Salim A. Fillah: Kualitas Umat Muslim Berantakan, Rapikan dengan Pohon Keimanan

Suasana Mabit Gerakan Subuh Jamaah Nasional bersama Salim A.Fillah, Jumat (5/5/2017) di Ruang Utama Masjid Salman ITB. (Foto : Fathia U.)

 

 

Ummat Islam zaman ini lemah dan pecah!

Secara kuantitas, memang banyak. Namun untuk kualitas, ummat Islam saat ini berantakan. Bisa dilihat dari arus media sosial yang bergelimang perselisihan. Ada beberapa kasus yang menghasilkan ustadz dadakan. Ustadz-ustadz dadakan ini belajar agama di internet, mengutip web-web yang tidak jelas keshahihannya. Menafsirkan ayat sekehendak hati tanpa memiliki dasar ilmu yang jelas. Apakah memang seperti ini kualitas ummat pada zaman dahulu?

Sesungguhnya kualitas Ummat Islam yang sesungguhnya diibaratkan dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 24-25 sebagai pohon yang baik. Pohon yang baik ini memiliki akar yang teguh, cabangnya menjulang ke langit, dan memberi buah dengan izin RabbNya.

“Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”

Karakteristik pertama yaitu akarnya teguh. Makna akar pada ayat ini adalah pondasi, yaitu iman. Seorang muslim mengupayakan untuk membersihkan segala syubhat agar terbentuk suatu dasar keimanan yang kokoh. Pondasi yang kokoh, menghasilkan suatu potensi yang kokoh terlebih dalam tindakan penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.

Sekarang potensi ummat seakan tertutup akibat adanya banyak perdebatan terkait suatu fiqh. Perdebatan ini dapat berujung hingga perselisihan. Ironisnya, hari-hari ummat Islam kini dipenuhi oleh perselisihan hingga melupakan keharusan untuk mempelajari sunnah lebih dalam. Padahal, sesungguhnya ulama ada 4 mahdzab, dan adalah baik jika kita saling menghargai perbedaan tersebut. Hal ini menunjukkan kekayaan daya pikir Islam, yaitu satu dalam perbedaan. Sumber hukumnya sama-sama Al-Qur’an dan sunnah, namun terdapat variasi yang sahih dan berasal dari sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Kedua, cabangnya menjulang ke langit. Cabang dimaknai sebagai sesuatu yang menyebar ke samping, demi menghasilkan suatu perlindungan dari teriknya mentari. Cabang merupakan salah satu simbol dari kebermanfaatan. Secara biologi, cabang bertujuan untuk memperluas wilayah fotosintesis, karena pada cabang terdapat daun-daun yang kelak akan tumbuh. Oleh karena itu, salah satu aspek keislaman yang cocok dengan simbol cabang adalah amal.

Sesuai fitrahnya, cabang akan menjulang ke langit, terkait kebutuhan daun akan cahaya untuk berfotosintesis. Menggalang potensi ummat salah satunya dengan ‘menggerakkan ummat untuk berorientasi amal (ke langit)’. Mempelajari dasar amal, yaitu ilmu dan melakukan amal dari sesuatu yang diketahui dan diyakini sehingga apapun yang dipelajari dapat diamalkan. Maka dari itu, agar proses beramal menjadi lebih barakah, perlu diperhatikan beberapa aspek. Pertama, meluruskan niat. Niat haruslah karena Allah semata. Kedua, meluruskan orientasi amal. Orientasi amal haruslah mengikuti niat karena Allah dan diperuntukkan untuk memberi manfaat kepada manusia. Tugas muslim adalah bagaimana menerjemahkan ilmu menjadi jawaban atas berbagai macam persoalan.

Salah satu penerapan dari kewajiban ini adalah menerapkan khusyu’ dalam sholat. Menurut Imam Al-Ghazali, pengertian khusyuk adalah apa yang tampak antara shalat dan takbir. Walaupun sholat dimulai oleh takbir, secara maknawiyah kalimat ini berarti setelah melaksanakan suatu shalat maka hingga takbir shalat selanjutnya kita terhindar dari maksiat. Mengetahui makna ini, membuat kita mengupayakan melaksanakan amalan shalat sebagaimana seharusnya. Karena shalat mencegah hal yang keji dan mungkar, maka maksiat akan terminimalisir, dan manusia yang melaksanakan shalat dengan baik akan menjadi manusia yang berorientasi manfaat bagi sesama.

