Busyro Muqoddas dan Aher Berikan Nasihat di LMD Nasional Soal Kepemimpinan

Mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum. (ketiga dari kanan) dan Gubernur Jawa Barat, Dr. (H.C.) H. Ahmad Heryawan, Lc., M.Si. (ketiga dari kiri) berfoto bersama sejumlah pengurus YPM (Yayasan Pembina Masjid) Salman ITB setelah shalat Jumat (14/4/2017) di Masjid Salman ITB. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum. (ketiga dari kanan) dan Gubernur Jawa Barat, Dr. (H.C.) H. Ahmad Heryawan, Lc., M.Si. (ketiga dari kiri) berfoto bersama sejumlah pengurus YPM (Yayasan Pembina Masjid) Salman ITB setelah shalat Jumat (14/4/2017) di Masjid Salman ITB. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Tepat pada hari  Jumat (14/4/2017) lalu, yang bertepatan dengan hari libur nasional di seluruh Indonesia, Masjid Salman mengadakan Latihan Mujtahid Dakwah Nasional 186. Sebanyak 97 aktivis dakwah dari seluruh penjuru di Indonesai mengikuti program unggulan Salman yang diadakan sejak  Jumat 14 April – 16 April 2017.  Ada perbedaan dari LMD kali ini, sebab LMD yang biasa diselenggarakan untuk lingkup se-Bandung Raya, kini LMD mencapai lingkup Nasional. Pemateri yang hadir pun adalah  dua tokoh nasional, yaitu mantan ketua KPK, M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum,  dan Gubernur Jawa Barat, Dr. (H.C.) H. Ahmad Heryawan, Lc., M.Si.

 

Mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi KPK), M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum., sedang memberikan materi kepada para peserta Latihan Mujtahid Dakwah Nasional (LMDN) 186 di Gedung Serbaguna (GSG) Salman ITB, Jumat (14/4/2017) lalu. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi KPK), M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum., sedang memberikan materi kepada para peserta Latihan Mujtahid Dakwah Nasional (LMDN) 186 di Gedung Serbaguna (GSG) Salman ITB, Jumat (14/4/2017) lalu. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Busyro Muqoddas : LMD Berikan Nutrisi Ruh, Nilai, dan Doktrin Keislaman

Pagi itu, sekitar pukul 07.30 WIB,  Busyro memulai penyampaian materinya. Tentu saja, karena beliau pernah menjabat sebagai ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), materinya tidak jauh-jauh dari tema antikorupsi. Karena para peserta LMDN diproyeksikan untuk menjadi pemimpin-pemimpin bangsa di masa depan, beliau menyampaikan materi dengan judul ‘Memimpin Tanpa Korupsi’.

Dalam materinya, beliau menyampaikan bahwa dahulu beliau pernah mengikuti LMD pada tahun 1970-an, saat masih bernama Latihan Mujahid Dakwah. Menurut beliau, LMD sangat bermanfaat bagi dirinya. “Ketika mengikuti LMD, saya memperoleh nutrisi baru. Nutrisi itu berupa ruh, nilai, dan doktrin keislaman,” jelasnya. Menurut beliau, doktrin keislaman terdiri atas tiga hal: liberty (kemerdekaan), humanisasi (kemanusiaan), dan transendensi (menghadirkan nilai-nilai ilmiah).

Beliau menekankan pentingnya memiliki ruh, nilai, dan doktrin keislaman dalam kehidupan, termasuk dalam hal mempelajari ilmu. Tiga hal tersebut penting dimiliki agar ilmunya ‘amaliyyah (bermanfaat) dan amalnya ‘ilmiyyah (berdasarkan ilmu). Dengan demikian, tercipta perubahan yang positif di masyarakat, sehingga manusia benar-benar menjadi makhluk yang sempurna. “Menjadi makhluk sempurna, khuluqin ‘azhim, berarti menjadi yang ‘berkeadaban’,” tegasnya.

Dalam menjalankan pemerintahan, ruh, nilai, dan doktrin keislaman juga penting untuk dimiliki. Tanpa tiga hal ini, akan banyak terjadi penyimpangan dalam keberjalanannya, termasuk korupsi yang merajalela. “Kasus-kasus korupsi di pemerintahan telah menunjukkan bahwa memimpin negara tanpa nutrisi tadi akan berakibat buruk,” ujar Busyro.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa penyebab utama korupsi ada dua, yaitu krisis akhlak dan ‘segitiga timpang’. Krisis akhlak terjadi karena otak tidak dipandu oleh hati yang tenang, yang sudah terpenuhi nutrisinya, sehingga otak tidak terkontrol. Akibatnya, akal pikiran tidak berfungsi dengan baik, sehingga terjadilah tindak pidana korupsi, tanpa berpikir panjang mengenai akibatnya.

