Menggali Indahnya Berbagi Bersama “Al Fatih” dari Timur

Al Fatih Timur (By Faisal Tahir rambe)

Tertantang untuk meralat makna pengabdian dari ayahnya, Al Fatih Timur muda mencoba untuk memperluas kemampuan dan kesempatan untuk menjadi abdi masyarakat. Pengertian pengabdian, menurut ayahnya yang merupakan seorang dokter yang kembali ke kampung, adalah membuat pelakunya seperti lilin: membakar diri demi menerangi sekelilingnya. Namun, pria kelahiran Bukittinggi tahun 1991 ini merasa, pengabdian masyarakat merupakan dunia yang lebih luas dari itu. Ini adalah soal ketahanan kita. Bagaimana caranya berbuat baik, dalam jangka waktu lama tanpa membakar diri kita. Gejolak jiwanya makin mendorongnya berbuat baik saat turun ke lapangan mengikuti aksi kemasyarakatan yang dilaksanakan BEM FEUI (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi UI). Salah satu kegiatan kemahasiswaan yang mereka lakukan, serta turut menginspirasi lahirnya platform crowdfunding kitabisa.com, adalah survei untuk melakukan sebuah kegiatan pengabdian.

“Kembali dari sana, tidak ada dari kami yang tidak berkaca-kaca, malah banyak yang menangis, karena beberapa dari kami menyaksikan seorang pemulung memakan sisa lalapan yang dibilas,” kenangnya.

Muhammad Yunus dan Rhenald Kasali

Salah satu tokoh yang menginspirasi Timmy, sapaan akrab Al Fatih Timur, adalah Muhammad Yunus, penggagas social enterpreneur dari Bangladesh. Diceritakan dalam bukunya, Social Business, masyarakat era Yunus pada saat itu terjebak dalam lingkaran setan bunga bank dan jeratan margin keuangan yang hanya sanggup untuk digunakan memenuhi kebutuhan hidup standar masyarakat. Hal ini mencekik kehidupan masyarakat, terutama rakyat miskin. Saat itu, Yunus terpikir untuk membuat bank khusus orang miskin, yang dananya bermula dari kantong Yunus. Pada saat itu ia mengajak beberapa rekannya sebagai donatur, dan terciptalah crowdfunding sebagai salah satu solusi pemenuhan kebutuhan masyarakat dengan basis kemanusiaan dan sedekah.

Agar kegiatan tersebut tepat guna, Yunus melakukan survei di masyarakat. Ia melakukan observasi dari rumah ke rumah, mengamati kesulitan dan problem terkait ekonomi yang terjadi dari rumah ke rumah. Timmy melakukan hal yang sama. Mengutip perkataan Yunus, “Saat saya studi ekonomi, saya merasa seperti elang yang menatap hal-hal makro. Namun saat saya masuk ke masyarakat, saya merasa seperti cacing yang menatap mulai dari hal-hal basis dalam ekonomi tersebut.”

Orang-orang besar memiliki mentor yang berpengaruh besar selama proses bimbingannya. Saat lulus, Timmy gamang. Saat itu ia menjadikan Dr. Rhenald Kasali sebagai mentornya. Rhenald saat itu menjadikan Timmy asisten pribadi di Rumah Perubahan. “Walaupun yang saya lakukan bukan pekerjaan yang berkaitan dengan ekonomi, tapi saya mendapat banyak inspirasi dari perjalanan bersama beliau,” ungkap Timmy. Diantaranya adalah bank petani yang digagas bapak Koto di Sumatera Barat. Selama itu ia juga belajar dari literatur sejarah, dan Timmy juga mengungkap fakta bahwa Muhammadiyah dan NU adalah social-based organization karena kedua lembaga tersebut mendirikan sekolah yang berbasis impact islami terhadap tatanan sosial, bukan berbasis income terhadap elemennya.

Atas segala inspirasi tersebut dan kegiatan yang ia lalui ketika masih menjadi aktivis mahasiswa, lahirlah kitabisa.com.
Beragam Pelajaran dari Kitabisa.com

Kitabisa.com, situs crowdfunding open platform berbasis kepercayaan terhadap donatur ini merupakan situs yang marak digunakan oleh pemuda dan lapisan masyarakat lainnya untuk menggalang dana terkait kegiatan kemanusiaan pada umumnya. Menurut Timmy, lima puluh persen dari 40 slot registrasi donasi lainnya, merupakan galangan dana untuk bantuan kesehatan bagi masyarakat. Ratusan bahkan ribuan donatur menyumbang setiap harinya. Melihat tingginya animo masyarakat, Timmy mampu mengambil beberapa pelajaran.

Pertama, generasi milenial adalah generasi yang altruistik, walau ada beberapa yang tergolong narsis-altruistik. Altruistik berarti memiliki jiwa pengorbanan untuk kemaslahatan ummat. Terbukti dari tingginya angka donatur dan kecepatan peningkatan donasi setiap harinya. Kaum selebrita memanfaatkan kondisi tertentu seperti ulang tahunnya untuk membuat suatu campaign kemanusiaan. Contohnya campaign buku untuk Papua pada ulang tahun Raisa yang ke 27. Beberapa kalangan menilai hal ini sebagai bentuk narsisme selebrita atau bentuk ikut-ikutan kehidupan selebriti.

“Orang baik selalu kalah publikasi dibanding kejadian yang berkaitan dengan kejahatan kalau di Indonesia. Jadi ini salah satu bentuk menyemangati berdirinya nilai-nilai positif di Indonesia,” jelasnya Timmy.

Kedua, Timmy menilai bahwa masyarakat milenial adalah masyarakat dengan toleransi yang tinggi. Hal ini tergambar pada campaign Masjid di Chiba. Bangunan Chiba Islamic Cultural Centre terancam “hangus” jika uangnya tidak dilunasi pada 2016 lalu. Namun melalui kitabisa.com, terkumpul dana senilai 3,1 milyar untuk membebaskan bangunan tersebut sehingga jadi milik ummat. Sebanyak 7.000 donatur yang menyedekahkan hartanya, sehingga Masjid Chiba sukses menjadi milik ummat Muslim.

 

*

*

Top