Menjadi Sahabat di Tengah Masyarakat

RUSA FORUM PENGAJAR ORTU

Rumah Sahabat (RUSA) generasi ketiga bersama orang tua dan anak anak Taman Pendididkan Al-Quran (foto: Dokumentasi RUSA)

“Karena rumah sahabat adalah tempat dimana bisa merasakan dan mengaktualisasikan diri di tengah masyarakat, terutama untuk mahasiswa tingkat akhir yang sudah saatnya untuk bersiap diri terjun ke masyarakat. Maka rumah sahabat merupakan laboratorium yang sangat sesuai bagi mahasiswa tingkat akhir untuk bermasyarakat. Karena pada dasarnya mahasiswa harus kembali ke masyarakat”

Syarifudin Teknik Kimia ITB 2013, Ketua Rumah Sahabat Generasi 3.

 

Apabila kita melihat sekeliling  keindahan jembatan Pasopati,  terlihat perumahan masyarakat yang padat tidak beraturan bahkan terkesan kumuh, timpang dengan bangunan sebelahnya, Balubur Town Square, sebuah pusat perbelanjaan yang cukup dikenal di Kota Kembang. Kawasan ini bernama Kebon bibit yang berada di Kelurahan Taman Sari, dan jembatan Pasopati berada pada wilayahnya. Perumahan padat ini dihuni oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Meskipun begitu, wilayah ini merupakan tempat kost favorit mahasiswa. Selain karena jaraknya yang dekat kampus, biaya kost nya pun relatif terjangkau bagi kantong mahasiswa yang pas-pasan.  Di suatu wilayah yang padat tersebut terdapat  rumah yang dihuni belasan orang mahasiswa tingkat akhir, berisi dari berbagai jurusan dengan latar belakang kampus yang berbeda pula. Campuran antara mahasiswa dari ITB, UNPAD, Politeknik Manufaktur Bandung, STT Tekstil, dan kampus lainnya di Bandung. Rumah itu bernama Rumah Sahabat, atau dikenal RUSA.

Rumah Sahabat  adalah sebuuah gagasan masjid Salman ITB untuk mewujudkan salah satu visi nya yakni mengembangkan masyarakat menuju cita-cita besar,yakni peradaban yang islami. Sebelum membentuk Rumah Sahabat, Salman membentuk Rumah Visi, dimana penghuninya merupakan mahasiswa tingkat pertama ITB. Dengan misi yang sama, namun hasilnya tidak sesuai keinginan. Pada akhirnya, Rumah Visi ini pun  digantikan dengan Rumah Sahabat (RUSA) pada tahun 2014. Ini disebabkan kurang efektifnya mahasiswa tingkat satu yang baru mengenal Kota Bandung, tetapi dituntut untuk mengembangkan masyarakat. Rumah Sahabat pun akhirnya lahir dengan semangat yang sama, yakni mengabdi kepada masyarakat sekitar dengan pelaku mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa inilah  yang dianggap lebih paham tentang kondisi lingkungan atas dasar lebih lama hidup di Kota Bandung.

“Masjid Salman masih terkesan berlabel masjid kampus yang hanya diperuntukan untuk kalangan mahasiswa saja. Padahal masjid Salman begitu terbuka untuk siapa pun,” kata Syarifuddin, ketua Generasi 3 RUSA.

Namun partisipasi dari warga dirasa masih minim. Maka Rumah Sahabat lahir atas dasar visi misi Masjid Salman, salah satunya mengembangkan dan memberdayakan masyarakat menuju masyarakat madani, dengan peradaban yang islami. Sesuai dengan namanya, Rumah Sahabat diharapkan mampu menjadi sahabat yang membaur dengan masyarakat, menjadi jembatan antara masjid dan masyarakat tanpa menunjukan sifat menggurui. “Oleh karenanya RUSA sendiri memiliki fokus utama pada kebermanfaatan Salman terhadap masyarakat dan pengembangan masyarakat sekitar,” papar ketua RUSA itu.

RUSA PEMBAGIAN RAPOT

Pembagian Raport Peserta Didik TPA (foto :dokumentasi RUSA)

Syarifuddin memaparkan pada kami, saat ini Rumah Sahabat sudah mencapai generasi ketiga dan memiliki anggota sebanyak 29 orang. Mereka terdiri dari  14 orang mahasiswa dan 15 orang mahasiswi dari berbagai kampus di Bandung. Ada dua  rumah yang dijadikan asrama, masing masing untuk putra dan putri. Asrama Putra terletak di Jalan Kebon Bibit Selatan nomor 25. Sedangkan Asrama Putri berada di Jalan   Kebon Bibit Utara nomor 24A. Keduanya merupakan lokasi yang strategis untuk lebih mengenal dan menyatu dengan masyarakat sekitar

“Saat ini, Rumah Sahabat cukup berhasil  membaur dengan masyarakat dan sedikit banyak membawa manfaat untuk masyarakat sekitar. Rumah Sahabat generasi Pertama berhasil melakukan pendataan masjid dan warga sebagai langkah awal melakukan observasi masyarakat. Puncaknya RUSA generasi pertama ini berhasil mendirikan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) untuk anak SD dan SMP,” kenangnya.