Terakhir, memberi buah sekian musim dengan izin RabbNya.  Pada ayat ini terdapat kata ‘ukulaha’. Makna ‘ukulaha’ disini adalah tidak sekedar memberi manfaat, tapi juga memberi manfaat dengan nilai keinsanan yang paling tinggi. Maknanya seperti memberikan buah hasil panen disertai senyuman, bukan dengan melempar buah tersebut walau makna keduanya sama-sama ‘memberi manfaat’. Menyertai kebaikan kita dengan akhlak yang paling mulia.

Ambil kisah teladan dari Nabi Musa AS. Dalam peristirahatannya dari pelarian dari Kerajaan Fir’aun ke Madyan, setelah membunuh dan dikejar tentara Fir’aun, dalam kondisi kelaparan, Nabi Musa AS tetap memberikan bantuan kepada putri Nabi Syuaib AS yang meminta bantuan untuk mengambil air. Kenapa harus dengan ‘pelayanan terbaik’? Karena melalui hal ini, diperolehlah suri tauladan yang sangat baik, dan suri tauladan tersebut merupakan syiar yang paling dahsyat.

Salah satu bentuk konsolidasi potensi ummat adalah melalui organisasi. Pada zaman Rasulullah terdapat organisasi pemuda bernama Hifzhul Fudul yang berbasis di rumah Abu Jud’an. Organisasi ini merupakan lingkar tertinggi pergaulan Makkah saat itu. Anggota Hifzhul Fudul merupakan orang-orang dengan karakter intelektual yang baik, akhlak yang mulia, dan berdasar pikiran kokoh.

Dengan pendekatan analogi, jika Hifzhul Fudul terbentuk kembali dapat terbentuk  sebuah lingkungan dengan pendidikan tinggi dan akhlak mulia. Dari komunitas yang berisi sedikit orang ini, sebuah peradaban dapat kembali terbentuk. Maka dari itu, tugas mahasiswa saat ini adalah belajar sebaik-baiknya dan bertekadlah membangkitkan kembali organisasi sekelas Hifzhul Fudul tersebut.

Mahasiswa dikategorikan sebagai seseorang yang faqih, dan seseorang yang faqih diibaratkan sebagai dokter. Dokter mengetahui masalah pasiennya, melayani pasiennya, dan berusaha meningkatkan kesehatan masyarakat. Begitu pula seseorang yang faqih, ia mengetahui masalah ummat karena kealimannya. Ia mampu meng-upgrade kualitas ummat dengan ilmunya. Saat ini, masalah terbesar dari seorang faqih, terutama mahasiswa adalah kemampuan menjawab pertanyaan karena kefakiran ilmunya.  Padahal, potensi bangsa Indonesia salah satunya adalah kecerdasan akal.

Di luar negeri, Muslim Indonesia menjadi favorit baik menjadi Imam maupun ustadz. Dari Korea hingga Amerika. Hal ini disebabkan oleh pandainya orang Indonesia berdialektika dan kecerdasan serta keramah tamahannya. Selain itu, peninggalan sejarah Indonesia memiliki makna hingga detailnya. Hal ini membuktikan bahwa kecerdasan rakyat Indonesia sudah ada dari zaman dahulu sekalipun.

Maka dari itu pendidikan menjadi suatu hal yang penting. Apalagi mempelajari sejarah. Sejarah menurut Ibu Khaldun pasti selalu berulang, hanya saja terdapat perbedaan durasi tiap fasenya. Empat fase tersebut adalah masa berjuang, masa jaya, masa lalai, masa terpuruk, dan masa sadar, yang akan selalu berulang.  Ambillah contoh, belajar sejarah membuat kita memahami hikmah kedatangan Islam di Indonesia sebelum ada penjajahan Belanda, yaitu terbentuknya mental Islami, yaitu pribadi yang berharga diri, berkemauan berjuang dan  mempertahankan tanah air.

Fakta-fakta mengenai potensi umat ini selayaknya menjadi renungan bagi mahasiswa-mahasiswa untuk terus menggapai kualitas sebagaimana kata H.O.S. Cokroaminoto, “Setinggi-tinggi ilmu, sepandai-pandai siasat, semurni-murni tauhid”.

 

Related posts

*

*

Top