Percaya dari Mimpi Sepuluh Ribu Dollar

Panji Aziz Pratama. (sumber: media indonesia)

Salah satu dari enam puluh pemimpin muda dunia versi Global Changemakers tahun 2016, Panji Aziz Pratama pun demikian menceritakan pengalaman hidupnya.  Beliau berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya meninggal ketika beliau berusia dua setengah tahun. Karena itu, ibunya menjadi tulang punggung keluarga mereka. Untuk menyambung hidup, ibunya belajar memotong rambut dan merias pengantin, demi membiayai Panji dan saudaranya hingga besar. Panji pun langsung saja bercerita di depan para orang tua beswan Baraya dan Aktivis Salman saat Grand Opening tepat di hari Isra’ Mi’raj, Senin (24/4/2017) silam.

Untuk urusan pendidikan anak, ibunya tergolong sangat gigih. “Berawal dari dukungan orangtua, beliau yakin bahwa anaknya akan sukses. Beliau tak akan tinggal diam untuk melihat anak-anaknya sukses di masa depan,” ujarnya. Bahkan, ibunya sampai berutang untuk membiayai pembelian buku pelajaran  Panji dan saudaranya. Untungnya, saat  Panji bersekolah di SMP dan SMA,  Panji hanya perlu membayar uang seragam, dan saat berkuliah di program studi ilmu kesejahteraan sosial Universitas Padjajaran (Unpad), beliau memperoleh beasiswa bidikmisi selama empat tahun.

“Dulu saya pernah ingin berkuliah di Universitas Indonesia (UI), namun terpaksa diurungkan karena ketiadaan biaya. Padahal, saat itu (2012), saya sudah diterima di UI melalui SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan,” kenangnya.

Beliau juga pernah hampir memperoleh beasiswa dari perusahaan pengolah kelapa sawit. Namun, lagi-lagi beliau tidak jadi mengambilnya, karena adanya kewajiban untuk mengabdi di perusahaan tersebut setelah lulus kuliah. Akhirnya, melalui seleksi jalur khusus, beliau diterima di program studi kesejahteraan sosial di Unpad.

Perjuangan beliau untuk masuk perguruan tinggi memang tidak mudah, bahkan boleh dikatakan cukup berliku. Namun, menurut beliau, itu memang konsekuensi dari sebuah perjuangan. “Tak ada perjuangan yang simple. Kalau mau sukses, kita harus siap. Siap gagal, dan siap sukses,” tegasnya.

Saat beliau berkuliah, beliau memiliki satu keinginan besar. “Kuingin diri ini menjadi manfaat bagi banyak orang,” jelasnya. Karena itu, pada hari Ahad (10/2/2013), beliau mendirikan sebuah organisasi nonprofit yang disebut Isbanban (Istana Belajar Anak Banten). Organisasi ini bergerak dengan tiga program andalan, yaitu pembangunan taman baca, minggu belajar, dan pemberian beasiswa bagi anak-anak di daerah 3T (tertinggal, terpencil, dan terluar) di seluruh pelosok desa di Provinsi Banten.

Program pengabdian masyarakat yang digagasnya  tidak sia-sia. Melalui program tersebut, beliau berhasil menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam World Youth Summit 2015 di Imphal, Manipur, India (29/3/2015-2/4/2015). Pada ajang bertema ‘Youth For Global Empowerment’ tersebut, beliau meraih penghargaan sebagai Best Presenter pada kategori Youth and Education.

Prestasi beliau tidak berhenti sampai di situ. 2016 lalu, beliau kembali menorehkan prestasi gemilang, yaitu masuknya beliau dalam daftar enam puluh pemimpin muda dunia versi Global Changemakers. Lagi-lagi, prestasi tersebut diraih atas kerja kerasnya dalam mencerdaskan anak-anak di Banten melalui organisasi Isbanban. Dan karena itu pula, beliau pernah diundang untuk mengisi suatu acara inspiratif di salah satu stasiun televisi swasta.

Setelah diwisuda dari Unpad pada hari Rabu (3/8/2016), beliau ingin sekali melanjutkan kuliah pascasarjana. “Alhamdulillah, mimpi sepuluh ribu dolar yang pernah saya impikan saat kecil terwujud, melalui beasiswa di Amerika (Serikat) yang nilainya 10.000 USD, “.  Tidak hanya itu, beliau juga sempat bermimpi ingin keliling dunia. “Saya memimpikan keliling dunia itu inspirasinya dari permainan monopoli. Alhamdulillah, akhirnya terwujud juga, dan saya bisa pergi ke Malaysia, India, Swiss, dan Amerika, melalui beasiswa pelatihan,” jelasnya.

Beliau mengakui, keberhasilan yang beliau raih hingga saat ini tidak lepas dari tiga nilai besar yang terbangun dari pola asuh ibunya, yaitu empati, menghargai, dan percaya. “Pola asuh orangtua adalah faktor terpenting dalam perkembangan anak,” tegasnya.

Ibunda beliau sadar akan hal ini, sehingga  Panji dan saudaranya diasuh dengan melakukan empat hal: percaya pada setiap potensi anak, memberi anak kepercayaan dalam memilih keputusannya dengan berbagai pertimbangan dari orangtua, menjadi tempat cerita yang menyenangkan bagi anak, serta menjadi rumah tempat kembalinya seorang anak.

Selain dari pola asuh orangtua, tiga nilai tersebut juga tertanam pada diri beliau melalui pengalaman-pengalaman pribadinya. “Empati saya terbangun dari pembangunan taman baca. Nilai menghargai terbangun dari keikutsertaan saya dalam World Youth Summit 2015. Adapun nilai percaya terbangun dari mimpi sepuluh ribu dolar,” jelasnya.

Di akhir talkshow, beliau menyampaikan beberapa pesan kepada para beswan. “Adik-adik harus bersyukur. Belajar yang rajin, minta restu orangtua. Kalian harus kenal dan berperilaku baik pada orang lain, agar mendapat lebih banyak kebaikan,”. (Faisal T)

*

*

Top