Beswan Aktivis Salman Prestatif : Bekali Diri dengan Prestasi

DSC00484

Ardinda Kartikaningtyas saat di Jepang dalam acara Tokyo Tech Indonesian Commitment Awards cluster Monozukuri pada tahun 2016. (dok.pribadi)

Berawal dari keikutsertaannya di unit KARISMA (Keluarga Remaja Islam Salman), perempuan kelahiran Blora ini semakin aktif berkegiatan di Salman. Setelah itu, ia pun memulai kegiatannya menjadi aktivis salman sejak menjadi tutor pada sebuah program di Bidang Mahasiswa dan Kaderisasi (BMK) Masjid Salman ITB. “Jadi, saya tutor di Student Center. Dulu koordinator program Student Center itu Kak Habib. Karena beliau sebentar lagi lulus, maka saya diamanahi untuk menjadi koordinator program Student Center hingga saat ini,” ucap Ardinda Kartikaningtyas, Jumat (10/2/2017).

Sejak Januari 2016 silam, Tyas, sapaan akrabnya, menjadi penerima beasiswa aktivis salman. Seperti paparannya di atas, ia ditugaskan di BMK, tepatnya menjadi koordinator program Student Center. Program ini adalah sebuah tutorial Matematika, Fisika, Kimia, dan PTI  bagi mahasiswa TPB ITB.

“Sebenarnya saya bukan pemimpin yang baik, tapi harus menyesuaikan diri. Soalnya dulu di Karisma sebelumnya jadi sekretaris, tapi sekarang harus mengkoordinir orang. Saya tipe yang  bisa mengejar orang atau memberdayakan staff. Saya lebih suka mengerjakan sesuatu sendiri,” ujar  pemenang Tokyo Tech Indonesian Commitment Awards cluster Monozukuri pada tahun 2016 itu.

DSC02296

Ardinda, (baris kedua, ke empat dari kiri, berkerudung merah) dalam peraihan medali perak di PIMNAS 29, tahun 2016. (foto: dok.pribadi)

Selain itu, mahasiswi Teknik Fisika ITB 2013 ini pun telah mendapatkan banyak penghargaan. Pada tahun 2016, ia menjadi penerima dana penelitian pada perhelatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) – Gagasan tertulis. Masih pada tahun 2016, ia bersama tim-nya meraih medali perak di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-29  dalam kategori PKM- Karsa Cipta.

“Inspirasi dan motivasi saya yang terbesar adalah orang tua. Kenapa saya memiliki target yang ingin dicapai, karena ada alasan di balik itu. Saya ingin memiliki bekal sebagai ibu untuk anak-anak saya nanti supaya menjadi ibu yang pintar bagi mereka,” papar Tyas, yang juga pemenang kedua dari Bidikmisi Paper Competition, dalam Bidikmisi Student Forum 2015.

DSC02265

Ardinda bersama tim-nya dalam perhelatan PIMNAS ke-29. (foto : dok.pribadi)

Baginya, Salman merupakan tempat bagi semua kalangan. Salman buat semua orang. Karena penerima beasiswa aktivis Salman bukan hanya mereka yang aktif sebelumnya di Salman, tetapi terbuka bagi siapapun yang bahkan belum pernah ke Masjid Salman ITB.

“Beasiswa aktivis Salman menjadi gerbang bagi mereka yang ingin aktif dan masuk ke dalam berbagai kegiatannya untuk melayani jama’ah. Selain itu, penerima beasiswa pun mendapatkan fasilitas berupa pelatihan kepemimpinan yaitu Latihan Mujtahid Dakwah (LMD),” kata perempuan kelahiran 6 Februari 1995 ini.

Ia berharap supaya Salman lebih terkenal sebagai masjid ummat, untuk semua orang, dan untuk semua kalangan. Bukan hanya masjid-nya orang ITB. Oleh karena itu, Salman memiliki strategi bagus dengan menyentuh mahasiswa-mahasiswi lainnya melalui beasiswa.

 

 

 

 

 

Related posts

*

*

Top