Beginilah Kisah Di Balik Seorang Ketua P3R 1438 H

(foto : Fathia U.)

 

Berjalannya kegiatan ramadhan 1438 H di Masjid Salman tentunya tak terlepas dari peran penting Panitia Pelaksana Program Ramadhan (P3R) khususnya ketua panitia yang memiliki wewenang untuk membuat banyak keputusan. Human Of Salman yang akan dibahas disini adalah Ketua P3R yaitu Ariestyo Wahyu yang biasa di sapa Tito. Tito ini merupakan mahasiswa ITB Jurusan Teknik Penerbangan angkatan 2015.

Tito terpilih sebagai  ketua P3R karena ia diajukan oleh P3R tahun sebelumnya melalui peroses yang cukup panjang. “ Jadi dari data base tahun lalu, tahun 1437 itu ada beberapa nama gitu kan. Dari MSDM (Manajemen Sumberdaya Manusia) menjaring nama-nama baik yang  masuk ke ring 2, ataupun staf terbaik, dll, atau yang komitmennya bagus, itu di wawancara. Abis di wawancara tahu-tahu udah ada di grup aja gak ada pengumuman, terus melakukan pertemuan-pertemuan bareng beberapa formatur, sama 1437, diskusi internal, baru penentuan ketua itu bareng-bareng. Ada dari manajemen juga, dari BMK (Bidang Mahasiswa dan Kaderisasi), rumah amal sama hajazi, nah itu baru musyawarah”.

Sebagai ketua, tentunya ia memiliki tanggungjawab yang besar dalam pelaksanaan kegiatan ramadhan taun ini. Banyak hal yang harus ia korbankan demi kelancaran acara-acara yang di pegang oleh P3R, salah satu pengorbanannya adalah ga bisa mudik ke  Kendal, Jawa Tengah sebelum lebaran. Ia baru bisa pulang kampung pada saat hari lebaran. “ Mudik siiih, tapi abis lebaran. Sorenya abis sholat ied baru bisa pulang. Tahun lalu juga gak pulang, gak masalah sih sebenernya kalau pulang gak pulang gak di coret juga di KK (Kartu Keluarga)  ko hehe” candanya.

Tidak hanya itu, karena P3R adalah kepanitiaan yang besar dan perlu dipersiapkan secara matang dengan waktu yang lama, jadi selama satu semester ia harus membagi waktunya antara kuliah dan kepanitiaan. “ Ring satu kan udah kekumpul di semester satu, baru pas semester ini, semester dua itukan udah mulai banyak lah persiapan konsep, persiapaan pendanaan dan lain-lain lah banyak. Itu tuh bener-bener kayak nambah SKS gitu lah. Dan ini tuh komitmen bener-bener jadi prioritas kedua hampir  mendekati prioritas akademik lah. Tapi ya udah gak apa-apa, udah di restuin juga sama orang tua. Sering juga ninggalin kelas waktu itu… Sering tuh tiba-tiba suka ada panggilan dadakan harus rapat sama manajemen, rapat sama rumah amal, tiba-tiba rapat dipanggil pengurus.”

Ia juga harus ngambil keputusan yang cepat dan bijak saat ada masalah internal dan saat konsep” kegiatan P3R tidak sesuai dengan yang direncanakan. “ ya kalau ada pergesekan internal lah, itu sih wajar ya. Kaya misalnya masalah akademik lah masalah orang tua, atau amanah yang lain.. ya itu bumbu-bumbulah selama satu semester itu. Nah di tim kita tuh waktu itu ada yang harus fokus di ujian kan, UTS, UAS itu-itu kadang-kadang gak bisa di ganggu, makannya kan harus nge-back up. Dan jadi ngaruh ke deadline sebenernya. Ini jadi kendala banget.”

Tito sempat jatuh sakit karena kelelahan bekerja dan kelelahan berpikir “ Pernah tuh gak ada orang sama sekali kan musim ujian. Apalagi kemaren kan UAS, udah deket ke Ramadhan orang-orang pada ilang. Aduh itu bingung banget. Aku pernah ampe sakit kan mikirin duh ini gimana ya? Gatau tuh tiba-tiba pusing, panas”

Pengorbanan Tito bukan lah hal yang sia-sia. Ia mendapat keuntungan dari apa yg dia korbankan. Seperti bertambahnya relasi dengan banyak pihak yangg terlibat dalam kegiatan ramadhan di salman. “Kan aku sering tuh ke Jakarta tuh ya sama temen-temen juga sih. Bener-bener nambah relasi banget. Misalkan ke Jakarta nyari sponsorsip nemuin orangnya, nyari linknya, ngobrol sama alumni, negosiasi sama banyak  perusahaan. Ke pembicara-pembicara juga itu kan gak gampang jaringan-jaringannya. Bener-bener nyari sendiri ke alumni satu alumni dua. Kita juga jadi kenal sama banyak alumni. Pengurus salman kan juga banyak tuh, jadi kenal satu-satu. Orang-orang kampus juga, universitas lain. Ini menjadi sesuat yang menyenangkan.”

Selanjutnya, Tito merasa punya pengalaman baru secara rohani dan mengasah kemampuan dalam  manajemen. Menurutnya, orang-orang di P3R itu dituntut banyak dari mentalnya yang harus kuat, maupun kinerjanya karena mereka diawasi langsung oleh pihak-pihak yang ada diatas seperti manajemen, direktur eksekutif dan dari pengurus.

Untuk menjaga agar suasana  dan hubungan antar orang-orang P3R, banyak hal  menyenangkan yang dilakukan oleh Tito bersama anggota-anggotanya. “Kita sering membangun kekeluargaan dengan banyak hal, dengan kegiatan bareng, sering ngumpul, kita juga rihlah ya. Beberpa kali kita cuma sekedar jalan-jalan bareng tanpa mikirin P3R dulu lah gitu”. Hal tersebut dilakukan untuk merekatkan baiksecara manajerial maupun kekeluargaan.

