Bernostalgia dan Bicara Masa Depan Bersama Muslimin Nasution

 

Suasana Kunjungan ke Rumah Bang Mus (25/5) (Foto: Muti’ah)

Sebelum bertandang ke Kantor Pusat Partai Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) pada (25/5) lalu, Pengurus Salman ITB terlebih dahulu bertandang ke rumah salah satu sesepuh di Masjid Salman ITB, yaitu Ir. Muslimin Nasution. Beliau adalah salah satu pendiri Sekolah Islam  Salman Al-Farisi yang terletak di Jalan Haji Ten, Jakarta Timur. Sekolah tersebut merupakan sekolah pendidikan Islam dengan semangat Salman, semangat yang dibawa oleh pendirinya untuk menegakkan kalimat Allah selagi dini.

Bang Mus: Salman Memang Radikal

Disambut dengan hangat di rumah beliau yang berada di kompleks Masjid Salman Al-Farisi, Pengurus Salman menyampaikan perihal klaim ‘Sarang Sekularisme’ yang dijatuhkan oleh KH. Said Aqil Siradj, Ketua PBNU Pusat pada artikel portal berita Tempo (24/5) lalu kepada Bang Mus, panggilan akrab Muslimin Nasution.

“Kalau dari dulu, Salman memang radikal,” sahut Bang Mus disambut gelak tawa. “Dibuktikan dari usaha kita dahulu supaya mewujudkan berdirinya Masjid kampus. Pada awalnya untuk Shalat Jum’at masih ke Masjid Cihampelas, perlahan bisa di Aula Barat, setelah itu Alhamdulillah pada 1978 Masjid kita berdiri dengan usaha dari mahasiswa dan pengurus juga (saat itu disebut tim panitia). Radikal, kan?”

Beliau menilai klaim tersebut harus diambil sisi positifnya. Bagi orangtua dan mahasiswa, maupun calon mahasiswa akan mencari tahu lebih banyak mengenai Masjid Salman. Momen ini dapat dimanfaatkan sebagai promosi Masjid Salman ke khalayak umum. “Tinggal mereka simpulkan kita radikal atau tidak. Maka dibutuhkan branding yang baik dan jujur untuk menyatakan kualitas Masjid Salman,” jelas beliau.

Menurut Drs. Imam Choirul Basri, Wakil Sekretaris Umum Yayasan Pembina Masjid (YPM) Salman ITB, citra radikal tersebut mungkin muncul dari beberapa aktivis salman yang masih terkesan eksklusif dan kurang membaur dengan massa kampus. Akan tetapi, beliau juga menyampaikan bahwa Salman masih berbenah dan berusaha mendobrak kesan tersebut melalui kegiatan mahasiswa dan produksi film Iqro’. Bang Mus mengamini hal tersebut, “Pada salah satu perjamuan makan malam bersama Habibie, beliau memaparkan bahwa film layar lebar sangatlah penting, dan dakwah juga lebih penting. Maka dari itu bawalah budaya Indonesia yang berbasiskan agama Islam melalui film layar lebar.”

 

Pendidikan Islam untuk Basis Anak yang Baik

Salman ITB, menampik klaim radikalisme, merupakan suatu institusi Masjid yang berorientasi jauh ke masa depan. Salman memiliki cita-cita sebagai Masjid pembangun peradaban, bukanlah suatu cita-cita yang radikal sebagaimana radikal yang diartikan keras membangkang oleh khalayak umum saat ini. Masa depan tersebut dititipkan melalui tausiyah yang diberikan pada setiap eventnya, salah satunya Latihan Mujtahid Dakwah (LMD). Salman juga menjunjung tinggi nasionalisme dan pembangunan peradaban madani. Oleh karena itu, alumni Salman yang terjun ke masyarakat diharapkan mampu memberikan sumbangsih yang dapat dirasakan manfaatnya oleh banyak orang di negara ini.

Bang Mus bercerita bahwa banyak alumni Salman ITB yang ‘radikal’ membuat gebrakan yang berbeda dalam menyebar kebaikan. Salah satunya adalah hal konkret yang beliau lakukan. Menjadi salah satu pendiri  Sekolah Islam Salman Al Farisi, Bang Mus berbagi beberapa pengalamannya dan motivasinya selama proses pengembangan yayasan tersebut.

“Kita butuh banyak sekolah Islam agar basis anak menjadi baik dan kokoh. Sehingga jika dia melanjutkan ke sekolah apapun, dia sudah memiliki dasar keislaman yang kuat dari dini. Yang jadi dasar pemikiran saya lainnya adalah, menyediakan sekolah Islam yang biayanya sesuai dengan kantong kebanyakan masyarakat.

Jajaran Pembina dan Pengurus Salman berfoto dengan Bang Mus (Foto: Muti’ah)

Sudah banyak sekolah Islam yang bagus tetapi mahal, uang masuknya belasan bahkan puluhan juta, SPP-nya mencapai jutaan. Lantas bagaimana Bapak yang hanya punya motor di depan sana bisa menyekolahkan anaknya jika dia ingin menyekolahkan anak di Sekolah Islam?” tanya beliau membuat hadirin merenung.

 

Beliau menyadari bahwa harga yang lebih murah berakibat kepada kalahnya fasilitas dibanding sekolah lain. “Tapi tidak mengapa. Sesungguhnya kalau sumber pengaruh baik pada anak dibuat persentasenya, guru memiliki pengaruh sebesar 48%, manajemen kurikulum dan sebagainya 22%, dan fasilitas sebesar 20%. Kami mengupayakan guru terus belajar menjadi lebih baik dan menjadi semakin inspiratif untuk membentuk karakter anak yang Islami dan kokoh.”

Beliau mengambil contoh dari cerita Laskar Pelangi yang merupakan kisah nyata lahirnya anak-anak hebat hasil didikan seorang Ibu Muslimah. Karakter beliau yang kuat menghasilkan murid-murid yang berani bermimpi dalam keterbatasan dan berupaya mewujudkan mimpinya itu. “Oleh karena itu melalui Salman Al Farisi, dan Salman Bandung pun, kita harus mewujudkan sosok-sosok itu melalui pendidikan yang Islami,” jelas beliau.

Related posts

*

*

Top