Tetap Ikut LMD Nasional Meski Jauh Dari Aceh

Mahathir Muhammad (kedua dari kiri) bersama para peserta Latihan Mujtahid Dakwah Nasional (LMDN) 186 Salman ITB lainnya saat sesi fieldtrip (kunjungan lapangan) di Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA), Kamis (13/4/2017) lalu.

Mahathir Muhammad (kedua dari kiri) bersama para peserta Latihan Mujtahid Dakwah Nasional (LMDN) 186 Salman ITB lainnya saat sesi fieldtrip (kunjungan lapangan) di Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA), Kamis (13/4/2017) lalu.

 

Beberapa hari yang lalu (12-16/4/2017), Yayasan Pembina Masjid (YPM) Salman ITB melalui Bidang Mahasiswa dan Kaderisasi (BMK) menyelenggarakan Latihan Mujtahid Dakwah Nasional (LMDN) 186. Kegiatan ini diikuti oleh 97 peserta dari berbagai universitas dan provinsi di Indonesia. Peserta tidak hanya berasal dari Pulau Jawa, tetapi juga banyak yang dari luar pulau, seperti Aceh, Sulawesi Utara, dan lain-lain.

Mahathir Muhammad salah satunya. Mahasiswa kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) angkatan 2013 ini menjadi salah satu peserta LMDN. Ia termasuk delegasi dari LDF (lembaga dakwah fakultas) bersama 2 temannya yang laki-laki dan 3 perempuan . Mereka datang jauh dari Aceh ingin bertemu dan mendengarkan pemateri yang luar biasa. “Jarang-jarang para aktivis dakwah bisa berkumpul secara nasional selama ini. Jadi, ukhuwah Islamiyyah kita bisa ditingkatkan,” ujar Mahathir.

Mahathir mengetahui pengumuman LMDN dari temannya mahasiswa  Unpad (Universitas Padjajaran), yang merupakan teman senatnya di Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia. “Satu hari sebelum penutupan perpanjangan pendaftaran, teman saya itu beri info mengenai LMDN ini. Karena saya rasa LMDN ini menarik, saya akhirnya daftar. Siapa tahu, saya bisa bertemu teman saya di Unpad itu. Tapi, qadarullah (Allah telah menetapkan), kami tidak bertemu sampai sekarang karena ia sedang sibuk mempersiapkan diri untuk UTS (ujian tengah semester) di Unpad,” kata Mahathir bercerita.

Baginya, mengikuti LMDN ini dengan tujuan untuk melihat pola-pola penyelenggaraannya. Sebab, ia ingin membawa perubahan baru untuk Lembaga Dakwah di Fakultas Kedokterannya. Ia ingin dengan mengikuti LMDN bisa menjadikan lembaga dakwahnya menjadi organisasi yang madani.

Mudah-mudahan, dengan mengikuti LMDN ini, saya bisa membenahi fakultas dan organisasi kampus, karena beberapa tahun lalu, lembaga dakwah di FK (fakultas kedokteran) sempat lesu, sampai-sampai satu angkatan tinggal dua orang.

Untuk mengikuti LMDN ini, Mahathir  sempat mendapat hambatan dari fakultas. Karena saat ini ia sedang menjalani koas (program profesi dokter) di bagian penyakit dalam. Perizinan dari kampus sulit menyebabkannya  terpaksa cuti sepuluh pekan dan mengulangi seri koas yang ditinggalkan satu setengah tahun kemudian. “Namun, alhamdulillah, tidak ada pertentangan dari orangtua, karena sebelumnya orangtua sudah saya beri pemahaman mengenai LMDN ini,” kata lelaki asal Lhokseumawe ini.

Meski cuaca di Bandung dingin, ia berusaha untuk adaptasi. Selain itu, waktu shalatnya sekitar satu jam lebih awal daripada waktu shalat di Banda Aceh. Kondisi Salman baginya sangat bersahabat. “Masjidnya makmur”, katanya. Acara yang menarik dibungkus dengan pemateri yang  luar biasa membuat berbagai materinya menjadi inspiratif. Mahathir berharap agar program ini konsisten dilaksanakan, dan kader-kadernya bisa dikirim secara berkelanjutan, “Karena pembelajaran lebih efektif dengan pengalaman langsung,” ungkapnya. [Ed: Ft]

 

 

 

 

*

*

Top