Beswan Aktivis Salman Prestatif: Dari Tasikmalaya Hingga Korea

teh annisa

Annisa Yulia Rahma (21) saat di Korea dalam rangka riset di bidang fisika medis Oktober-Desember 2016 lalu (Sumber: dok. pribadi)

 

Senin malam (20/2/2017) lalu, di koridor timur Masjid Salman ITB yang begitu sejuk,  tim Salman Media berkesempatan untuk mewawancarai Annisa Yulia Rahma, salah seorang beswan aktivis Salman yang berprestasi.  Sejak 2013 lalu, ia telah menjadi mahasiswi program studi (prodi) fisika ITB, tepatnya kelompok keahlian fisika nuklir dan biofisika. Ia berasal dari sebuah keluarga yang cukup religius, di sebuah desa di Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

Ia pernah mengenyam pendidikan prasekolah selama tiga tahun di lembaga pendidikan Islam. Menurutnya, orang tua saya memasukkannya  ke lembaga pendidikan Islam karena keluarganya cukup strict soal agama. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di SD Negeri 3 Rancapaku, Kab. Tasikmalaya, pada tahun 2001-2007.

“Sambil mengenyam pendidikan dasar umum, saya juga pernah mengenyam pendidikan dasar keagamaan di suatu Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) di kampung halaman selama empat tahun,” katanya.  Pendidikan  di MDA, juga lingkungan yang kondusif di dekat rumahnya (berdekatan dengan pesantren), menjadikannya memiliki dasar keagamaan yang cukup kuat dan baik.

Setelah lulus dari pendidikan dasar, ia melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 1 Singaparna, Kab. Tasikmalaya, selama tiga tahun (2007-2010). Kemudian ia mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Singaparna. Saat ia masih menjadi siswi SMP dan SMA, ia tidak pernah mengikuti lembaga dakwah di sekolahnya (kerohanian Islam/rohis). Namun, bukan berarti ia lantas jauh dari agama, karena ia mengikuti ekstrakurikuler pembinaan baca-tulis Al-Qur’an di SMP-nya. Di SMA-nya, ia juga mengikuti program pengajaran kitab kuning setiap Sabtu dan bahasa Arab dua kali sepekan, yang keduanya merupakan program wajib dari dinas pendidikan setempat.

Pantang Menyerah

Meskipun saat menempuh pendidikan di sekolah menengah, keluarganya mengalami kesulitan dalam ekonomi, ia tetap dapat melanjutkan pendidikannya, karena ia termasuk siswi berprestasi. Di antara bukti prestasinya di sekolah menengah yaitu keikutsertaannya dalam seleksi lomba IJSO (International Junior Science Olympiad) pada masa SMA-nya hingga tingkat nasional.

Sejak menjadi siswi SMA, ia sudah bercita-cita untuk menjadi mahasiswi ITB. Meskipun pada tahun 2012, kakak-kakak kelasnya yang mengikuti seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) hingga tingkat provinsi tidak satu pun yang diterima di ITB, ia tak lantas putus asa. Akhirnya, pada tahun 2013, ia mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB melalui jalur tersebut. Dan untungnya, ia menerima beasiswa bidikmisi sejak semester pertamanya, sehingga orangtuanya tidak terbebani.

Saat ia dinyatakan diterima di FMIPA ITB, orangtuanya sempat khawatir ia akan jauh dari masjid dan Al-Qur’an saat menjalani studi di perantauan. Namun, kekhawatiran tersebut sirna karena salah seorang kerabatnya menyarankannya untuk aktif di Masjid Salman ITB. Karena itu, ketika ia masih menjalani tahun pertamanya di ITB, ia mendaftarkan diri untuk menjadi kakak PAS (Pembinaan Anak-Anak Salman) ITB. PAS adalah unit di Salman yang membina anak-anak TK dan SD.

