Buah Manis Kesabaran Keluarga Nabi Ibrahim A.S.

long_way_home

(sumber gambar: www.trekearth.com)

 

Siti Hajar merupakan putri Raja Mesir yang meguasai suatu wilayah di San’a, dimana sukunya bernama Maghrib. Siti Hajar selalu mengikuti ayahnya berkeliling kampung dan mendengarkan diskusi dengan kepala suku memberikan arahan tentang permasalahan yang ada. Sehingga Siti Hajar ahli dalam berorasi. Selain itu Siti hajar juga ahli dalam bidang irigasi. Hingga pada suatu hari penguasa Mesir, yakni Fira’un menguasai daerah San’a, ia pun membunuh raja San’a. Seluruh rakyatnya dijadikan budak, termasuk Siti Hajar.

Ibrahim tinggal di Babilonia (sekarang Irak), yang mana para masyarakatnya menyembah patung. Tetapi Ibrahim tidak meyakini bahwa patung sebagai tuhan. Maka dari itu Ibrahim pun mencari Tuhan mulai dari bintang, bulan, dan matahari. Namun semuanya hilang dan tergantikan satu sama lain. Hingga akhirnya Allah memberikan ilham kepada Nabi Ibrahim bahwa Allah-lah Tuhan semesta alam. Beliaupun mulai berdakwah kepada kaumnya.

Singkat cerita Nabi Ibrahim mematahkan leher-leher patung dan hanya menyisakan sebuah patung yang besar. Masyarakat Babilonia yang marah saat itu berencana membakar Nabi Ibrahim yang dipimpin oleh raja Namrud. Allah pun memberikan mukjizat-Nya kepada Nabi Ibrahim berupa tidak mempannya Nabi Ibrahim untuk dibakar. Hingga akhirnya Nabi Ibrahim bersama istrinya Siti Sarah dan pengikutnya diusir dari Babilonia menuju Palestina.

Nabi Ibrahim merupakan seseorang yang ahli dalam peternakan dan beliau sangat sukses. Bahkan beliau mengeluarkan zakat sebanyak 1000 biri – biri,  200 ekor kambing, dan 300 ekor unta. Malaikat menanyakan betapa banyaknya zakat yang dikeluarkan oleh Nabi Ibrahim.

”Seandainya ada satu hal yang lebih yang bisa aku infaqkan di jalan Allah, dan mendekatkan aku kepada Allah, maka akan aku laksanakan. Bahkan seandainya aku dikaruniai putra dan harus aku korbankan karena perintah Allah, maka akan aku laksanakan”. (Perkataan Nabi Ibrahim kepada malaikat)

Pada suatu saat, Palestina mengalami kemarau yang sangat panjang. Hingga akhirnya Nabi Ibrahim berhijrah menuju Mesir, negara yang lebih subur karena adanya sungai Nil.  Suatu hari, ada seorang wanita bernama Siti Sarah yang terkenal akan kecantikannya, yaitu istri dari Ibrahim a.s , hingga membuat Raja Mesir saat itu ingin menjadikannya sebagai istri. Raja Mesir ternyata lebih tertarik kepada wanita yang sudah bersuami. Maka apabila ia jadi istri raja, katanya, suaminya yang sebelumnya harus dibunuh. Untuk mensiasati hal tersebut, maka Nabi Ibrahim mengaku sebagai saudaranya Sarah.

Saat Sarah diundang ke istana kerajaan, raja mesir hendak menyentuh Sarah. Tetapi, seketika badan Fir’aun menjadi kaku. Hal ini membuat Fir’aun ketakutan dan mengurungkan niatnya untuk memperistri sarah, bahkan Sarah diberi hadiah berupa unta, kuda, kambing, dan seorang budak bersama Hajar. Maka Hajar pun dibawa ke Palestina oleh Ibrahim dan Sarah.

Ibrahim, Hajar, dan Sarah.

Di Palestina, Siti Hajar diajarkan tentang ketauhidan dan diajarkan Shuhuf Ibrahim. Siti Hajar adalah pribadi yang sangat cerdas. Beliau memiliki daya tangkap pelajaran yang luar biasa, sehingga dengan cepat menguasai apa yang diajarkan kepadanya.

