Petikan Pelajaran dari Kisah Hidup Sang Kekasih Allah

sumber gambar: BiografiKu.com

Berbicara tentang shirah Rasulullah SAW tidak akan ada habisnya untuk dikupas di setiap sisi kehidupannya. Ilmu tentang kajian kehidupan Rasul ini terdapat di Fiqih Shirah. Sebelum membahas fiqih shirah maka hal yang pertamakali ditekankan adalah kenapa kita perlu mengkaji sejarah. Sebagian orang mungkin tidak begitu tertarik dengan sejarah. Bahkan sebagian orang mungkin beranggapan bahwa sejarah seperti halnya lembaran yang sudah layu dan usang sehingga tidak perlu diperhatikan lagi. Tapi hal ini keliru, karena Al-Quran sendiri sebagian isinya adalah tentang kisah zaman-zaman terdahulu.

Jika diperhatikan sejarah itu akan senantiasa berulang. Apa yang terjadi pada kaum terdahulu seperti Kaum Tsamud dan Kaum ‘Ad yang begitu maju, namun karena kesombongan dan tidak taat kepada Allah, maka Allah hancurkan kaum tersebut. Begitupun dengan sekarang, pembangunan negara tanpa dilandasi dengan pembangunan mental masyarakat, dan tanpa dilandasi keimanan, maka niscaya akan tersingkir juga. Hal ini membuktikan ada yang namanya sunnatullah, atau biasa lebih familiar dengan hukum alam. Suatu rumus kehidupan yang tidak akan berubah sampai kapanpun yang hanya bisa didapat melalui mengkaji sejarah. Maka semakin jauh seseorang memandang ke belakang, maka semakin visioner dia menghadapi masa depan.

Shirah nabawiyah yang berbicara mengenai segala sisi kehidupan Rasul. Memiliki hal-hal khusus yang tidak didapatkan dari literatur sejarah lain. Dari seluruh sejarah ummat manusia, ada yang seorang laki-laki yang begitu mulia yang tidak hanya dipuji oleh manusia, namun Allah juga memuji beliau. Bahkan malaikatpun kalah dengan akhlak beliau yang begitu sempurna. Setiap sisi kehidupan beliau dari sudut pandang manapun dapat dijadikan teladan bagi seluruh makhluk,. Dialah Rasulullah Muhammad SAW.

Di bandingkan dengan sejarah lain, shirah nabawiyah memiliki beberapa keistimewaan. Data sejarah rasulullah merupakan data sejarah yang paling valid. Karena disusun dengan metodologi yang sangat valid dan komprehensif. Setiap sisi kehidupan dan perkataan rasul terdapat sanad dan matan yang jelas bahkan tidak terputus. Karena salah satu keutamaan bangsa Arab adalah kuat hafalannya. Shirah nabawiyah juga merupakan catatan sejarah yang paling lengkap dan detail. Data sejarah ditulis secara rinci dari zaman keadaan bangsa Arab sebelum Rasulullah SAW lahir, sampai bagaimana kehidupan ummat dan peradaban setelah Rasulullah wafat. Selanjutnya shirah nabawiyah juga praktis, artinya setiap orang semestinya dapat meneladani kehidupan Rasul karena Rasulullah SAW adalah seorang manusia, bukan malaikat ataupun makhluk lainnya. Segala sisi kehidupan rasulullah dapat ditiru mulai dari bagaimana peran beliau selaku pemuda, seorang busssiness man, pemimpin keluarga, pemimpin pasukan perang, diplomat yang ulum, pemimpin negara, bahkan pemimpin peradaban. Mungkin kita tidak dapat meniru perilaku rasulullah secara meyeluruh, namun kita dapat mengambil beberapa lembar kehidupan Rasul yang dapat kita aplikasikan di kehidupan sekarang.

Sebelum membahas bagaimana kehidupan Rasulullah, maka babak pertama yang perlu diulas adalah kondisi bagaiman keadaan geopolitik peradaban saat zaman sebelum Rasulullah dilahirkan. Saat Rasulullah lahir. Pada saat itu terdapat dua peradaban besar di dunia, yakni Persia dan Romawi. Romawi saat itu terbagi menjadi dua yakni Romawi Barat yang beribu kota di Roma, dan Romawi Timur yang beribukota di Konstantinopel. Agama yang dianut oleh mayoritas penduduknya adalah nasrani yang telah banyak penyimpangan. Pada saat itu kondisi Romawi mengalami kemunduran peradaban yang dandai kebobrokan akhlak yang luar biasa.

Saat itu jumlah budak di Romawi tiga kali lipat banyaknya dibanding dengan orang merdeka. Budak dijadikan layaknya seperti binatang peliharaan yang diadukan dengan budak lainnya, dimana  yang menang akan diadukan dengan binatang buas. Pernikahan sangat susah, karena pajak yang tinggi dibebankan pada yang sudah berkeluarga, sehingga perzinahan terjadi dimana-mana. Keadaan ekonomi terpuruk, maka  negara menaikan pajak untuk menutupi kebutuhannya. Peradaban Persia lebih besar dibandingkan peradaban Romawi kuno. Bangsa Persia menyembah api, maka tidak heran jika perindustrian di Persia tidak maju. Seperti halnya Romawi, Persia juga tengah mengalami kebobrokan akhlak. Hal yang paling tergambar jelas adalah pernikahan sedara yang lumrah terjadi, jika ayah meninggal, ibunya diwariskan kepada anaknya, sesama saudara kandungpun menikah. Bahkan peradaban dunia lain pun mencela dengan pernikahan bangsa Persia ini. Tidak hanya itu terdapat juga pembagian kasta pada peradaban ini. Peradaban lain seperti India terkenal dengan pembagian kastanya. Peradaban Chinna terkenal dengan paham materialismenya.

