Ada Kisah Di Balik Penjaga Mukena

Rini, seorang mualaf memilih bekerja di Masjid Salman dan banyak menolak tawaran bekerja lainnya, demi urusan akhiratnya. (foto: Ayu)

“Pernah ada yang nawarin teh banyak sekali, gajinya itu rata-rata diatas dua juta. Tapi kalo saya pikir, saya disini nyari apa? Saya  nggak nyari apa-apa sebenarnya, cuma nyari akheratnya aja. Ada yang nawarin ke saya gaji di atas dua juta ada, tiga juta ada,  lima juta ada itu ngajaknya ke Kalimantan. Tapi gak saya ambil, saya lebih betah di Masjid.” ujar Ibu Rini yang menjadi mualaf karena mendengar lagu Jagalah Hati dari  A Agym .

Tangga Masjid Salman menjadi sandaran nyaman bagi para sosok wanita yang sehari-harinya menjaga mukena untuk akhwat yang akan menjalankan Sholat. Di saat-saat satu jam sebelum adzan dzuhur berkumandang hari ke 12 bulan Ramadhan ini,  terlihat tiga orang perempuan yang sedang duduk ditangga dekat tempat peminjaman mukena. Yang satu duduk sambil bersandar dengan mata terpejam, yang satu sedang tilawah Quran dan yang satunya lagi sedang melihat-lihat keamanan di sekeliling tempat wudhu akhwat.

Rasanya  kurang etis jika membangunkan ibu yang sedang nyaman tertidur dan memberhentikan ibu yang terlihat sedang tilawah QS. Al-Maidah itu. Harus menunggu beberapa waktu untuk berbicara dengan mereka. Akhirnya, setelah kurang lebih seperempat jam ibu itu terbangun, kami memulai berbincang-bincang dengannya.

Panggil saja Ibu Idar, warga dari Pelesiran kelahiran tahun 1959 ini sebelumya bekerja membantu tetangga dan suaminya lah yang bekerja di Masjid Salman. “Saya disuruh pergi kesini terus menghadap Mas Iqbal, Bu mau bekerja disini? (tawaran Mas Iqbal) Ibu teh ga nolak langsung weh mau,”. Esoknya Ibu Idar langsung bekerja.

Ibu Idar (59)  sudah menjaga tempat peminjaman mukena selama 13 tahun. (foto: Ayu)

Ibu dari delapan anak ini sejak kecil senang bermain di Masjid Salman hingga saat ini sudah punya 10 orang cucu. Jadi begitu beliau dapat tawaran untuk bekerja disini perasaannya sangat senang karena  bisa sambil ibadah, menambah ilmu dari mendengarkan ceramah-ceramah dan semakin banyak kenal dengan orang-orang.

Dibalik rasa kegembiraannya  itu, wanita yang sudah bekerja selama 13 tahun ini mengeluhkan perilaku dari sebagian perempuan-perempuan akil baligh yang datang ke Masjid Salman untuk menegakkan tiang agamanya. Ibu Idar ini merasa heran,  sudah besar mereka tidak menyadari tentang pentingnya menjaga kebersihan. Padahal sejak kecil mereka sering mendengar semboyan ‘kebersihan sebagian dari iman’ dan perintah ‘buanglah sampah pada tempatnya’ tapi masih saja banyak yang membuang sampah sembarangan.

Ibu Idar tidak sendirian menjaga tempat peminjaman  mukena, ternyata ada sosok wanita lain yang sering menemani Ibu Idar. Siapakah itu? Beliau adalah Ibu Rini yang sudah bekerja di Masjid Salman sejak tahun 2006. Ia adalah seorang mualaf yang Allah getarkan hatinya melalui lagu Jagalah Hati dari Abdullah Gymnastiar atau dikenal AGym.  Setelah lulus SMA, Ibu Rini tidak bekerja dan nekat berangkat dari Subang ke Bandung. “Tahun 2002 saya berjilbab, saya gak kerja, tinggal di rumah kakak setelah lulus lontang lantung aja. Terus saya memberanikan diri Bismillahirrahmanirrahim saya mau  ke Bandung, nyari kerja, kalau ngga (dapet) nanti balik lagi,” kenangnya, Rabu (7/6/2017).

Awalnya Rini datang ke Salman untuk mendonorkan darahnya karena dulu sering donor darah ke Salman bersama kakaknya yang kuliah di ITB. “Saya nanya lah ke mamang-mamang sini gimana cara masuk (kerja) sini. Saya cari tahu.” Akhirnya Rini menerima tawaran untuk kerja kasar yang penting halal.  Sebelum menjaga tempat mukena, Bu rini menikmati pekerjaan barunya sebagai penjaga asrama putri terlebih dahulu. Kemudian wanita mungil berkaca mata ini ditugaskan untuk membersihkan ruangan utama masjid dan membersihkan toilet akhwat. Setelah itu baru bekerja di kantor dan membantu satpam menjaga keamanan sekeliling Masjid Salman.  “Saya sudah betah kerja di Masjid Salman dan gak mau nyari kerja yang lain karena beliau niatnya ibadah dan tujuannya untuk akhirat,” ungkapnya.

Senada dengan Idar,  Rini pun memiliki suka duka bekerja di Salman. “Kalau dukanya mah banyak ya neng, kantor yang di sana itu suka dipake aktivitas mahasiswa, kadang mahasiswa itu suka ngecat ya ngecat aja, gak nyadar itu kantor apa bukan main cat aja, kotor. Nanti kan yang kena kan petugas yang disitu. Kalau buang sampah juga kan suka sembarangan. Kadang mau marah juga gak bisa. Padahal di kantor itu tempat sampah ada tiga, tinggal ngelangkah lima menit aja ngga, tapi mahasiswa itu buang sampah suka seenaknya. Nanti kalau di tegor mereka saling tuduh menuduh. Sampai pernah salah satu alat saya yang rusak,” kata Rini kesal.

“Kalo sukanya sih saya seneng liat akhwat-akhwat suka tilawah kaya gini,” ujar Rini sambil menunjuk ke arah depan. Terlihat sekumpulan perempuan berjilbab tengah membaca Alquran. Rini kadang bertanya mengapa  Islam beragam-ragam. Tapi baginya,  Salman tidak terpengaruh dari luar mau bagaimanapun. Tetap enjoy, tidak terpancingd, dan sungguh sederhana. Rini mengaku suka ikut mentoring, mengkaji tentang islam.

“Disini kan ada aturannya, ikutilah peraturan yang ada di Salman, tolonglah hargain kita (para petugas) jangan buang sampah sembarangan, saya pernah liat tuh teh pembalut itu di tempel di tembok. Tolong dong! Ikutlah jaga kebersihan masjid ini, biar terlihat indah, enak di pandang, nyaman buat kita gitu loh. Kalau kotor kan lihatnya risih ya. Kalau habis kegiatan tolong lah bersihin, jangan main tinggal,” pesan Rini.

Rini memiliki sepercik harapan tetang Salman. Ia menginginkan Salman lebih maju seperti masjid yang ada di Mekkah. “Jadilah seperti masjid di Madinah dan semoga penegak islam yang sesungguhnya lahir dari Masjid Salman,” harapnya. (Erina)

 

 

*

*

Top