Saat itu Ibrahim berumur sekitar 85 tahun, Siti Sarah berumur sekitar 70 tahun dan belum juga dikaruniai seorang putra. Sementara Siti Hajar berumur sekitar 30 tahun.  Setiap Hari beliau berdoa baik sembunyi sembunyi maupun terang-terangan  supaya dikaruniai putra untuk melanjutkan dakwahnya. Hingga do’a Nabi Ibrahim terdengar oleh Siti Sarah. Maka Siti Sarah pun terenyuh, dan terbesit untuk menawarakan kepada Ibrahim supaya menjadikan Siti Hajar sebagai istrinya.  Karena Siti Hajar merupakan wanita yang sangat baik dan shalehah.

Awalnya Ibrahim menolak, namun Siti Sarah membujuk Ibrahim dengan berbagai alasan terutama masalah keturunan. Akhirnya Nabi Ibrahim menikahi Hajar. Ternyata dengan cepat Allah meniupkan ruh kepada rahim Siti Hajar. Tidak dipungkiri hal itu membuat Siti Sarah cemburu. Karena saat itu Siti Sarah merupakan perempuan paling cantik dan merdeka. Sedangkan Hajar merupakan seorang budak dimana pada saat itu jika budak menikah dengan orang merdeka dan dikaruniai anak, maka budak tersebut menjadi merdeka. Singkat cerita Ismail pun lahir dari rahim Hajar. Maka untuk menghindari kecemburuan Siti Sarah, Siti Hajar berdoa kepada Allah untuk dipisahkan dengan Siti Sarah.

Ketabahan Luar Biasa Siti Hajar di Makkah

Allah mengabulkan doa Siti Hajar. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Siti Hajar dan bayinya, Ismail, untuk berpindah menuju suatu tempat bernama Makkah. Sebuah perjalanan yang sangat panjang sambil membawa anaknya yang baru saja lahir.

Sampai suatu titik di Makkah, Allah memerintahkan Ibrahim untuk kembali kembali ke Palestina. Saat itu Makkah merupakan suatu lembah yang kosong, tidak ada orang, sangat kering dengan bebatuan yang kasar dan tidak ada pepohonan. Bahkan alang-alang pun tidak ada. Tetapi Ibrahim tidak langsung memberi tahu perintah Allah untuk kembali ke Palestina kepada istri keduanya, tetapi Ibrahim membuatkan suatu pondok untuk Siti Hajar dan putranya Ismail (sekarang pondok tersebut dikenal dengan Hijr Ismail).

Setelah membuat pondok, Ibrahim memalingkan badan kepada Siti Hajar lalu meninggalkannya. Siti Hajar pun  langsung memegang Ibrahim. “Kenapa engkau meninggalkan kami?” ucap Siti Hajar kepada Ibrahim. Namun Ibrahim hanya diam. Hajar pun mengerti  dan ia langsung memposisikan dirinya sebagai hamba Allah.

“Apakah ini perintah Allah?”, ujarnya kembali . Ibrahim hanya mengangguk. “Kalau demikian pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan ini”, tambah Hajar.

Sungguh perkataan yang sangat emosional dari Siti Hajar, namun dikatakan dengan sangat indah dan kerelaan hati yang tinggi. Ibrahim pun dengan tabah meninggalkan Hajar bersama putranya yang masih bayi.

Suatu saat perbekalan makanan dan minuman habis, Ismail yang masih bayi menangis. Tidak ada air di tempat yang gersang, dan tidak ada orang. seperti itu. Maka Siti Hajar pun berusaha mencari air dengan menaiki dua puncak bukit Shafa dan Marwah bahkan sebanyak 7 kali, (perjuangan Siti Hajar  ini diperingati dalam rukun ibadah haji dan umrah yakni Sa’i) tentunya perjuangan yang sangat melelahkan.

Namun Allah memberikan rezeki-Nya ternyata ada di tumit Ismail. Air dengan deras memancar dari tumit Ismail. Maka Siti Hajar pun yang merupakan seorang ahli irigasi sebelumnya mengumpulkan air tersebut sehingga sumber air itu bernama Zam-Zam. Karena keahlian Hajar dalam bidang irigasi, air tersebut masih memancar sampai sekarang. Bahkan Nabi Muhammad SAW memuji Siti Hajar. Jika Zam Zam tidak dikumpulkan, maka air zamzam akan habis.

