Melirik Mahasiswa Muslim Berpuasa di Negeri Tirai Bambu

Muhammad Dida seorang Mahasiswa Muslim yang sedang menjalankan pendidikan S2 di University of Electronic Science and Technology of China (UESTC). 

Muhamad Dida seorang lulusan Sarjana Ilmu Administrasi Publik UNPAR Bandung angkatan 2012 ini mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studinya dengan mendapatkan beasiswa di University of Electronic Science and Technology of China (UESTC). Ia mengenyam pendidikan S2 sejak tahun 2016 mengambil jurusan Administrasi Publik dan Manajemen.  Tidak mudah menjalankan hidup di negeri orang karena berbeda bahasa, budaya dan agama. Apalagi di momen puasa ramadhan  ini, sulit dijalankan untuk seorang muslim  yang merupakan agama minoritas di Cina.

Menurut Dida, Berjalannya Puasa Ramadhan di Cina dengan di Indonesia tidak jauh berbeda hanya saja  waktu berpuasa disana lebih lama yaitu dari mulai jam 4.40 subuh sampai sekitar  jam 8.30 malam. Namun dia merasa sedih karena tidak bisa menikmati Sholat Tarawih berjamaah di masjid. “ Sebenarnya saya gak pernah tarawih di masjid selama saya tinggal disini. Kami pelajar-pelajar internasional yang mengatur waktu dan tempat untuk sholat berjamaah karena masjid tidak ada disini” tuturnya.

Laki-laki berkacamata ini tingal di Qingshuihe yang letaknya di pinggiran kota dan masjid terdekatnya berjarak kurang lebih 10 km. Dia beserta teman-temannya membutuhkan waktu satu atau dua jam perjalanan dan  harus naik transportasi umum untuk sampai kesana. Sayangnya transportasi tersebut sudah berhenti beroperasi pada jam tujuh atau jam delapan malam. Sementara waktu magrib disana sekitar jam 8.10 malam dan waktu isya jam 9.40. Sehingga tidak memungkinkan untuk mereka Sholat Terawih berjamaah di Masjid, kecuali jika mereka tinggal di pusat kota yang sangat mudah untuk pergi kesana kemari. Jadi selama ini mereka melakukan Sholat Terawih di Asrama secara berjamaah.

Selama puasa di Bulan Ramadhan, Dida mengalami kesulitan dalam mencari makan. “Sedihnya susah makan disini, terutama Cina susah banget makanan halalnya. Terus kangen sama masakan rumah mah udah pasti, apalagi takjil-takjilnya. Disini gak ada takjil sama sekali, buat makanan (utama) juga susah karena tinggal di suburb (pinggir kota) jadi susah akses kemana-mana. Misalnya mau ke restoran atau sebatas Mc Donald aja juga susah” curhatnya.

Tapi Dida bisa mengambil hikmah dari yang dialaminya.  Ia mencurahkan bagian kegembiraannya melalui ucapannya.  “Senengnya bisa lebih rajin ibadah karena gak banyak yang bisa dilakuin di sini jadi lebih rajin buat teraweh gitu-gitu. Terus bisa ngerasain iftar bareng temen-temen muslim dari berbagai penjuru dunia yang sekolah disini. Kaya dari Ghana, Somalia, Uzbekistan, Tajikistan, Nigeria, Ethiopia, banyak lah. Nyobain kebiasaan mereka juga, buat iftar kaya buka pake makanan khas mereka gitu,”.

Sebagai kaum minoritas, Dida  merasa sangat sulit hidup berdampingan dengan kaum mayoritas di Negeri Tirai Bambu. Untuk itu Dida memiliki pesan bagi kita yang hidup sebagai kaum mayoritas untuk bertoleransi dengan kaum minoritas.  “Puasa disini saya sadar bahwa jadi minoritas itu sangat sulit. Makannya untuk teman-teman muslim di Indonesia jangan sampai mentang-mentang kita mayoritas kita bisa seenaknya memperlakukan temen-temen kita yang minoritas. Disaat mereka tidak berpuasa dan ingin makan disana janganlah dilarang dengan alasan ‘hargai umat muslim yang berpuasa’ karena berpuasa itu kewajiban pribadi kita, urusan kita dengan Sang Pencipta. Justru dengan adanya teman kita yang tidak berpuasa dan mungkin makan di tempat yang memang diperuntukan untuk makan, itu merupakan ujian untuk iman kita, seberapa kuat kita menjalankan perintah Allah SWT,” pesannya. (Erina)

One Comment;

  1. Kian said:

    Dari jaman kuda lumping sampe skarang banyak kaleeee resto yg tetep buka slama puasa di Indo, kalo toh tutup ya krn si pemilik warung mo buka abis magrib….Jangan samakan Indonesia yg demokratif dengan negara komunis lah

*

*

Top