Keaktifannya di PAS ITB boleh dikatakan total, karena setiap kali ada agenda rutin PAS – yang biasanya diadakan pada hari Sabtu dan Ahad – ia selalu memprioritaskannya, sehingga agenda-agenda lain yang bersamaan waktunya dengan agenda rutin tersebut selalu ia tinggalkan – selain agenda akademik tentunya. Dan keaktifannya itulah yang menjadikan ia betah berada di kompleks Salman dan ketagihan untuk aktif di dalamnya.

“Saya cukup memprioritaskan PAS daripada agenda rutin lain, selain agenda akademik tentunya. Makanya, saya jadi betah berada di lingkungan Masjid Salman dan cukup ketagihan untuk aktif ya,” kata perempuan kelahiran 1995 itu.

Seiring berjalannya waktu, ia menjadi semakin aktif di Salman. Terlebih setelah ia diterima di asrama putri Salman 2014 lalu. Sepanjang tahun 2015, ia aktif di kepanitiaan LMD (Latihan Mujtahid Dakwah) sebagai panitia operasional. Keaktifannya di kepanitiaan LMD membuatnya ketagihan, sehingga ia pun ingin ikut serta dalam pengonsepan LMD dan mendapatkan pengalaman lebih di kepanitiaan.

“Alhamdulillah, ketika saya lolos sebagai penerima beasiswa aktivis Salman, saya ditugaskan menjadi steering comittee LMD, sesuai dengan apa yang saya harapkan,” ujarnya.

Pada Agustus 2016, setelah dua tahun tinggal di asrama, ia diberi amanah sebagai fasilitator (fasil) asrama putri. “Tahun 2017 ini,  saya kembali menerima beasiswa aktivis Salman, dengan penugasan sebagai fasil asrama. Selain membantu dari sisi ekonomi, hal ini membantu meningkatkan kemampuan berorganisasi dan bermasyarakat ya,” tuturnya.

Manajemen Waktu Supaya Raih Segala Harapan

Meskipun ia memiliki banyak kesibukan, baik akademik maupun nonakademik, ia tetap dapat menunjukkan prestasi akademik yang gemilang. Justru, kemudahan dalam urusan akademik diperolehnya saat diamanahi banyak hal. “Alhamdulillah, sejak semester tiga, saya selalu mendapatkan nilai 3,5 ke atas di setiap semester, karena saya sudah masuk prodi fisika, dan itu memang passion-nya saya,” ujarnya.

Prestasi akademiknya yang gemilang itulah yang memudahkan jalannya untuk menjadi koordinator asisten praktikum di laboratorium fisika dasar ITB dan asisten di laboratorium prodi fisika. Karena ia selalu mendapatkan Indeks Prestasi (IP) tinggi pula, ia  meraih penghargaan  dari FMIPA dan berkesempatan untuk melakukan riset di bidang fisika medis di Korea pada Oktober-Desember 2016. Dalam riset tersebut, ia meraih penghargaan sebagai periset dengan presentasi hasil riset terbaik.

Saat ini, ia sedang menyelesaikan tugas akhir sarjananya dan mengambil beberapa mata kuliah program magister, karena ia mengikuti program fast track. Program tersebut merupakan program percepatan studi program sarjana dan magister sehingga keduanya selesai sekaligus dalam lima tahun. Ia bercita-cita untuk melanjutkan studi program doktor di Korea, Jepang, atau Amerika, dan setelah itu menjadi peneliti di bidang fisika medis dengan fokus terapi pemulihan radiasi, juga konsultan di bidang tersebut.

“Semoga dengan  saya bekerja di bidang tersebut, saya bisa mengangkat kembali ekonomi keluarga,  dan memberikan kontribusi ke pemerintah dan masyarakat Indonesia. Saya juga berpesan supaya setiap beswan aktivis mengatur waktunya dengan efektif dan efisien, serta selalu total saat melakukan sesuatu,” katanya yang juga menyarankan agar beswan selalu meringankan kesulitan orang lain, agar Allah memudahkan urusan mereka. [Ed : Ft]

Related posts

*

*

Top