Kisah Indah Ekspedisi Terakhir Panitia Pelaksana Program Ramadhan (P3R) 1438 H

Foto bersama ekspeditor (anggota) Panitia Pelaksana Program Ramadhan (P3R) 1438 H Salman ITB di Curug Cimahi, Ahad (10/9/2017). (foto: Vebby Vitri Yanti)

Ahad (10/9/2017) lalu, saya mengikuti ekspedisi terakhir Panitia Pelaksana Program Ramadhan (P3R) 1438 H Salman ITB di Curug Cimahi, Desa Kertawangi, Kec. Cisarua, Kab. Bandung Barat. Disebut ‘ekspedisi terakhir’ karena P3R tahun ini mengambil tema ‘Ekspedisi Mutiara Ramadhan’ dan agenda tersebut merupakan agenda penutupan P3R 1438 H. Awalnya, ekspedisi terakhir ini direncanakan akan diadakan di Curug Layung, yang terletak tak jauh dari Curug Cimahi. Namun, karena hari itu Curug Layung sedang digunakan untuk latihan militer, lokasi ekspedisi dipindah ke Curug Cimahi, yang sebelumnya sudah pernah menjadi tempat rihlah (tamasya) P3R 1436 H, menjelang Ramadhan dua tahun silam.

Semula, para ekspeditor (anggota panitia P3R) dijadwalkan berangkat dari Salman pada pukul 07.00 WIB, dengan jumlah empat puluh orang yang mengonfirmasi kehadirannya. Namun, ketika sudah tiba waktu keberangkatan yang ditetapkan, baru beberapa orang saja yang sudah hadir di titik kumpul: selasar depan kantor cabang Bank Muamalat di Salman. Akhirnya, keberangkatan terpaksa ditunda, dan delapan belas ekspeditor – termasuk saya – baru berangkat dari Salman pada pukul 08.40 WIB, dengan tiga angkot. Satu angkot untuk ekspeditor ikhwan (lelaki), satu angkot untuk ekspeditor akhawat (perempuan), dan satu angkot untuk membawa logistik acara.

Sebelum ke-18 ekspeditor tersebut sampai di curug, beberapa ekspeditor dari divisi penutupan P3R telah tiba di sana terlebih dahulu, untuk mempersiapkan ekspedisi terakhir yang seru dan menyenangkan. Alhamdulillah, selama perjalanan, jalan yang ditempuh relatif lancar, hingga akhirnya kami pun tiba di gerbang masuk kawasan curug. Ketika kami masih di gerbang, kami melihat beberapa ekor monyet yang menghuni hutan di sana. Sebagian dari kami memberi makan monyet-monyet tersebut dengan makanan yang dibawa dari Salman, dan hewan-hewan primata tersebut memakannya dengan lahap.

Setelah beberapa lama kami menunggu ekspeditor yang menyusul di pintu gerbang, salah seorang dari kami membayarkan tiket masuk kami semua dengan uang dari anggaran P3R. Setelah itu, kami melewati gerbang tersebut dan menuruni 587 anak tangga. Sekalipun jumlah anak tangga yang dilalui banyak, kami tidak merasakan keletihan yang dahsyat, karena gaya gravitasi membantu kami turun ke sungai.

Akhirnya, Kami Tiba di Curug

Potret sebagian ekspeditor P3R 1438 H di jembatan beton kecil di atas Sungai Cimahi, Ahad (10/9/2017). Terlihat bahwa Curug Cimahi ada di belakang mereka. (foto: Vebby Vitri Yanti)

Setelah menuruni ratusan anak tangga, kami akhirnya tiba di lembah sungai Cimahi, dan disambut dengan spanduk bertuliskan ‘Ekspedisi Terakhir P3R 1438 H’. Seperti dua tahun yang lalu, kondisi lembah sungai tak banyak berubah. Hanya saja, air terjun yang mengalir terlihat lebih sedikit dari yang saya lihat dua tahun yang lalu, karena saat ini kawasan Bandung Raya memang sedang mengalami musim kemarau.

Tiba di lembah sungai, kami disambut dengan foto-foto kenangan manis kami selama keberjalanan P3R, yang ditempelkan di tiang papan informasi dan jembatan beton kecil yang kami lalui. Ketika saya hampir sampai di jembatan itu, panitia penutupan baru saja menempelkan foto-foto tersebut. Karena itu, saya dan para ekspeditor lain ditahan sebentar sebelum melewati jembatan.

Setelah foto-foto di tiang dan jembatan tertempel, kami dipersilakan melewati jembatan tersebut, dan melanjutkan perjalanan menuju warung terhilir di lembah sungai. Di warung tersebut, kami berhenti dan beristirahat sejenak. Saat kami beristirahat, beberapa dari kami menyantap sarapan untuk jasadnya, dan sebagian lagi menikmati sarapan untuk ruhnya, yaitu shalat dhuha, di mushalla kayu dekat jembatan beton.