Di tengah keadaan yang seperti itu, justu Allah mengutus Rasul dari golongan bangsa Arab. Bangsa Arab saat itu dalam masa jahiliah. Saat itu sering terjadi perang suku bahkan karena hal yang sepele, derajat perempuan sangat direndahkan, bahkan jika lahir anak perempuan harus dibunuh karena aib. Mayoritas penuduk tidak bisa membaca dan menulis. Bahkan peradaban besar seperti Persia dan Romawi saat itu tidak tertarik menjajah wilayah arab karena kebodohannya. Namun pertanyaannya adalah kenapa Allah mengutus Rasul terakhir, Muhammad SAW, justru dari kalangan bangsa Arab, khususnya Arab Makkah dan bukan dari bangsa Romawi dan Persia yang besar? Ternyata jika kita perhatikan terdapat beberapa pelajaran dan hikmah yang dapat diambil.

Makkah adalah kota tanpa ada warisan filsafat tidak seperti halnya Romawi dengan Aristotolesnya, dan Persia dengan Zoroasternya. Kebanyakan penduduk Arab pun umi atau tidak dapat membaca. Maka ketika islam masuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad, tidak akan ada kecurigaan bahwa islam adalah suatu paham yang dibuat oleh manusia. Sehingga orang-orang  yakin bahwa ajaran yang dibawa Rasulullah adalah langsung dari Tuhan Sang Khaliq. Selain itu kaum Arab merupakan kaum yang awalnya nirmiliter. Namun saat Rasullullah hadir, bangsa Arab berubah menjadi bangsa yang dapat menaklukan daerah daerah sekitarnya, bahkan mengalahkan bangsa yang besar hanya dalam rentang waktu 40 tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah melakukan pembinaan yang luar biasa terhadap ummatnya dan dimulai dari nol. Selanjutnya bangsa Arab adalah bangsa yang kaya akan sastra dan falsafah, artinya bahasa yang digunakan merupakan bahasa yang paling agung dan paling luas maknanya. Bahkan satu kata dapat berarti ratusan makna. Maka Al-Quran diturunkan berbahasa Arab. Karena bahasa yang paling tinggi derajatnya. Bangsa Arab sendiri telah memiliki fitrah tauhid. Karena bangsa Arab merupakan keturunan Nabi Ismail yang dulunya ditempatkan bersama ibunya oleh ayahnya Nabi Ibrahim atas perintah Allah SWT di suatu tempat bernama Makkah. Hingga akhirnya ada suatu kaum Arab asli  yang menetap di Makkah. Sehingga bangsa Arab pada dasarnya telah yakin akan Allah, Tuhan semesta alam. Hanya saja mereka tidak melaksanakan perintah-Nya dan banyak yang menyekutukannya. Maka ajaran yang dibawa oleh Rasulullah tentang ketauhidan sudah familiar di kalangan bangsa Arab.

Bangsa Arab juga memiliki beberapa sifat dasar yang baik dan dipertahankan oleh Rasulullah. Sifat pertama dari bangsa Arab adalah shidiq atau jujur. Bangsa Arab tidak mau berbohong. Merupakan aib tersendiri jika ada orang Arab yang ketahuan berbohong. Bahkan Abu Sufyan yang membenci Rasul pun ketika ditanya oleh kerajaan Romawi tentang bagaimana sifat Nabi Muhammad SAW, Abu Sufyan pun mengatakan yang sejujurnya bahwa Muhammad memiliki akhlak yang mulia dan beliau menyeru kepada kebaikan.

Sifat dasar kedua adalah bangsa Arab memiliki sifat dermawan. Bangsa Arab terkenal dengan sifatnya yang suka memuliakan tamu bahkan rela mengeluarkan satu satunya harta benda yang dimilikinya demi memuliakan tamu. Sifat baik ketiga adalah bangsa Arab dikenal berani dan punya harga diri yang tinggi. Meskipun bangsa yang tidak begitu besar, mereka tidak mau dihinakan. Sifat selanjutnya adalah mereka terbiasa hidup sederhana. Sehingga ketika Rasulullah mengajak berjuang ketika perang dengan segala keterbatasan, mereka tidak terlalu mengeluh karena biasa hidup sederhana. Maka sifat-sifat seperti inilah yang harus dimiliki untuk menjadi suatu bangsa yang besar, apapun agamanya, jika masyarakat memiliki sifat dasar seperti ini maka akan menjadi bangsa yang beradab.

 

 

Diulas dari kajian ifthar “Inspirasi Nabi, Kajian Fiqih Shirah Perdana” oleh Ust. Muhammad Elvandi, Lc., M.A. Kamis 18/05/2017

Related posts

*

*

Top