Kenapa Kita Begitu Lemah?

Awas Wahn! (sumber: deviantart.com)

Awas Wahn! (sumber: deviantart.com)

Lebih dari 5 abad yang lalu, pemuda itu berdiri gagah di deret terdepan barisan pasukannya. Kudanya yang juga gagah, membawanya melesat, berlari kencang sembari memimpin pasukannya. Beberapa strategi digagasnya dengan cerdas. Sekian hari ia dan pasukannya berjuang. Malam hari, bukannya tidur menumpas kelelahan, lampu tendanya Ia biarkan tetap terjaga untuk menemaninya menghadap Tuhannya pada sepertiga malam terakhirnya. Pemuda itu diriwayatkan tidak pernah meninggalkan tahajjud dan rawatibnya semenjak baligh. Beberaoa hari kemudian, sebuah pusat peradaban saat itu jatuh ke tangannya. Pemuda itu, belum 25 tahun umurnya.

Berkaca kita pada pemuda saat ini. Kenapa kita begitu lemah?

Pemuda itu terkenal haus ilmu dan telah dididik agama yang kuat sedari kecil. Pemuda itu begitu menyukai ilmu filsafat dan kedokteran. Karena semangatnya memahami ilmu-ilmu illahi, dia mampu menguasai kedua ilmu tersebut secara autodidak pada usia 17 tahun, dan mulai melayani kerajaan pada usia 20 tahunan. Pada masa itu, pemuda itu barhasil menyembuhkan penyakit Raja yang sulit disembuhkan oleh Tabib manapun. Saat dipuji, ia berkata “Itulah berkah dari Tuhanku”.

Kenapa kita begitu lemah?

Pemuda itu adalah seseorang yang murah senyum dan jujur. Saking jujurnya, masyarakat menjulukinya Al-Amin. Pada masa mudanya, Ia menjualkan barang dagangan seorang saudagar perempuan yang sangat sukses pada masanya. Dagangannya selalu habis dan untung walaupun jumlah kelebihan harga dari modalnya tidak begitu banyak. Selain itu tutur kata dan perilakunya yang sopan membuat konsumen dagangannya jatuh hati. Saudagar perempuan tersebut terkesan dan  jatuh hati kepada pemuda tersebut. Tak lama kemudian mereka menikah, dan dari rahim perempuan tersebut lahirlah putra-putri yang berperangai halus dan menjadi suri tauladan.

Kenapa kita kini, begitu lemah?

Sesungguhnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memfirmankan kepada kita mengenai sebab kelemahan ummat muslim. Hal tersebut tersurat dalam QS Al-Baqarah ayat 174.

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

Adanya sifat kitman atau menyembunikan, yang merupakan salah satu sifat mustahil bagi Nabi, adalah salah satu sebab mundurnya ummat Islam masa kini. Menyembunyikan kebenaran berarti menyembunyikan hikmah dan ilmu yang dapat dijadikan pedoman untuk mencegah kebodohan dan perpecahan, sebagaimana yang terjadi pada masa ini. Hilangnya pedoman dalam berpikir dan bertindak menyebabkan autotafsir, menimbulkan terlalu banyak kesalah pahaman hingga Ummat Muslim juga terpecah belah secara internal. Makna menjual Kitab Allah dengan harga murah adalah bukan mengenai harga nominal, namun menurunkan value dari ayat-ayat Allah tersebut, namun menjual berarti kiasan; mempergunakan ayat-ayat Allah untuk mengambil hati pada keperluan yang sangat duniawi, seperti memepertahankan kedudukan. Misalkan, seorang ustadz menyembunyikan kebenaran yang dibawa suatu ayat karena masalah politik.

Sesungguhnya, pemuda mulia yang kelak kita kenal sebagai Rasulullah, telah banyak memberi petunjuk sebab kelemahan dalam hadits-haditsnya. Beberapa hadits yang akan dibahas dalam artikel ini adalah hadits- hadits berikut berkaitan dengan cinta dunia (Al-wahn), kausa utama dari kelemahan ummat. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala melindungi kita dari sifat ini. Cinta dunia seringkali menjadikan kita lupa kematian dan kehidupan akhirat. Cinta dunia seringkali menjadikan kita beribadah dengan sia-sia karena niat yang salah. Cinta dunia kerap menjadikan kita membutakan diri terhadap kebenaran karena hal yang benar kadangkala pahit jika disandingkan dengan kesalahan kita yang acap terlalu manis.

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Definisi Al-Wahan diperjelas oleh Anas Bin Malik dalam Jami’ Ushul fi Ahadits Rasul sebagai sumber berbagai macam kejahatan. “Cintanya kamu pada suatu perkara menjadikan buta dan tuli,” tulis beliau menyempurnakan definisi tersebut. Pada Musnad Al Bazzar; 7/80 Mu’adz bin Jabal berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Jika telah nampak pada kalian hubud dunya maka kalian tidak akan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar serta tidak akan berjuang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala”.

Efek dari cinta dunia dipaparkan pada Alamat Nubuwwah 434/7, dari Abu Umamah. Pada pemaparan tersebut Abu Umamah berkata, “Ketika Rasulullah SAW diutus, iblis mengutus bala tentaranya seraya dia berkata, ‘Sungguh telah dibangkitkan seorang Nabi dan ummat dikeluarkan dari kegelapan Jahiliyyah. Dia berkata ‘Apakah mereka cinta dunia? Mereka menjawab ‘Ya”. Dia berkata, “Jika keadaan mereka mencintainya, maka tidak mengapa mereka tidak menyembah berhala. Sesungguhnya mereka tidak akan terlepas dariku dan aku akan memperdayakan mereka dengan tiga perkara, yaitu: 1) mengambil harta yang bukan haknya; 2) mengeluarkan dengan bukan haknya; 3) dan menahannya dari haknya. dan kejahatan semuanya dengan mengikuti ini.

Wallahu A’lam Bishawab, semoga Allah lindungi kita dari cinta dunia, sifat utama penyebab kelemaham kaum Muslimin.

*dicatut dari Kajian Sabtu Dhuha 15 April 2017

Related posts

*

*

Top