Tentu, hal ini sesuai dengan program pemerintah Kota Bandung yakni Magrib mengaji. Para pengajarnya pun dari anggota asrama sendiri. Mereka rela meluangkan waktu ditengah kesibukan kuliahnya.

RUSA generasi kedua dimulai pada tahun 2015. Pencapaian yang dicapainya tidak kalah dengan generasi pertama. Di RUSA generasi kedua masih melanjutkan program TPA dari generasi pertama, akan tetapi TPA ditambah menjadi dua tempat. Dari sisi pendidikan formal, RUSA generasi kedua ini juga menjadi jembatan informasi lomba dan beasiswa untuk peserta didik. Selain itu terselenggaranya forum orang tua peserta didik yang menjadi ajang silaturahmi.  “Dari sisi kepemudaan, RUSA generasi kedua pun mengaktifkan kembali Karang Taruna masyarakat  yang sempat vakum. Hingga akhirnya bersama dengan pemuda sekitar dapat mengadakan kegiatan kepemudaan, lho!” jelas Syarifudin, Mahasiswa Teknik Kimia ITB ini.

RUSA generasi ketiga lahir pada tahun 2016, dan tentu memperoleh pencapaian yang lebih baik lagi. RUSA generasi ketiga ini berhasil membuat projek teknologi untuk masyarakat bernama “Kebon Bibit Hejo Deui”. Niat awalnya berupa penyuluhan

RUSA HEJO DEUI

Anak anak membantu menanam saat program Kebon Bibit Hejo Deui (foto: dokumentasi RUSA)

bahwa masyarakat dapat bercocok tanam dengan halaman yang cukup sempit. Namun tidak disangka program ini memperoleh dukungan secara penuh oleh Ketua RW, ditambah lagi dengan adanya dukungan salah satu tokoh masyarakat yang bekerja di badan pertanian yang memiliki program yang sama.

“Tokoh masyarakat tersebut memberi bibit secara gratis kepada warga. Maka berkat dari program ini juga RUSA dapat mengedukasi warga untuk bercocok tanam dengan lahan yan terbatas dan langsung diterapkan oleh masyarakat. Hasil lain dari program ini adalah berhasil membuat taman kecil di dekat SD Pertiwi yang diberi nama Taman Toga,” Syarifuddin bercerita.

Dari bidang pendidikan, RUSA generesai ketiga dapat menambah TPA menjadi tiga tempat. Pengajarnya pun mulai bertambah dan diisi oleh relawan mahasiswa lain dengan sistem rekrutmen terbuka.  TPA kali ini lebih sistematis dengan pemberian kurikulum dan penilaian  raport siswa, sehingga diharapkan TPA ini dapat berjalan terus menerus.

Syarifudin pun menjelaskan hal yang menarik dari RUSA ketika membuat taman baca untuk masyarakat dengan memanfaatkan gedung serba guna milik warga. Program ini sangat diapresiasi oleh pemerintah, sehingga banyak pihak luar sengaja menyumbangkan bukunya untuk program ini.

“Tidak hanya dalam bidang pendidikan, RUSA juga  telah memberi pengaruh terhadap kemakmuran masjid. Sesuai dengan arahan pemerintah kota Bandung, kami berperan dalam Gerakan Subuh Jamaah untuk masyarakat sekitar,” katanya.

Rusa Adventure dan Rusa Entrepreneur

Rumah Sahabat merupakan salah satu bentuk kaderisasi Salman ITB untuk kader tingkat lanjut. Para kader diharapkan menjadi kader yang tangguh. Maka selain dengan pengembangan masyarakat, RUSA juga memiliki kegiatan pembinaan internal seperti diskusi, kajian usrah, enterpreunership dan RUSA adventure.

“Yang menarik dari salah satu kegiatan RUSA adalah RUSA Adventure, dimana kami disuruh mengobservasi masyarakat selama 2 hari tanpa dibekali uang dan harus bertahan sambil menganalisis kondisi sosial masyarakat. Kami dibagi kelompok dan memilih lokasi yang berbeda di tengah masyarakat. Dari sana kami belajar tentang bagaimana pendekatan kepada warga, memperoleh informasi, dan membuat warga percaya kepada kami selaku pendatang untuk bisa tinggal. Sungguh merupakan hal yang sangat berharga,” ujar Syarifudin yang tengah berada di tingkat akhir perkuliahan ini.

Hal lain adalah program RUSA entrepeneur. RUSA dituntut untuk dapat menghidupi minimal biaya operasional asrama. Maka ada dua usaha utama yang dilakukan, yakni reseller di toko online dan rumah kreatif. Rumah kreatif merupakan kegiatan menghasilkan produk bernilai ekonomi dengan pembuatan handmade, beberapa produk yang sempat dibuat diantaranya souvenir pernikahan dan souvenir untuk wisudawan. Dari kegiatan tersebut biaya operasional asrama dapat diringankan meskipun belum sepenuhnya terpenuhi.

“Saat ini RUSA tengah membuka pendaftaran baru bagi angkatan 2014. Dengan adanya regenerasi ini diharapkan program yang ada dapat tetap berjalan dan inovasi tetap berlanjut,”  pesan Syarifudin. [Ed: Ft]

Related posts

*

*

Top