Refleksi Perjalanan : Kisah Zakir Naik Lawatan ke Bandung

Puluhan ribu peserta mendengarkan dengan antusias ceramah umum oleh Zakir Naik di Gymnasium UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Bandung, Ahad (2/4/2017) lalu. (foto: Faisal Tahir Rambe)

10.000 peserta mendengarkan dengan antusias ceramah umum oleh Zakir Naik di Gymnasium UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Bandung, Ahad (2/4/2017) lalu. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Ahad (2/4/2017) pagi lalu, ketika saya sampai di depan Gymnasium UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), lautan manusia membanjiri halamannya.  Puluhan ribu orang – pria dan wanita – berbaris dalam antrean yang panjang untuk memasuki ruangan besar nan luas tersebut. Tak ketinggalan pula, para penjual makanan dan minuman menjajakan dagangannya di halaman.  Kesempatan ini tentu tak saya sia-siakan. Saya membeli air mineral di salah satu tenda penjualan, mengingat ceramah akan berlangsung berjam-jam.

Lalu saya tersadar, bahwa antrean manusia sudah sangat panjang. Jika saya tak segera masuk antrian, bisa-bisa saya terlambat untuk mengikuti ceramah Dr. Zakir Naik, salah satu ulama internasional yang masyhur. Padahal, sejak tahun 2016 lalu, saya sudah menantikan kehadiran beliau di Indonesia. Lantas, ketika beliau sudah datang ke kota perantauan saya, akankah saya menyia-nyiakannya begitu saja?

Sejak beberapa minggu silam memang kehadiran Zakir Naik, seorang ulama yang tersohor karena dakwahnya, sempat menggegerkan linimasa. Pasalnya, ia akan pergi ke Indonesia untuk mengisi ceramah di beberapa kota. Kota pertama dalam “Zakir Naik Visits Indonesia 2017” adalah Bandung, yang bertempat di Kampus UPI.

Akhirnya saya memutuskan untuk segera memasuki antrean. Baru saja saya memasuki antrean, tiba-tiba ada penjual roti cap 212. Saya berpikir, mungkin produsen roti terinspirasi oleh aksi fenomenal 212 di Monas awal Desember lalu. Namun, bukan itu yang menyebabkan saya membelinya, melainkan karena ceramah akan berlangsung berjam-jam lamanya. Maka saya pun membeli dua roti cap 212 itu, dengan harga sepuluh ribu rupiah.

Antrean panjang para peserta ceramah umum Dr. Zakir Naik saat akan memasuki Gymnasium UPI, Ahad (2/4/2017) lalu. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Antrean panjang para peserta ceramah umum Dr. Zakir Naik saat akan memasuki Gymnasium UPI, Ahad (2/4/2017) lalu. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Antrean terus bergerak maju. Setelah beberapa lama, akhirnya saya sampai di pos pemeriksaan tiket. Saya tunjukkan tiket elektronik yang saya punya kepada pemeriksa. Mereka mengizinkan saya masuk, dan sampailah saya di pos pemindaian (scanning) tiket. Saya serahkan tiket elektronik saya kepada pemindai. Setelah itu, mereka memindai kode QR pada tiket dan mempersilakan saya menuju pintu masuk.

Ketika saya akan masuk ke gymnasium, penjaga pintu masuk meminta saya membuka tas, sebagai pemeriksaan keamanan. Saya pun membuka tas, dan tentu saja  penjaga mempersilakan saya masuk. Saya pun dipersilakan untuk naik ke lantai dua. Tak lupa pula, mereka membagikan sebungkus roti dan sebotol kecil air mineral ke setiap pengunjung, termasuk saya.

Panitia acara memberikan sebungkus roti dan sebotol air mineral kepada setiap peserta ceramah di pintu masuk Gymnasium UPI, Ahad 2/4/2017) pagi. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Panitia acara memberikan sebungkus roti dan sebotol air mineral kepada setiap peserta ceramah di pintu masuk Gymnasium UPI, Ahad 2/4/2017) pagi. (foto: Faisal Tahir Rambe)

Di lantai dua, saya melihat lautan manusia yang memenuhi tribun atas dan kursi-kursi VIP. Adapun tribun bawah masih kosong. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00, namun belum ada tanda-tanda acara akan dimulai. Sementara itu, aliran manusia terus memasuki gymnasium dan mulai mengisi tribun bawah serta kursi-kursi VIP yang masih kosong. Beberapa menit kemudian, tribun atas dan bawah sudah terisi penuh, demikian pula kursi-kursi istimewa yang disediakan. Akhirnya, sekitar pukul 08.30, acara pun dimulai.

