Tingkatkan Awareness Dakwah Kreatif di “Geura Fix Keun!” Reklamasa

ol

Reklamasa sedang melaksanakan proses shooting. (dok. reklamasa)

Masih ingat dengan salah satu unit Salman ITB yang terkenal dengan gaya ‘anak gaul masjid yang usil dan kreatif’? Unit yang sudah mulai memproduksi karya videografi dan desain grafis? Ya, Reklamasa (Reklame Massa Salman ITB)! Reklamasa mengadakan ‘Geura Fix Keun!’; sebuah workshop desain grafis pada Ahad, 9 April lalu. Atmosfir  Ruang Utama Masjid Salman ITB terasa cukup berbeda kala itu, karena diramaikan oleh umat manusia pencinta grafis. Untuk meningkatkan motivasi, diundanglah tiga pembicara yang mumpuni di bidang syiar kreatif: Riza Sativianti (Pendiri Komunitas Muslimah Kreatif Hijabographic), Seto Buje (komikus @si_Bedil), dan Inong (Creative Director Pemuda Hijrah).

Masing-masing ranah syiar kreatif yang mereka gawai memiliki gaya masing-masing. Hijabographic adalah komunitas artwork design yang beranggotakan perempuan-perempuan pencinta hijab. Komik Si Bedil, yang terkadang diwarnai kritikan terhadap kondisi Indonesia dan cukup menyentak hati, mampu menyisipkan pesan-pesan yang dalam melalui komik-komiknya. The Shift alias Pemuda Hijrah adalah komunitas penggerak dakwah yang diikuti oleh banyak kalangan, mulai dari anak punk, underground (punk, gelandangan-pengemis, pengedar narkoba, geng-geng pergaulan bebas)hingga kalangan pengejar ilmu biasa. Masjid yang dijadikan lokasi kajian yang diadakan oleh komunitas ini biasanya menjadi penuh dan ramai akibat style penyampaian kajian yang menarik dan menyentuh hati.

Agar tercipta lagi gerakan yang senada dengan gerakan-gerakan ini, Reklamasa mengadakan workshop Geura Fix Keun! untuk menghidupkan kembali awareness masyarakat mengenai pentingnya dakwah melalui channel syiar media dan syiar kreatif. Menurut Abdullah Sholahuddin Al-Ayyubi, Ketua Unit Reklamasa ITB, channel dakwah kreatif menjadi jauh lebih efektif setelah kemunculan media sosial.

“Kebutuhan syiar dalam bentuk  grafis saat ini dalam berdakwah adalah suatu hal yang penting. Pada awalnya pembuatan poster masih dianggap hal yang sekunder. Yang penting ada kemampuan marketing yang bagus saja, tidak apa-apa. Sejak bermunculan media sosial, dakwah kreatif menjadi salah satu channel dakwah yang efektif. Namun, karena membanjirnya informasi melalui syiar media, saat ini dibutuhkan skill desain yang baik dan dapat menghasilkan karya yang berbeda dengan karya yang lain. Biasanya, karya yang paling disukai oleh khalayak umum adalah karya dengan grafis yang bagus dan menyentuh hati”, papar sosok yang akrab dipanggil Ayub ini.

Dakwah Kreatif Invasif: Kebutuhan Saat Ini

Ayub yang merupakan salah satu mahasiswa Seni Rupa ITB 2014 memaparkan bahwa karya grafis yang baik untuk menembus kancah dakwah saat ini adalah karya yang berbeda. Berbeda dalam artian desain dan gaya grafis yang out of the box, inovatif dan invasif. Perbedaan tersebut memiliki kekuatan yang besar jika kontennya adalah konten yang valid (berasal dari sumber yang jelas, bukan hadits lemah atau hoax) dan menyentuh, diikuti dengan grafis dan tipografi yang tepat.

Definisi invasif menurut Ayub adalah karya yang tepat guna, unik dan karena keunikannya, karya tersebut disebarkan secara massal. Membuat karya yang inovatif dan invasif dapat dilakukan secara sintesis, yaitu dengan cara menggabungkan beberapa ide yang telah ada menjadi sesuatu yang unik,  dan dengan cara menghasilkan karya dengan style yang baru atau original. Perlu diingat bahwa karya syiar tersebut haruslah karya yang tepat guna, dalam definisi pesan yang tersampaikan secara efektif dan bisa menjangkau banyak kalangan.

Membuat suatu karya syiar yang kreatif akan lebih efektif jika dilakukan bersama komunitas. Pemuda Hijrah misalnya. Komunitas dakwah yang diikuti oleh banyak kalangan underground ini memiliki keunikan. Ciri khas dari syiar pemuda hijrah adalah menekankan kepada hal-hal terkini dan menekankan kemurah-hatian Allah, menimbang banyak kalangan underground yang ingin taubat sudah pesimis dengan usahanya bertaubat akibat merasa dirinya sudah terlalu banyak dosa. Jika dakwah media lain dilakukan dengan menyiarkan hal-hal yang secara fitrah kurang enak didengar (walau harus diketahui adanya) seperti azab-azab di Neraka, maka penikmat media sosial akan cenderung tidak menerima dakwah tersebut. Kadangkala dakwah tentang gambaran balasan di Surga juga dirasa nonsense oleh beberapa kalangan, karena balasan tersebut ada pada tahap future, atau ‘nanti’. Dakwah yang menyorot pada balasan amal yang present (saat ini) dan menekankan bahwa Allah Maha Pemurah dan Penerima Taubat adalah dakwah yang mampu membuat pemirsa media sosial merenung dan bersemangat dalam menimba ilmu agama. Ada motivasi yang menyatakan bahwa jika dirinya bertaubat sekarang, maka belum terlambat dan Allah justru menerima taubatnya tersebut.

Peminat Grafis Masih Kalangan Menengah ke Atas

Pada masa ini dakwah yang ‘gue banget’ juga tepat dalam menarik hati masyarakat. Berkat kesadaran terhadap fakta tersebut dan masifnya penggunaan media sosial saat ini. Berbagai media unik dihasillkan mulai dari grafis, komik, hingga videografi dan animasi. Kajian Pemuda Hijrah merupakan salah satu kajian yang menjalankan hal tersebut. Hal ini meningkatkan keefektifan dakwah, dibuktikan dengan berbondong-bondongnya massa saat kajian dari Pemuda Hijrah dilaksanakan.

Walaupun efektif, menurut Ayub, ditilik dari tren tipikal peserta beberapa workshop grafis,  kebanyakan workshop tersebut diikuti oleh kalangan menengah ke atas. “Mungkin hal ini dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan, salah satunya kamera, yang kita tahu tergolong mahal,” ujar Ayub. Namun kedepannya, Ayub berharap agar lebih banyak lagi kalangan biasa maupun menengah kebawah yang mengikuti workshop ini. “Mumpung gratis,” katanya sambil mengulum senyum.

 

Related posts

*

*

Top