Permainan yang Sangat Seru: Bola Kardus dan Lempar Tepung

Para ekspeditor P3R saling melempar tepung di tepi barat Sungai Cimahi, Ahad (10/9/2017) siang. (foto: Vebby Vitri Yanti)

Setelah beristirahat, ketua panitia penutupan, Azka Zakiyatuddin, juga ketua P3R, Ariestyo Wahyu, menyampaikan sambutan dalam rangka penutupan kepanitiaan P3R. Kemudian, juara-juara lomba internal P3R diumumkan, dan penghargaan berupa cenderamata P3R diberikan tepat di tepi barat sungai Cimahi. Menjelang waktu zhuhur, kami memainkan sebuah permainan yang sangat seru. Sebut saja namanya ‘bola kardus’.

Dalam permainan ‘bola kardus’, setiap tim terdiri atas empat orang. Setiap tim diharuskan membawa bola pingpong di atas kardus hingga garis finish. Di setiap ujung kardus, diikatkan tali sebagai pegangan, dan di tengah kardus, dibuat dua lubang. Selama bola dibawa, bola tidak boleh jatuh ke tanah.

Permainan dimulai dengan mempertandingkan tim ikhwan dengan tim ikhwan, dan tim akhawat dengan tim akhawat. Ketika pertandingan babak pertama ini berlangsung, ternyata bola tidak dapat masuk ke lubang, sehingga bola tersangkut. Tersangkutnya bola di lubang justru menjadikan permainan ini terlalu mudah untuk dimainkan, sehingga pada babak selanjutnya (pertandingan tim ikhwan dengan tim akhawat) dua lubang di setiap kardus ditutup dengan lakban.

Pada babak selanjutnya, pertandingan semakin seru, karena bola bisa saja terjatuh dari kardus jika kerja sama tim tidak mantap. Pada babak ini, tim ikhwan harus mengakui kehebatan tim akhawat dalam mempertahankan posisi bola di atas kardus. Setelah permainan selesai, dijelaskanlah hikmah permainan tersebut, yaitu pentingnya kerja sama yang baik dalam mencapai tujuan bersama.

Waktu zhuhur akhirnya tiba. Itu berarti kami harus segera mendirikan shalat zhuhur. Alhamdulillah, di tepi timur sungai ada mushalla kayu, lengkap dengan tempat wudhunya, sehingga kami dapat mendirikan shalat dengan mudah dan khusyuk. Usai shalat, kami semua makan siang bersama-sama dengan menu ayam goreng superlezat, kecuali satu ekspeditor. Ia tidak ikut makan karena sedang berpuasa Daud hari itu.

Setelah nutrisi jiwa dan raga dipenuhi, kami bermain kembali di tepi barat sungai dengan permainan yang lebih seru, yaitu lempar tepung. Dalam permainan ini, setiap tim harus menjatuhkan wadah plastik berisi air yang dimiliki tim lain, dengan cara melempar bungkus-bungkus plastik berisi tepung. Permainan berlangsung sangat seru dan semua ekspeditor yang ikut bermain terkena tepung. Bahkan, yang tidak ikut bermain juga ada yang terkena tepung, karena dilempari dan ditaburi tepung oleh ekspeditor lain.

Foto Bersama di Air Terjun

Para ekspeditor akhawat berfoto bersama di bawah Curug Cimahi, Ahad (10/9/2017). (foto: Ivon Triani)

Pada akhirnya, permainan yang sangat seru itu harus berakhir juga, karena masih ada agenda lain setelahnya, yaitu pemberian mug untuk staf-staf ekspeditor terbaik. Usai pemberian mug, kami mengemas kembali barang-barang, sebelum pergi dari warung. Kami berjalan dengan membawa barang-barang kami, hingga tibalah kami tepat di bawah air terjun. Di sanalah kami mengabadikan kisah indah kami, dengan berfoto bersama sambil memegang spanduk ‘Ekspedisi Terakhir’.

Puas berfoto ria, kami kembali ke gerbang utama dengan menaiki tangga yang sangat panjang. Tentu saja, hal ini sangat melelahkan, hingga sebagian ekspeditor beristirahat di tempat-tempat peristirahatan yang disediakan, termasuk saya sendiri. Satu demi satu ekspeditor menaiki ratusan anak tangga, hingga tibalah mereka di gerbang utama.

Dikencingi oleh Monyet

Para ekspeditor berfoto bersama di depan gerbang utama Curug Cimahi, sebelum salah satunya dikencingi monyet. Terlihat bahwa di sekitar gerbang banyak monyet berkeliaran. (foto: Ivon Triani)

Setelah semua ekspeditor melewati gerbang utama, kami berfoto lagi tepat di depannya. Namun, malangnya, ketika sedang asyik berfoto bersama, salah satu ekspeditor dikencingi oleh monyet dari cabang pohon di atas kami. Ya, di sekitar gerbang memang terdapat banyak monyet, sehingga pengunjung harus berjaga-jaga agar tidak dikencingi monyet dari atas pohon. Selain ekspeditor, air kencing monyet juga mengenai sebagian logistik yang dibawa, sehingga najisnya harus disucikan dengan air.

Setelah berfoto bersama di depan gerbang, kami kembali ke Salman sore itu juga. Sebagian ekspeditor menaiki angkot dan sebagian lagi menaiki sepeda motor. Akhirnya, berakhir sudah seluruh kisah indah yang dialami oleh para ekspeditor P3R. Semoga kisah indah ini mengandung hikmah dan memberikan kesan yang tak terlupakan.

Related posts

*

*

Top