Makna Kemerdekaan bagi Aktivis Salman

Para aktivis Masjid Salman ITB sedang memberi hormat kepada bendera merah putih dalam upacara peringatan HUT ke-72 NKRI di paving blok tenggara Salman, Kamis (17/8/2017) lalu. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Bandung, (Salman Media) – Bulan ini, Agustus, adalah bulan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Pada bulan ini, 72 tahun yang lalu, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dari penjajahan Belanda dan Jepang. Hal ini tentunya memberikan makna yang besar bagi setiap rakyat Indonesia, tak terkecuali para aktivis Masjid Salman ITB, yang sedang berjuang menempuh pendidikan tinggi untuk dapat berkontribusi dalam mengisi kemerdekaan secara maksimal.

Kamis (17/8/2017) pagi lalu, Bidang Mahasiswa dan Kaderisasi (BMK) Salman mengadakan upacara peringatan HUT ke-72 NKRI di paving blok tenggara masjid. Upacara tersebut dipimpin oleh Sobit Apriliana, salah satu mahasiswa teknik pertambangan ITB angkatan 2013 yang menjadi aktivis Salman sejak tahun pertamanya di ITB. Menurutnya, secara lahiriyah, makna kemerdekaan adalah kebebasan dari penjajahan. Secara batiniyah, kemerdekaan adalah tentang bagaimana cara mengisi kemerdekaan, agar Indonesia menjadi lebih baik.

“Secara lahir, kita memang sudah merdeka, namun, secara tidak disadari, kita masih dijajah, baik dari segi ekonomi, hiburan yang merusak moral, dll. Sebagaimana dijelaskan oleh Kang Luthfie (pembina upacara, -red), kita terjajah oleh bangsa kita sendiri, dan lebih sulit perjuangannya,” jelasnya. Ia berharap, suatu hari nanti, Indonesia menjadi bangsa penengah bagi bangsa-bangsa di dunia, dan menjadi bangsa yang beradab, sesuai visi Salman.

Dalam upacara tersebut, Luthfie Maula Alfianto, aktivis Salman yang menjadi pembina upacara, menyatakan bahwa kemerdekaan sejatinya adalah keberanian untuk menjadi pelopor kebaikan. “Maka pada hari ini, marilah kita bersama-sama mencoba melihat warna-warni merah dan juga putih. Merah yang berarti berani. Berani bukan berarti kita harus menunggu momen untuk melakukan sesuatu hal, tetapi berani di sini, bagaimana kita mencoba untuk menjadi pionir kebaikan. Tanpa ada yang menyuruh, tanpa ada yang mengajak, tanpa ada yang menunggu orang lain bergerak, kita harus berani untuk mengubah sesuatu hal yang mungkin ada di sekitar kita, yang masih jauh dari kata beradab, dari kata rahmat bagi seluruh alam,” kata beliau.

Selain itu, Luthfie juga menyatakan bahwa keberanian harus diiringi dengan kelurusan niat dalam mengisi kemerdekaan. Menurut beliau, kelurusan niat berawal dari bersihnya hati, yang dilambangkan dengan warna putih pada bendera Indonesia. Dan dari kelurusan niat itulah, seseorang dapat menebarkan manfaat bagi sesama, bahkan bagi seluruh alam.

Upacara yang berlangsung selama sekitar satu jam tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda hari kemerdekaan Salman yang bertema Gema Kemerdekaan Salman. Koordinator rangkaian agenda tersebut adalah Asa Ayazida Aunu Robby, salah satu aktivis unit pembinaan remaja Salman, Karisma. Menurut beliau, untuk mengisi kemerdekaan, aktivis masjid harus menjadikan masjid memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya, agar terbentuk peradaban yang berbasis masjid.

“Tugas membangun Indonesia itu besar. Kita, sebagai yang bergiat di masjid, harus menggerakkan masjid agar memberikan manfaat bagi sekitarnya, juga meningkatkan kepedulian kepada masyarakat dan lingkungan, agar masjid tidak menjadi beban. Alhamdulillah, Salman menginisiasi hal-hal tersebut cukup banyak di Indonesia, sesuai visinya: membangun peradaban. BMK bergerak di berbagai macam lini, baik di kampus maupun pascakampus. Ada juga gerakan satu shaf, yaitu gerakan kolaborasi masjid-masjid di Bandung Raya, yang sudah mulai terlihat kolaborasinya Ramadhan lalu, dalam program berbagibuka.com dsb,” jelasnya.

“Dalam hal gerakan keilmuan, Salman sudah menerbitkan Tafsir Salman. Salman sudah membangun jaringan dengan masjid-masjid kampus lain melalui AMKI (Asosiasi Masjid Kampus Indonesia). Salman juga sudah meningkatkan cakupan agenda di regional masjid yang ditentukan, yang melibatkan banyak pihak,” lanjutnya.

Kemerdekaan memang tak dapat dilepaskan dari peradaban. Untuk membangun peradaban yang maju, suatu bangsa, tak terkecuali bangsa Indonesia, harus merdeka sepenuhnya. Kemerdekaan di sini maknanya luas, meliputi kemerdekaan ekonomi dan kemerdekaan hiburan, sebagaimana dikatakan oleh Sobit, kemerdekaan dalam melakukan aksi membangun negeri, sebagaimana dikatakan oleh Luthfie, maupun kemerdekaan dalam membangun peradaban Islami berbasis masjid, sebagaimana dikatakan oleh Asa. Namun, kemerdekaan-kemerdekaan tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai tuntunan Islam.

Faisal Tahir Rambe

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

Related posts

*

*

Top