Suatu saat datanglah suku Zurhum, yakni suku Arab yang masih nomaden, melihat ada telaga di gurun pasir. Maka mereka meminta izin kepada Siti Hajar, dan meminta untuk tinggal di sana. Singkat cerita karena kepiawaiannya dalam orasi Siti Hajar diangkat menjadi kepala suku Zurhum walaupun beliau bukan orang Arab asli.

Ismail tumbuh dengan pesat dan memiliki kepribadian yang sangat baik. Waktu Ismail berumur sekitar 13 tahun, Allah kembali meberikan ujian yang luar biasa berat kepada Nabi Ibrahim. Perkataan yang diucapkan Nabi Ibrahim sebelumnya bahwa ia akan melakukan apapun termasuk mengorbankan anaknya jika itu perintah Allah, akhirnya hal tesebut benar-benar diuji. Allah meminta agar anak satu satunya dan yang diidamkan semenjak puluhan tahun harus rela untuk dikorbankan. Maka Ibrahim pun datang kepada Ismail dan memberi tahu Ismail akan perintah Allah tersebut. Dialog Ibrahim A.S. dengan Ismail A.S. diabadikan dalam Al-Quran surat Ash-Shafat (37) ayat 100-108, walaupun pada akhirnya Allah mengganti Ismail seekor kambing.  Dan kejadian tersebut diabadikan dalam Idul Adha sebagai Ibadah Qurban.

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (100). Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.(101). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata. ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’. (102). Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (103). dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, (104). Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106). dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (107). Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (108)’.” (QS. Ash-Shaaffat [37] : 100-108

Kesabaran yang Berbuah Manis

Nabi Ibrahim semakin berumur senja, para malaikat yang saat itu hendak menghancurkan kaum Nabi Luth karena kedurhakaannya, berkunjung ke rumah Nabi Ibrahim. Para malaikat memberikan kabar gembira, bahwa istrinya Siti Sarah yang sudah tua ternyata akan dikaruniai seorang anak laki-laki yang shaleh.

Ketika kunjungan itu, Siti Sarah berdiri di balik tirai sehingga dapat mendengar pembicaraan antara Nabi Ibrahim A.S dengan para tamu. Siti Sarah juga mendengar pertanyaan Nabi Ibrahim A.S. akan bagaimana kabar itu akan benar-benar bisa terjadi pada usia senja mereka. Siti Sarah juga terkejut, heran, sekaligus bahagia mendengar kabar tersebut. Maka setelah lahir bayi tersebut diberi nama Ishaq yang dalam bahas Ibrani berarti “tertawa”. Kisah ini diabadikan dalam Al-Quran Surat Ash-shafat ayat 112:

Dan kami beri dia (Nabi Ibrahim as) kabar gembira dengan kelahiran (Nabi Ishaq as) seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh” (Q.S. Ash-Shafat (37):112)

Ketabahan Nabi Ibrahim dalam menghadapi cobaan, hingga akhirnya membuat beliau diberi gelar Ulul Azmi, yakni gelar yang diberikan kepada Rasul karena kesabaran dan ketabahannya yang luar biasa. Penantian panjang untuk mendapatkan seorang putra selama berpuluh puluh tahun dijawab oleh Allah dengan lahirnya dua orang putra, Ismail A.S. dan Ishaq A.S. yang dua duanya menjadi Nabi dan Rasul, penerus perjuangan dakwah.

Kesabaran dan ketabahan Nabi Ibrahim dan keluarga, membuat nama beliau selalu disandingkan dengan Nabi Muhammad dalam shalawat yang kita bacakan setiap hari pada setiap tasyahud. Bahkan dalam Shalawat Nabi, Nama Nabi Ibrahim disebut terlebih dahulu. Perjuangan keluarga Nabi Ibrahim dijadikan sebagai ritual ibadah oleh kita sekarang, yakni ibadah Haji dan berqurban. Seperti itulah Allah menghadiahkan hambanya atas kesabaran dan ketabahan yang sangat luar biasa dari keluarga Nabi Ibrahim A.S. [Ed: Ft]

 

*Dikutip dari Pengajian Sabtu Dhuha, Bedah buku “Hajar, Perempuan Pilihan Langit” oleh Dian Yasmina Fajri (Penulis), pada Sabtu,  (25/02/2017)

Sumber lain:

di sini,   di sini  dan di sini

 

Related posts

*

*

Top