Mengupas Kehidupan Pribadinya

Selain berbagi pengalaman pengenai kepemimpinannya di P3R Salman ITB, Tito pun berbagi sedikit cerita tentang kehidupan pribadinya tentang bagaimana ia masuk sebagai bagian dari Masjid Salman ITB.

Pada awalnya Tito berangkat dari Kendal ke Bandung untuk bersekolah seorang diri. Adapun kakak kelas sewaktu SMA nya yang masuk ke ITB adalah seorang akhwat. Jadi untuk bertanya banyak hal tentang bagaimana perkuliahan di ITB dan minta tolong apapun itu sangat terbatas. Akhirnya Tito memilih untuk masuk asrama di Kidang Pananjung. Dari situ perlahan ia mulai mengenal orang-orang dari mulai teman sekamar, teman se RT (satu blok di asrama), teman mentoring, teman kampus dan akhirnya ketemu teman-teman di  Salman.

Pertama kalinya Tito datang ke Bandung, hanya satu yang ia tuju untuk yaitu masjid. “ Pertama kali dateng ke Masjid Salman tuh kaget. Ini masjid bukan ya? Kok kotak gini, gak ada kubahnya? Ini bedugnya juga mana? Hehehe ” lagi-lagi iya bercanda. “Nyampe ke sini kan jam setengah dua subuh tuh, tidur dulu sini. Besoknya nyari informasi tentang salman gimana. Oh.. ternyata ada asramanya.”

Sebelum masuk asrama di Salman dari tahun lalu Tito suduah mengikuti banyak kegiatan Salman. Berawal dari P3R, ia memiliki banyak jalan untuk menjadi anggota Salman ITB sepenuhnya termasuk tinggal di asramanya. Sambil mengikuti P3R ia mengikuti program PPKM setelah seminggu pertama ramadhan 1437 H. “ Sering ikut kajian disini, aku bahkan bela-belain jalan kaki terus sendirian hampir tiap hari dari kidang pananjung. Acara di aula barat selesai, buka disini, taraweh disini, terus baru balik malem. Ternyata salman ko keren sih, dategin tokoh-tokoh inspiratif semua. Aku duduk di depan terus tuh. Dari situ banyak kenal kan sama orang-orang salman, terus ikutan menara angkatan terakhir, terus ikutan SSC angkatan petama, terus ikut pendaftaran asrama waktu itu kan. “ tuturnya.

Sebenarnya  Tito tidak terlalu berharap diterima di asrama salman, karena ia merasa banyak pendaftar  yang lebih dari dia. “Yang lain tuh aktivis-aktivis semua gitu, dan yang baru tahu masjid tuh aku. Dari sekolah negeri juga, gak pernah sekolah di ya.. yang gitu- gitu (sekolah agama yang bersifat formal). Tapi Alhamdulillah sekarang keterima. Aku juga masih bingung kenapa bisa keterima gara-gara apa ya?”

Sejak dulu, Tito sangat senang berada di masjid untuk melakukan pelayanan terhadap jamaah. “Aku tuh dulu sempet ikut rohis gitu waktu SMA ya meskipun gak aktif-aktif banget sih. Kan aku bagian spesialis jumatan, aku seneng kalau udah disuruh nyiapin buat jamaah sholat jumat atau sholat ied. Kalo disuruh nyiapin peringatan hari besar kaya gitu-gitu aku kurang suka. Di Salman juga lumayan lah walaupun cuman ngepel masjidnya gapapa lah, gak jadi imam juga gapapa lah, yang penting tetep deket sama masjid dan jadi pelayan masjid. Itu yang dari awal ku pengenin.”

Tito memiliki pesan untuk calon-calon Mahasiswa baru ITB yang mungkin suatu hari nanti  bakal tertarik ke Salman seperti halnya ketertarikan Tito dulu terhadap salman. Mengutip dari Guru-gurunya yang mengutip dari uraian singkat Imam Syafi’I “Adab sebelum ilmu dan ilmu sebelum amal. Itu tuh menja

Ariestyo Wahyu Teknik Penerbangan ITB 2015 selaku ketua P3R

di pegangan banget ya dia aku. Pokoknya gimana caranya sebelum mengamalkan sesuatu ya monggo di ilmuin dulu, dan sebelum kita mengilmui sesuatu ya kita harus belajar adabnya dulu salah satu cara belajarnya ya kita nyari guru. Guru yang bisa kita pelajari adabnya. Adab-adab seorang ulama gitu kan beda ya ketika beliau belajar seperti apa, keta beliau membantah seperti apa ketika beliau memberi nasihat seperti apa, itu kan beda banget ya dengan orang yang hanya sekedar tahu aja.”

Menurutnya, belajar adab itu sangat perlu walaupun kita tidak paham sama ilmunya itu gak masalah. Misalnya kita kuliah, dosennya gak jelas nerangin apa kita gak paham. Mungkin adabnya ada pada kesabaran dosen yang ngajarin kita yang susah paham, atau di akhir perkuliahan beliau memberi kata-kata motivasi. Itu mungkin sisi-sisi lain dari adab yang harus kita pegang. Setelah kita memiliki adab ilmu akan lebih mudah kita pahami dan akhirnya kita amalkan. Tapi bukan berarti kita jangan mengamalkan sebelum dapet ilmu. Selarasnya kita amalkan apa yang sudah kita ketahui, tapi kita juga wajib mengilmui dahulu apa yang akan kita amalkan. (Erina)

*

*

Top