Pembawa acara membuka acara ceramah umum Dr. Zakir Naik di Gymnasium UPI, Ahad (2/4/2017). (foto: Faisal Tahir Rambe)

Pembawa acara membuka acara ceramah umum Dr. Zakir Naik di Gymnasium UPI, Ahad (2/4/2017). (foto: Faisal Tahir Rambe)

Pembawa acara memandu acara dalam bahasa Inggris, tanpa penerjemahan sama sekali. Terlihat bahwa ia begitu fasih dalam berbicara. Acara dibuka dengan pembacaan seluruh surah Al-Ashr. Begitu indah pembacaannya, dan para peserta ceramah mendengarkannya dengan seksama. Setelah itu, pembawa acara mempersilakan Fariq Naik, anak laki-laki Dr. Zakir Naik, untuk maju ke panggung dan menyampaikan ceramah pendahuluan.

 

Dalam ceramahnya, Fariq Naik menegaskan bahwa jika seseorang ingin mengetahui kebenaran, ia harus mengetahui konsep yang benar dalam beragama, dengan melihat sumber yang otentik. Sumber tersebut yaitu kitab suci agama itu sendiri. Dalam kitab-kitab suci empat agama besar di dunia (Hindu, Yahudi, Nasrani, dan Islam), tercantum dengan jelas bahwa Tuhan itu satu, tidak berbilang. Ialah Allah, Tuhan semesta alam.

 

“Kenapa Muslim menyukai secara khusus kata ‘Allah’, daripada ‘God’? Karena kata ‘God’ dapat diselewengkan menjadi ‘Gods’ yang artinya “banyak Tuhan” atau ‘Goddess’ yang artinya ‘Tuhan Perempuan’, padahal Tuhan itu satu dan tidak berjenis kelamin. Lalu ada pertanyaan, mungkinkah Tuhan menjadi manusia seperti Yesus? Jawabannya mudah, tidak mungkin. Mengapa? Karena Tuhan itu tidak berawal dan tidak berakhir. Sedangkan Yesus dilahirkan (berawal) dan kelak akan meninggal (berakhir).” lanjutnya.

 

Setelah menjelaskan bahwa semua kitab suci menyebutkan bahwa manusia harus menyembah hanya satu Tuhan, beliau menjelaskan alasan manusia harus berislam. “Mengapa harus Islam? Karena selain mengajarkan kebaikan, Islam

Putra Dr. Zakir Naik, Fariq Naik sedang menyampaikan ceramah pendahuluan di Gymnasium UPI, Ahad (2/4/2017). (foto: Faisal Tahir Rambe)

Putra Dr. Zakir Naik, Fariq Naik sedang menyampaikan ceramah pendahuluan di Gymnasium UPI, Ahad (2/4/2017). (foto: Faisal Tahir Rambe)

juga mengajarkan bagaimana cara mengaplikasikannya, berbeda dengan agama-agama yang lainnya.” jelasnya. “Itulah mengapa Islam dikatakan ‘damai’. Islam berasal dari kata ‘salam’ yang berarti ‘kedamaian’. Islam juga berasal dari kata ‘silm’ yang artinya ‘menyerahkan diri'”. lanjutnya. Tak lupa pula, beliau menegaskan bahwa Rasulullah Muhammad – shallallahu ‘alayhi wa sallam – adalah nabi dan rasul terakhir yang harus diikuti oleh seluruh umat manusia.

Ceramah Inti oleh Dr. Zakir Naik

Setelah Fariq Naik selesai berceramah, pembawa acara mempersilakan Dr. Zakir Naik untuk menyampaikan ceramah inti, dengan judul ‘Da’wah or Destruction’ (Dakwah atau Kehancuran). Dalam ceramahnya, beliau menegaskan bahwa dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim. “Ada tanggung jawab kita sebagai muslim, apabila ingin menjadi umat terbaik untuk manusia, yaitu mengajak baik dan melarang munkar, yang tidak lain adalah berdakwah. Apabila kita tidak berdakwah, kita tidak akan disebut ummat terbaik. Hukumnya adalah fardhu,” tegasnya.

