, beliau pernah melukis lukisan hewan dan manusia. Namun, karena lukisan hewan dan manusia dilarang keras dalam Islam, juga karena tidak adanya waktu beliau untuk melukis lukisan semacam itu, akhirnya beliau lebih suka melukis kaligrafi – yang hukumnya halal – hingga saat ini, saat beliau sudah menjadi salah satu pengurus Salman. Memang demikianlah seharusnya sikap seorang muslim, meninggalkan yang haram dan mencintai yang halal.

Mas Imam sedang memamerkan lukisan-lukisannya di lantai dua rumahnya saat kami berkunjung ke rumah beliau Sabtu (16/9/2017) lalu. (foto: Ali Aziz)

Sepanjang pertemuan santai itu, kami dijamu dengan berbagai jenis makanan ringan dan minuman yang lezat. Tidak hanya itu, beliau dan istrinya juga sudah mempersiapkan makanan berat dan lauk-pauknya untuk kami semua. Setelah perbincangan hangat dengan Mas Imam selesai, beliau mempersilakan kami untuk melihat sebentar lukisan-lukisannya di lantai dua rumahnya. Saat itu, saya juga naik ke lantai dua, dan saya sempat melihat sejenak mahakarya indah beliau di atas sana.

Puas melihat-lihat lukisan beliau, kami turun kembali ke lantai satu untuk mengambil makan siang. Kami semua mengambil makan siang di piring-piring yang sudah disediakan, kecuali saya. Saat itu, saya mengambil makanan berat dan lauk-pauknya dengan wadah makan yang saya bawa sendiri, karena saat itu saya sedang berpuasa Daud. Sebelum itu, makanan-makanan ringan yang disuguhkan juga sudah saya simpan sebagiannya dalam wadah-wadah plastik lain yang saya bawa saat itu.

Saat kami makan siang bersama Mas Imam di rumah beliau, dalam kunjungan pengurus Salman, Sabtu (16/9/2017) lalu. (foto: Ali Aziz)

Setelah mengambil makan siang, kami semua menyantapnya bersama-sama, kecuali saya. Sambil makan, kami melanjutkan perbincangan dengan Mas Imam yang terputus tadi. Kali ini, beliau bercerita sedikit mengenai keluarganya, yang terdiri dari beliau sebagai kepala keluarga, istrinya, dan dua orang anaknya.

Saat itu, saya memang tidak ikut makan siang. Namun, dari raut muka para aktivis yang sedang makan, saya bisa menyimpulkan bahwa masakan istri beliau memang sangat lezat. Beliau dan keluarga memang biasa makan masakan sendiri. Bahkan, ketika ada tamu pun, seperti kami saat itu, mereka memasak sendiri makanan ringan dan berat tersebut serta minumannya. Maknyus-lah pokoknya.

Usai makan siang, kami ber-27 berfoto bersama beliau dan istrinya. Beberapa waktu setelah berfoto bersama, adzan ashar berkumandang dengan merdunya. Maka kami bergegas pergi menuju Masjid Jami’ Ulul Albab, yang terletak tak jauh dari rumah beliau, untuk mendirikan shalat ashar.

Setelah shalat ashar di masjid itu, kami kembali ke rumah Mas Imam, menanti tiga angkot yang mengantar kami sebelumnya menjemput kami. Hari semakin sore, dan beberapa lama kemudian, tiga angkot tersebut datang kembali. Maka saya membawa pulang makanan berat dan ringan yang tadi dimasukkan ke wadah pribadi, dan setelah itu kami pamit dan kembali ke masjid yang kami cintai, Masjid Salman ITB.

Faisal Tahir Rambe

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

Related posts

*

*

Top