Menanam Nilai Kebaikan Melalui Asrama Camp

sesi foto bersama peserta Asrama Camp (foto: Fahmi)

Pada hari Senin (7/08/2017) sampai dengan hari Selasa (8/08/2017) Asrama Salman ITB mengadakan kegiatan Asrama Camp yang dilaksanakan mulai dari Mesjid Salman ITB, Mesjid Al-Furqan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), lalu berakhir di kawasan perkemahan Gunung Putri, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Bentuk acara berupa kegiatan hiking, games, dan camping tanpa mengabaikan kegiatan spiritualitas.  Asrama Camp ini merupakan kegiatan pengukuhan sekaligus peresmian bagi  penghuni baru asrama Salman ITB periode 2017/2018.  Acara ini juga merupakan pengenalan tentang nilai keasramaan Salman ITB sekaligus sebagai bekal  dalam merekatkan ukhwah antarpenghuni asrama kedepan dalam menjalani kehidupan asrama setahun ke depan.

Nilai utama yang ditanamkan adalah nilai dari mesjid Salman ITB sendiri, yakni merdeka, jujur, hanif, sabar dan syukur, kerja sama, rahmatan lil alamin, dan ihsan. Selain itu ditekankan juga nilai tambahan yang harus dimiliki penghuni asrama yakni nilai ukhuwah, kepekaan, loyalitas,  ruhul istijabah (semangat menyambut seruan dakwah), dan gotong royong. Dalam menanamkan nilai-nilai tersebut, acara dikemas menjadi suatu petualangan yang memiliki alur cerita bertema “Kisah Pengembaraan Menuju Kebaikan”.

peserta asrama camp tengah mencari kartu dalam kegiatan rangkaian tantangan akhir (foto: Naili)

Pada petualangan tersebut diceritakan bahwa penduduk Asraland ditugaskan oleh Raja Abdullah untuk mencari pusaka dari kaum Brata yang telah mencurinya dimana dengan adanya Pusaka tersebut dapat menyelamatkan kehidupan. Pencarian pusaka tersebut dipimpin oleh Alfonso. Para penduduk Asraland harus berjuang merebut pusaka dengan melewati berbagai rintangan yang telah disiapkan oleh kaum Brata. Rintangan tersebut dikemas dengan suatu perjalanan long march yang diselingi tantangnan berupa beberapa games di  yang mengandung nilai-nilai yang hendak dicapai. Puncaknya para penduduk asraland harus melawan kaum Brata dalam suatu benteng untuk merebut pusaka yang telah berada di tangan Brata. Pada kali ini tantangan juga di kemas dalam bentuk games pencarian kartu yang berisi nilai-nilai tambahan dengan ditembaki bom air dari kaum Brata. Kaum Asraland yang tersisa dan tidak terkena bom dapat melanjutkan ke tahap perebutan dan pusaka. Singkat cerita penduduk Asraland pun berhasil merebut pusaka tersebut dan menyerahkannya kepada Alfonso.

Galasin sebagai salah satu permainan dalam tantangan akhir (foto : Cintya N)

Namun setelah Alfonso menerima pusaka, ternyata Alfonso berhianat dengan membunuh Raja Abdullah dan bersekongkol dengan kaum Brata untuk menguasai Pusaka tersebut. Maka permainan pun dilanjutkan dengan penangkapan Alfonso dan merebut kembali pusaka dari Alfonso dan kaum Brata. Penangkapan Alfonso disumulasikan dengan permainan galasin, dimana yang menjaga adalah dari kaum Brata. Maka penduduk Asraland pun berhasil meraih pusaka tersebut dan dapat menyelamatkan dunia

 

Pada cerita tersebut para penghuni asrama berperan sebagai penduduk Asraland. Sedangkan Raja Abdullah, Alfonso, dan kaum Brata diperankan oleh panita. “Cerita alfonso diambil sebagai alegori akan akibat buruk dari bermuka dua. Selain itu, didalamnya terdapat pesan-pesan yang mengajarkan nilai-nilai penting kepada para penghuni akan satu kesatuan. Kisah Asraland adalah kisah tentang bagaimana harus taat kepada pemimpin, namun juga harus berhati-hati dalam memilih pemimpin ” Ujar Bagus Putra Panuntun selaku ketua kegiatan Asrama Camp dan juga sekaligus fasilitator Asrama Salman ITB periode 2017/2018.

Selain berupa petualangan dan rintangan, acara juga diselingi dengan pertunjukan kreasi seni dari masing-masing kelompok. Juga tidak lupa hal yang ditekankan selama kegiatan berlangsung adalah amalan yaumiah berupa shalat huha, tilawah satu juz, setoran hafalan, tahajud, dan kultum subuh.

“Rangkaian rangkaian asrama camp seru, tidak hanya nilai rekreaasi yang didapat namun juga nilai ruhani karena shalat tepat waktu, hafalan, dan tilawah satu juz. Jadi antara ibadah dan rekreasi berbanding lurus.” Ujar Giri Wardana, mahasiswa Fisika ITB 2016, sebagai salah satu peserta asrama camp

Setelah rangkaian acara utama selesai,maka ditutup dengan upacara penutupan dan penyerahan pin sebagai simbolis bahwa para peserta telah resmi menjadi penghuni asrama, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

*

*

Top