Fenomena Zakir Naik di Indonesia: Tanam Hitam Putih Ditengah Luasnya Abu-Abu

Antusiasme Jamaah yang tinggi teramati dengan Tingginya Kehadiran di Event Live Streaming Ceramah Dr. Zakir Naik Masjid Salman ITB

Antusiasme Jamaah yang tinggi teramati dengan Tingginya Kehadiran di Event Live Streaming Ceramah Dr. Zakir Naik Masjid Salman ITB, Ahad (2/4/2017). (Foto: Muti’ah)

Hari Ahad, (2/4/2017) kemarin menjadi tanggal bersejarah bagi umat Islam di Indonesia. Pasalnya,  Dr. Zakir Naik, salah seorang ulama besar yang menghiasi media sosial dari beberapa tahun lalu, akan mengisi kajian di beberapa kota di Indonesia. Safari dakwah bertajuk “Zakir Naik Visit Indonesia 2017” itu akan berlangsung selama sepuluh hari, sejak 01 hingga 10 April 2017. Kunjungan pertamanya yaitu Kota Bandung yang bertempat di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung  Dengan tema “Da’wah or Destruction”, Zakir Naik bersama anaknya, Fariq Naik dengan lantang  bicara di hadapan 10.000 orang peserta di Gymnasium. Belum lagi 2000 jamaah Masjid Salman ITB dan beberapa masjid besar di Kota Bandung yang turut menayangkan Live Streaming dakwah dari Kampus UPI tersebut.

Menurut beberapa situs, disebutkan bahwa beliau merupakan ulama yang fenomenal dan cerdas. Walaupun basis beliau adalah ilmu kedokteran, namun beliau menguasai banyak kitab, dimulai dari Al-Qur’an, Injil, Weda, dan Tripitaka, lengkap dengan sejarah dan serba-serbinya.  Dr. Zakir Naik membarengi pengetahuan agamanya dengan kemampuan logika/ mantiq yang luar biasa. Muslim, non-muslim, hingga kaum non agamis tertantang untuk menguji logika beliau dan mempertanyakan makna kebenaran. Terbukti saat menonton videonya, ceramah Dr. Zakir Naik selalu dilaksanakan di tempat yang ramai dengan ribuan jamaah pendengar, campuran muslim, non-muslim, dan kalangan non religius.

Beberapa video bahkan memuat masuk islamnya beberapa penanya yang tertantang dengan kecerdasan logika Dr. Zakir Naik. Pertanyaan yang mereka lontarkan selalu pertanyaan yang aneh dan unik seperti ‘Kenapa Allah menciptakan kita padahal akhirnya kita mati?’, ‘Kenapa Allah menghidupkan kita padahal Dia tahu takdir kita dari lahir hingga mati?’ Dr. Zakir Naik mampu menjawabnya dengan gamblang. Dakwah di Indonesia berarti harus siap dengan dinamika rakyat yang tinggi: berustadz-kan sosial media, taqlid pada Ustadz dan Kiyai, mabuk dengan pahamnya sendiri, merasa diri paling baik saat baru saja datang ke sebuah ta’lim, dan banyak hal lainnya.

Menurut Habiburrahman El-Shirazy pada wawancara Ahad, (6/11/2016) lalu, orang Indonesia adalah generasi yang baru berkembang literasinya, namun sudah diberikan fasilitas digital untuk bersuara. Budaya baca-tulis belum mengakar kuat di Indonesia. Banyak yang menuliskan unek-uneknya murni berasal dari opini, persepsi, bahkan emosi.

“Hal ini menghasilkan kalangan-kalangan ‘orang pintar’ diantara rakyat Indonesia, dan egoisme ini semakin menjauhkan mereka dari kebenaran dan rasa menerima kebenaran. Selain itu budaya kritis baru saja terbangun di kalangan masyarakat, karena media sosial dan internet yang dipenuhi oleh berita-berita yang tidak bertanggung jawab. Semakin banyak masyarakat yang skeptis, semakin banyak yang sulit untuk menerima kebenaran,” ungkap penulis beberapa buku fenomenal Ayat-Ayat Cinta ini.

Begitupula Syarif Hidayat, Ketua Yayasan Pembina Masjid (YPM) Salman ITB menerangkan pandangannya mengenai dakwah. Khususnya, akwah kepada orang Indonesia kebanyakan itu seperti dakwah pada mu’allaf.  Namun bedanya umat Islam Indonesia itu sudah memeluk Islam. Di KTP-nya tertera Islam, namun masih sangat sulit dalam memahamkan mereka mengenai Islam yang sebenarnya. “Oleh karena itu Masjid Salman memberikan pendekatan melalui pelayanan jamaah, salah satunya untuk menyentuh hati jamaah,” jelas Mas Syarif, sapaan akrabnya,  Senin (3/4/2017).

Beliau juga menyampaikan tanggapan mengenai dakwah Dr. Zakir Naik. “Indonesia memerlukan ulama yang mampu berpikir cerdas tersebut. Jawabannya penuh dengan logika. Namun yang pasti harus diingat adalah tidak semua hal dapat ditanggapi dengan logika, walau hal itu belum akan memuaskan logika manusia yang memang berbatas. Jangan lupa bahwa logika kita ada batasnya,” selorohnya.

Dakwah Dr. Zakir Naik adalah salah satu angin segar dari India. Dakwahnya yang tegas menyatakan kebenaran mampu memberi pencerahan terhadap kesalahan pola pikir dan tindakan yang dilakukan oleh banyak kalangan di dunia, seperti pemahaman para ateis dan non-muslim. Sesungguhnya gaya dakwah yang seperti ini agak kurang nyaman bagi masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan “Toleransi” padahal banyak yang belum mengenal makna sesungguhnya dari toleransi.

Sebagai bukti, diketahui bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan permintaan kepada Dr. Zakir Naik untuk berhati-hati menyampaikan ceramahnya di Indonesia, karena beberapa permasalahan dapat menjadi sangat sensitif. Akan tetapi, gaya dakwah beliau ini menarik perhatian dan membangkitkan rasa penasaran masyarakat Indonesia yang kaya dengan keragaman. Terbukti dengan tingginya animo masyarakat saat mendaftar untuk mengikuti ceramah beliau pada rangkaian Dr. Zakir Naik Visits Indonesia 2017 yang akan berlangsung hingga akhir April 2017 ini.

“Dakwah beliau cerdas, kita memerlukan banya ulama untuk menjelaskan perihal kebenaran dan kebatilan dengan tegas dan cerdas, apalagi untuk berdakwah di Indonesia,” tanggap Harli (82), salah satu Jamaah Masjid Salman ITB yang mengikuti live streaming di Masjid Salman ITB.

Walaupun begitu, dakwah Dr. Zakir Naik di Indonesia ibarat menanamkan hitam-putih yang tegas di dalam lautan abu-abu. Menanamkan kebenaran yang haq di kalangan yang menolerir kebenaran dengan berlebihan, bahkan memfatwakan kebenarannya sendiri tanpa ijtihad yang jelas. “Memang pada awalnya sangat sulit. Namun karena kekuatan akal dan iman, hal tersebut akan melarut ke dalam masyarakat, sebagaimana larutnya garam di dalam air. Semoga Muslim Indonesia termotivasi untuk menuntut ilmu lebih dalam, meningkatkan adab, sehingga terbangun peradaban, dimulai dari hari ini,” kata Syarif.  [Ed: Ft]

 

 

 

 

One Comment;

*

*

Top