Selain krisis akhlak, merajalelanya korupsi di Indonesia juga disebabkan oleh ‘segitiga timpang‘, di mana negara lebih banyak diatur oleh pemerintah dan pihak swasta. Akibatnya, kontrol dari rakyat menjadi tidak begitu berpengaruh terhadap keberjalanan pemerintahan. Maka, menurut beliau, peran serta alumni LMD untuk mengakhiri ketimpangan ini sangat diperlukan, dengan cara menghasilkan karya-karya ilmiah yang mengandung ruh, nilai, dan doktrin keislaman.

Lalu, bagaimana cara memimpin tanpa korupsi? Sebagai mantan ketua KPK, tentu saja beliau tahu cara-caranya. “Membawa nilai-nilai kenabian, memiliki paradigma kepemimpinan, menjalankan peran strategis dan ideologis sebagai mahasiswa, dan memegang teguh komitmen perlawanan terhadap korupsi,”.

Untuk menjadi pemimpin yang antikorupsi, seseorang harus memiliki konsep dan paradigma yang benar mengenai kepemimpinan. “Kepemimpinan itu intinya adalah mempengaruhi orang untuk kebaikan,” tegasnya. Tak lupa pula, beliau menekankan bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses. Ya, ia adalah sebuah proses untuk memberikan output berupa kebaikan.

Aher : Kekuasaan Adalah Jalan Tol Melaksanakan Tugas Sebagai Khalifah

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan sedang memberikan materi kepada para peserta Latihan Mujtahid Dakwah Nasional (LMDN) 186 di Gedung Serbaguna (GSG) Salman ITB, Jumat (14/4/2017) lalu. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan sedang memberikan materi kepada para peserta Latihan Mujtahid Dakwah Nasional (LMDN) 186 di Gedung Serbaguna (GSG) Salman ITB, Jumat (14/4/2017) lalu. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Aher tiba di Gedung Serbaguna Masjid Salman sekitar pukul 11.00 WIB. Dalam materinya, beliau mengajak para mahasiswa untuk tidak takut berpolitik dan memegang kekuasaan, karena kekuasaan adalah salah satu jalan tol untuk beramal shalih. “Setiap kali kewenangan dan kekuasaan hadir akan lebih leluasa melakukan kebaikan,” ujar beliau.

Ia lalu menceritakan beberapa pengalamannya saat menjadi Gubernur Jawa Barat. Sebelum beliau menjabat sebagai gubernur, jumlah anak yang memperoleh pendidikan di Jawa Barat sangat sedikit. Namun, setelah beliau menjadi gubernur, jumlahnya meningkat seiring dengan adanya program BOS (Bantuan Operasional Sekolah). “Ketika jadi gubernur, ada (dana) sehingga jumlah anak sekolah yang awalnya ratusan, kini sudah meningkat 1,7 juta orang,” jelasnya.

Aher mengingatkan bahwa kekuasaan adalah jalan tol untuk menjalankan tugas dari Allah Azza wa Jalla, yaitu menjadi khalifah di bumi. Untuk merebut kekuasaan, seseorang harus memasuki dunia politik. Maka, sebagai calon pembangun peradaban, mahasiswa tidak boleh takut berpolitik untuk merebut kekuasaan.

“Kita biasanya fasih berbahasa yang lain, tetapi politik dan kekuasaan tidak. Padahal itu termasuk dalam konteks peradaban. Oleh karena itu mulai sekarang jangan ragu lagi berpolitik untuk merebut gubernur, bupati, bahkan presiden,” katanya. Tak lupa, beliau mengingatkan para peserta agar senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai  software kehidupan, termasuk dalam berpolitik dan memegang kekuasaan. Sekitar lima menit sebelum azan Jumat, beliau akhirnya menutup materinya.

Setelah  selesai menyampaikan materi, Gubernur Jawa Barat itu langsung turun ke ruang utama masjid. Beliau menjadi khatib dan imam shalat Jumat pada  hari itu. Usai shalat Jumat, para peserta dan panitia menikmati makan siang, kemudian mengikuti apel pelepasan di lapangan rumput timur Salman ITB sebelum berangkat ke Jatinangor, Sumedang. [Ed: Ft]

*

*

Top