Pentingnya Dakwah a la Zakir Naik

Helping

sumber gambar: mazacproject.github.io

 Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Kita tentunya sudah familiar dengan ayat di atas (Q.S. Al-Ashr :1-3). Ayat ini menjelaskan tentang kesuksesan hidup di dunia dan akhirat yang sesungguhnya. Pada ayat tesebut dijelaskan bahwa terdapat empat pilar kesuksesan hidup. Pilar kesuksesan hidup tersebut diantaranya, iman, amal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Apabila kita mampu menjalankan keempat pilar itu maka inysa Allah, surga adalah tempat kita kembali di akhirat kelak.

Salah satu dari keempat pilar kesuksesan itu adalah saling menasihati supaya mentaati kebenaran, dengan kata lain adalah dakwah. Dalam bahasa arab,  dakwah artinya ajakan atau undangan, dimana undangan tentunya ditunjukan kepada pihak luar. Maka, dakwah adalah undangan kepada nonmuslim untuk masuk islam. Jika ajakan untuk kembali dalam kehidupan islam ditujukan kepada saudara sesama  muslim, maka hal ini bukanlah dakwah, melainkan islah.

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang yang mungkar dan beriman kepada Allah, dan kalau sekiranya ahlul kitab beriman, tentulah hal itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada orang2 yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang2 fasik)” (Q.S. Ali Imran (3): 110)

Ayat di atas menjelaskan bahwa ummat islam selaku ummat Nabi Muhammad SAW merupakan ummat yang terbaik dengan syarat harus mengajak kebajikan dan perintah Allah, serta  melarang kemungkaran. Maka salah satu pembeda antara ummat Rasulullah SAW dengan kaum yang terdahulu sehingga dengan disebutkan dalam Al-Quran dengan khairu ummah, ummat terbaik, adalah kita diwajibkan untuk menyampaikan perintah Allah dan Rasul-Nya kepada sesama manusia. Sebagaimana kewajiban Rasul untuk menyampaikan wahyu Allah kepada ummatnya.

zakir-naik-hadir-pada-acara-dr-zakir-naik-indonesia-_170402142651-470

dr. Zakir Nik tengah memberikan kuliah umum di Gymnasium UPI dengan tema “Dakwah or Destruction” (02/05/2017) (sumber foto: republika.co.id)

Dr. Zakir Naik, selaku da’i yang cerdas dan sangat tersohor di era sekarang melaksanakan dakwah ke Indonesia. Lawatan pertamanya yaitu Kota Bandung, tepatnya di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia dengan tema “Dakwah or Destruction”. Ia  menanyakan beberapa hal yang sederhana kepada 10.000 peserta yang memenuhi ruangan tersebut. Pertanyaan pertama adalah apakah kita  mencintai Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S. At-taubah ayat 24 ?

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (Q.S. At-Taubah (9) :24)

Lalu pertanyaan kedua dari Dr. Zakir Naik adalah bagaimana jika ibu kita yang sangat disayangi ternyata disakiti oleh tetangga tanpa sebab, lalu apa yang kita lakukan?  Tentunya kita akan marah, bahkan membalas perlakuan kita terhadap orang yang telah menyakiti ibu kita.

Kemudian pertanyaan yang terakhir adalah, jika kita mencintai Allah dan Rasulnya melebihi apapun di dunia ini, kemudian ada orang yang menuduh Allah memiliki anak, apa yang akan kita lakukan?  Namun kita tidak perlu menyakiti orang yang menyatakan seperti itu, karena hal ini dilarang. Maka hal yang paling kecil yang bisa kita lakukan adalah tidak setuju dengan hal tersebut. Seharusnya kita menyampaikan kepada mereka bahwa Allah itu tunggal, tempat bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

Saat ini para misionaris sedang gencar-gencarnya mengajak muslim di Indonesia untuk masuk menjadi kaum mereka. Namun yang mengejutkan menurut Dr. Zakir Naik adalah para misionaris ini justru menyebarkan agama mereka dengan Al-Quran. Mereka menanyakan perbandingan antara kehebatan Nabi Isa yang dapat menghidupkan orang mati dengan Nabi Muhammad selaku manusia biasa. Mereka memberikan pertanyaan namun tidak memberi jawaban dan menyuruh kita untuk merenung. Maka hal yang dapat kita lakukan selaku muslim adalah kembali ke Al-Quran, yakni pedoman hidup manusia. Membacanya, memahaminya, lalu mengimplementasikannya.

“Apabila kita seorang dokter, kemudian ada dua orang pasien. Yang satu memiliki sakit jantung dan apabila tidak ditolong dia akan meninggal, yang satu lagi memiliki penyakit flu biasa. Jadi, pasien mana yang seharunya ditolong terlebih dahulu? ” dr. Zakir Naik mengajukan pertanyaan logika kepada peserta kuliahnya.

Tentu tanpa berpikir panjang kita akan menolong pasien yang memiliki penyakit jantung terlebih dahulu. Lalu apabila kita memiliki cukup waktu kita juga akan menolong pasien yang kedua. Begitupun antara pentingnya dakwah dan islah. Keduanya adalah sangat penting yang harus dilakukan muslim. Namun tentunya yang harus kita tolong terlebih dahulu adalah saudara kita yang nonmuslim yang tentunya tidak akan pernah selamat apabila meninggal dalam keadaan kafir. Bagaimana jadinya jika tetangga atau teman kita yang nonmuslim menyeret kita dari surga karena kita tidak pernah menyampaikan kebenaran islam ? Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’man nashiir. 

 

*Diulas dari ceramah dr. Zakir Naik di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (02/04/2017)

*

*

Top