Tidurnya Orang Berilmu Lebih Baik daripada Ibadahnya Orang Bodoh

Kajian "Spirit Ilmu dalam Sejarah Perkembangan Islam" bersama Ustadz Haikal Hassan Ki-Ka: Ahmad Wali Radhi (Ketua Gamais ITB 2017) dan Ustadz Haikal Hassan

Kajian “Spirit Ilmu dalam Sejarah Perkembangan Islam” bersama Ustadz Haikal Hassan
Ki-Ka: Ahmad Wali Radhi (Ketua Gamais ITB 2017) dan Ustadz Haikal Hassan (GAMAIS ITB 2017)

Sejak zaman Nabi dan Rasul, Islam –atau saat itu masih disebut sebagai ‘Agama Tauhid’ –hadir menyertai rezim-rezim pemerintahan yang ada. Rezim-rezim tersebut memiliki karakternya masing-masing, namun yang pasti, perkembangan ilmu pengetahuan terjadi dari waktu ke waktu.

Di zaman Nabi Ibrahim misalnya. Rezim Raja Namrud merupakan salah satu rezim yang maju dan tercatat dalam sejarah peradaban. Dia berhasil membangun peradaban Babilonia dengan baik, didukung ilmu pengetahuan yang sangat maju. Salah satu bukti sejarahnya adalah The Tower of Babel. Hanya saja, seperti saat itu tidak ada yang menyembah Allah.

Penduduk Babilonia menyembah berhala. Nabi Ibrahim hadir sebagai sosok berilmu dan memegang teguh ajaran Tauhidnya. Saat Nabi Ibrahim mendengar Namrud mengaku sebagai Tuhan, beliau menantang dengan pertanyaan yang kuat. “Jika kamu memang Tuhan, Ia menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dari barat!” Saat itu Namrud tidak mampu menjawab.

Konfrontasi ini berlanjut hingga Nabi Ibrahim menghancurkan berhala dan tetap menantang logika masyarakat: Mungkin yang melakukannya adalah yang paling besar, karena ia mengalungkan kapak di lehernya. Hal ini menimbulkan rasa gentar di hadapan masyarakat. Kegentaran untuk menyembah berhala itu memuncak saat melihat tubuh Nabi Ibrahim yang tidak terbakar api, namun justru merasa dingin.

Banyak kisah yang telah membuktikan bahwa ahli ibadah, karena kedekatannya kepada Allah, mampu mengalahkan orang yang berilmu. Namun kekuatan terbesar justru ada pada orang yang berilmu dan ahli ibadah, agar dia mampu membimbing manusia ke jalan yang benar. Hal ini terbukti ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Rasulullah merupakan manusia paling sempurna yang dikaruniai Allah Subhanahu Wata’ala kemampuan untuk melihat yang ghaib seperti malaikat dan setan. Rasulullah SAW masuk kedalam orang yang dibenci oleh setan. Beruntunglah menjadi orang yang dibenci oleh syetan, dan dibenci orang munafik. Sebagaimana kata-kata Imam Syafi’i: Ulama yang baik adalah ulama yang dicari-cari kesalahannya, ulama yang dibenci orang munafik.

Definisi ulama bukan hanya orang-orang yang mengetahui ilmu agama dalam pengetahuan yang sangat baik. Sesungguhnya definisi ulama adalah orang-rang yang memiliki pengetahuan lebih mengenai ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang paling mulia adalah ilmu agama. Kemuliaan seorang hamba ditentukan dari ilmu apa yang dicarinya, dan yang paling mulia adalah ilmu mengenal Allah Subhanahu Wata’ala. Maka dari itu, seorang ahli ibadah yang berilmu berhasil diangkat derajatnya beberapa derajat, sesuai dengan QS Al Mujadilah ayat 11.

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan

Kemuliaan orang yang berilmu ini dapat dilihat pada kisah takutnya setan pada orang yang tidur saat akan mengganggu seseorang yang sedang shalat.  Terdapat kontradiksi status antara kedua orang ini, disamping perbuatannya. Orang yang sedang tidur adalah orang yang berilmu, namun orang yang sholat tersebut adalah orang bodoh. Syetan berniat untuk mengganggu orang sholat ini, namun takut pada orang yang sedang tidur tersebut karena jika orang tersebut bangun, ia akan berbuat kebajikan. Atas dasar itu, Rasulullah SAW bersabda, tidurnya orang berilmu lebih baik daripada ibadahnya orang bodoh.

Maka, sebagai penggerak peradaban Islam, tuntutlah ilmu dunia dan akhirat setinggi-tingginya, agar kita mampu mendampingi rezim-rezim pemerintahan manapun, hingga mampu membangkitkan kembali peradaban Islam. [Ed: Ft]

*tulisan di atas merupakan ulasan kajian  pada Mabit Aktivis Salman ITB “Ilmuminati” Jum’at, 3 Maret 2017oleh Ustadz Haikal Hassan.

*

*

Top