Beliau juga menegaskan bahwa apabila kaum muslimin meninggalkan dakwah, kehancuran akan menimpa mereka. Selain itu, mereka juga terancam digantikan dengan kaum yang lain. “Seperti apa yang dilakukan kaum Yahudi, mereka tidak patuh kepada Tuhannya sehingga digantikan oleh kaum Arab,” ujarnya. (Nabi yang diutus awalnya terus berasal dari Bani Israil, namun karena Yahudi tidak patuh, akhirnya digantikan oleh kaum Arab.)

Zakir Naik lalu mengingatkan umat Islam Indonesia agar tidak takut mengemban tugas dakwah. “Indonesia harus menjadi contoh terbaik untuk bangsa lain. Memang, sayang sekali negara muslim di dunia saat ini belum ada yang mengamalkan Quran dan Sunnah 100%. Namun, di Indonesia ini, terlihat sedikit demi sedikit mulai menuju Quran dan Sunnah. Walaupun masih banyak yang tidak mengikutinya. Insya Allah, dalam beberapa tahun kedepan, Indonesia dapat mewujudkannya, negara yang mengikuti Quran dan Sunnah,” harapnya.

Menurut beliau, orang yang sukses adalah orang yang lulus tes di dunia ini dan pada akhirnya masuk surga. Untuk itu, orang yang ingin sukses harus benar-benar mengikuti Qur’an dan Sunnah. Tak lupa pula, beliau menegaskan pentingnya berdakwah kepada nonmuslim. “Mengapa engkau hanya berdiam diri saja? Padahal engkau tidak perlu memukul, tidak perlu membunuh, tinggal buka mulut, dan beritahukan bahwa Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Mengapa kamu sangat pasif dalam menanggapi hal ini? Mengapa takut untuk berdakwah kepada nonmuslim?” tanyanya.

Zakir Naik mengatakan bahwa misionaris begitu gencar dalam memurtadkan kaum muslimin. Beliau meminta kaum muslimin untuk senantiasa mewaspadai syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh mereka. Dengan memahami Qur’an dan Sunnah, syubhat-syubhat tersebut bisa dilawan, dan keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar semakin kuat.

Masih dalam ceramah yang sama, Zakir Naik mengajak kaum muslimin sekali lagi untuk tidak takut berdakwah kepada nonmuslim, walaupun hanya satu ayat. Tidak boleh bersikap masa bodoh terhadap mereka, karena dakwah adalah tugas setiap muslim. Setiap muslim harus melakukannya agar dimasukkan ke surga dan tidak menjadi orang yang merugi. “Berdakwah lah dimanapun anda berada. Dakwah merupakan profesi yang terbaik,” tegasnya. “Ingat! Jangan berpikir apabila Anda adalah sebab Islam menyebar, Allah sanggup membuat Islam berjaya, baik kita berdakwah, ataupun kita tidak berdakwah,” lanjutnya.

Sesi Tanya Jawab yang Mengharukan

Sesi tanya jawab dalam ceramah umum Dr. Zakir Naik di Gymnasium UPI, Ahad (2/4/2017). (foto: Faisal Tahir Rambe)

Sesi tanya jawab dalam ceramah umum Dr. Zakir Naik di Gymnasium UPI, Ahad (2/4/2017). (foto: Faisal Tahir Rambe)

Setelah ulama yang juga berprofesi sebagai dokter bedah itu selesai berceramah, pembawa acara mempersilakan pendengar untuk bertanya. Penanya nonmuslim diprioritaskan dalam sesi tanya jawab ini. Ada belasan nonmuslim yang bertanya kepada beliau mengenai perkara syubhat yang ada di kepala mereka mengenai Islam. Tentu Zakir Naik menjawab semua pertanyaan tersebut. Hasilnya, tiga orang nonmuslim masuk Islam saat itu juga, dengan pemanduan ikrar syahadat oleh Zakir Naik dan putra beliau.

Tiga orang tersebut berasal dari agama yang berbeda-beda. Danalia berasal dari agama Buddha, sedangkan Novita dan Kevin dari Katolik. Setelah masuk Islam, Kevin langsung dipeluk oleh Zakir Naik sendiri. Adapun Novita menangis terharu dan langsung dipakaikan hijab. Begitupun Danalia yang langsung dipeluk oleh muslimat di sekitarnya.

Semangat Zakir Naik dan para penanya untuk mengisi sesi tersebut tidak surut. Buktinya, para penanya tetap antusias untuk bertanya, dan Zakir Naik selalu menjawab dengan semangat dakwah yang berapi-api. Pada akhirnya, acara pun  selesai sekitar pukul 13.30 WIB**

*

*

Top