Kampanye Masjid Ramah Anak, Salman Sediakan Playground

(foto : Rumah Amal Salman)

 

Menghidupkan lingkungan Masjid yang Ramah Anak menjadi salah satu bentuk kampanye yang dilakukan Masjid Salman ITB agar anak-anak bisa nyaman berada di Masjid. Mempersiapkan Generasi Robbi Rodhiya bukan hanya melibatkan orangtua semata, melainkan banyak faktor yang mempengaruhi seorang anak tumbuh, salah satunya adalah lingkungan.

“Seperti jika kita ingin memakan beras, kita perlu menanam padinya, sangat penting memberi ruang anak-anak bisa bermain dan berkembang didalam Masjid, kalau tidak begitu jangan berharap kita bisa memanen pemuda-pemuda pejuang, ta’lim remaja, dan pergerakan Islam lainnya,” ungkap Kamal Muzakki selaku Direktur Rumah Amal Salman ketika ditanya kaitan erat antara anak-anak dengan Masjid.

Playground di Salman disambut sangat positif oleh jamaah, utamanya adalah orangtua yang ingin iktikaf namun membawa anak-anak. Playground ini menarik perhatian anak-anak untuk bisa tenang berada di lingkungan Masjid. Salman bertekad bahwa jamaah yang ada didalam lingkungan Salman bukan hanya Mahasiswa-mahasiswi, Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan orang dewasa lainnya, melainkan juga termasuk didalamnya adalah anak-anak sehingga perlu disediakan ruang tersendiri untuk beraktifitas.

Rumah Amal Salman bersama dengan Panitia Pelaksana Program Ramadhan mengelola keberadaan ruang Playground dengan harapan terwujudnya iktikaf adalah lifestlye bagi masyarakat dan anak-anak, sehingga bermain dan iktikaf dapat menjadi satu kesatuan yang dapat anak-anak lakukan di ruang Playground.

(foto : Rumah Amal Salman)

“Resiko gaduh dan berantakan itu pasti ada, tapi memang itulah tujuan utamanya, agar anak-anak punya kesan positif terhadap masjid, karena kalau tidak ada anak-anak di Masjid, siapa yang akan meneruskan perjuangan?” Lanjut Kamal. “Semoga diadakannya Playground ini dapat menjadi kampanye tersendiri agar Masjid-masjid yang ada di seluruh Indonesia bisa memperhatikan hal ini.”

Adriano Rusfi,  pakar psikologi yang akrab disapa Bang Aad pernah mengungkapkan bahwa anak-anak kita saat ini menjadi orang yang baligh dahulu tapi belum akil. “Mereka bisa baligh di usia 10 tahun tapi baru akil di usia 25 tahun, artinya mereka bisa matang secara seksual terlebih dahulu, namun belum matang alat kendali diri (akal), padahal anak-anak terlahir fitrah, kemudian orangtuanya yang membuat ia memiliki pola pikir dan pola sikap seperti saat ini,” katanya.

Begitupun dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Bagaimana beliau pernah membawa serta salah satu cucunya untuk ikut Shalat Berjamaah di Masjid, sedang saat itu Rasulullah tengah menjadi imam. Dalam sebuah sujud, Rasul memperpanjang sujudnya sehingga membuat banyak sahabat bertanya-tanya dalam sholatnya. Syaddad ra, salah seorang sahabat yang penasaran dengan lamanya sujud rasul, mengangkat kepalanya dan menemukan cucu Rasul (Hasan/Husain) yang sedang menunggangi belakang Rasul. Menemukan hal itu membuat Syaddad ra kembali melanjutkan sujudnya. Di akhir Sholat banyak dari sahabat yang sibuk bertanya, “Wahai Rasulullah, baginda sujud sangat lama sekali tadi, sehingga kami mengira terjadi apa-apa atau Engkau sedang meneri wahyu?”

Rasulullah menjawab, “Tidak, tidak, tidak terjadi apa-apa, Cuma tadi cucuku mengendaraiku, dan saya tidak mau memburu-burunya  sampai dia menyelesaikan mainnya dengan sendirinya.” (HR. Nasai dan Hakim).

(Nurazizah I.)

 

 

*

*

Top