Indahkan Bacaan Alquran di Bengkel Murattal UPTQ

bengkel murottal

(foto: Ana S.)

UPTQ (Unit Pengembangan Tilawatil Qur’an) Al Muhandis adalah unit yang telah melahirkan imam-imam bersuara merdu khas Masjid Salman ITB. Mereka memiliki Bengkel Murattal, sebuah bengkel untuk memperindah bacaan Alquran. Bengkel Murattal adalah sebuah  pelayanan Al-Qur’an untuk  masyarakat. Namun, melalui Bengkel Murattal ini  yang diusung adalah Tilawatil Qur’an atau membaca indah Al-Qur’an.

Ada beberapa fitur yang ditawarkan oleh Bengkel Murattal. Selain membaca indah Al-Qur’an dengan langgam merdu, juga dipaparkan kisah-kisah sejarah Islam yang berkaitan dengan ayat tersebut. Misalnya,  dipaparkan kisah mengenai Nabi Musa dan dua putri Nabi Syu’aib. Selain menikmati bacaan Al-Qur’an, peserta Bengkel Murattal juga diajak untuk menghayati sebab-sebab turunnya ayat tersebut. Penghayatan terhadap makna ayat semakin meningkat karena penggambaran nada langgam.

Syihabuddin, ketua UPTQ yang terkenal dengan suara membaca Alqurannya yang merdu menjelaskan bahwa
di Bengkel Murattal telah dipelajari beberapa langgam. Jika kisah yang dipaparkan adalah kisah sedih, dapat digunakan langgam Kurdi layaknya Qari’ Junior Muhammad Thaha, atau langgam Nahawand nan syahdu ala Mishari Rasyid.

“Mendengar bacaan dari kedua Qori’ ini, perasaan pembaca akan terbawa nun jauh ke Jazirah Arab, dan menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa yang terlukis dalam Ayat Al-Qur’an yang sedang dibaca. Bahkan mampu menitikkan air mata. Jika kisah yang dipaparkan adalah kisah bahagia, maka langgam yang digunakan adalah langgam jiharka yang sifatnya lebih ceria,” kata Syihabuddin.
Ia pun melanjutkan, langgam digunakan untuk menghilangkan kebosanan dalam membaca Al-Qur’an. Adanya langgam membuat pembaca memiliki ‘feel’ dari ayat tersebut, ” Juga menjadi katalisator kedekatan kita terhadap Al-Qur’an” jelas ketua UPTQ Al Muhandis yang merupakan mahasiswa Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB ini.

Imam Salman yang akrab dipanggil Syihab ini mengaku, setelah membaca Alqur’an dengan Langgam, Ia merasa lebih dekat dengan Al-Qur’an. Porsi mendendangkan lagu non Al-Qur’an jadi jauh lebih berkurang, dan interaksinya dengan Al-Qur’an menjadi terjaga.

Sejarah Penggunaan Langgam

Langgam, atau disebut Nagham dalam bahasa Arab, telah ada sejak zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Menurut Thamrin (2008), budaya Nagham merupakan akulturasi antara budaya sastra dan seni musik pra-Islam dengan bacaan Al-Qur’an. Agar masyarakat Quraisy dapat membaca Al-Qur’an dengan senang namun tidak mengurangi niali dari Al-Qur’an itu sendiri (tajwid dan adab), maka diadaptasilah musik menjadi langgam.

“Tidaklah Allah mendengarkan sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan Nabi-Nya membaguskan bacaan Alquran dan mengeraskan suaranya.” (HR Bukhari 7544, Muslim 792)

Fitrahnya manusia adalah menyukai keindahan. Selain itu, Allah pun menyukai orang yang membaguskan bacaannya dalam Al-Qur’an sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Mengenai makna membaguskan, di dalam ulama masih terdapat perbedaan, antara menggunakan irama atau membaguskan secara tajwid. Namun intinya, manapun pendapat yang dipegang, tajwid yang digunakan harus diperhatikan karena tajwid di dalam Al-Qur’an adalah hal yang cukup sensitif.

Alquran adalah peta hidup untuk manusia. Isi kandungan dari Alquran menjadi surat cinta dari Allah SWT kepada manusia supaya tidak tersesat di dunia, dan bahagia di akhirat. Mempelajari Alquran adalah wajib, salah satunya selain dengan membenarkan bacaan, juga memperindah bacaan Alquran supaya dapat lebih enak didengar dan menghayati di setiap katanya. [Ed: Ft]

 

*

*

Top