Beswan Aktivis Salman Prestatif : Dari Masjid Hingga ke Luar Negeri

4

(foto : Zaenal M.)

Siapa bilang kalau jadi aktivis masjid hanya terkenal di kalangannya saja? Nyatanya, Masjid yang memiliki sebutan “Oase Masyarakat Kota” ini sudah lama membina anak-anak muda, khususnya mahasiswa se-Bandung Raya.  Salah satu pemikat pemuda-pemudi yang tengah menimba ilmu di perguruan tinggi ini adalah Beasiswa Aktivis Salman. Beasiswa ini menjadi salah satu beasiswa yang diburu mahasiswa bukan hanya dari ITB saja. Melainkan seluruh mahasiswa Bandung Raya dan bahkan Jatinangor, Sumedang.

Kali ini saya berkesempatan mewawancarai beswan yang tengah mengakhiri studi untuk mendapatkan titel sarjana. Ia adalah Rifqi Fathul Azhar. Mahasiswa Aeronotika dan Astronotika 2012 ini sejak semester 5, tepatnya pada tahun 2014, sudah menjadi penerima Beasiswa Aktivis Salman dan ditugaskan di Tim ITB Spiritual Camp.

Menjadi beswan Aktivis Salman adalah sebuah tanggung jawab. Sebab, penerima beasiswa ini akan ditugaskan di berbagai bidang dan program yang dikelola Masjid Salman ITB. Selain itu, beswan akan mendapatkan fasilitas pelatihan kepemimpinan berupa Salman Spiritual Camp dan Latihan Mujtahid Dakwah.

“Tiap orang pasti mengambil manfaat yang berbeda-beda. Tetapi yang saya dapat sih pastinya pengembangan diri dan jadi lebih tahu kalau Salman bukan masjid biasa,” ungkap pria kelahiran 27 Oktober 1995 itu.

“Semakin kenal, jadi semakin kagum dan kalau Allah kasih saya kesempatan, saya ingin terus membantu di sini,”.

Penugasan yang diberi oleh pihak beasiswa bukan menjadi penugasan yang berat baginya. Sebab, di tempat penugasan yang diberikan, maka akan bertemu dengan orang baru yang berakhir menjadi keluarga. “Mereka adalah orang yang nggak sering wacana dan peduli banget sama kita,” tutur Rifqi, saat diwawancarai via Line Messenger, Ahad (12/2/2017).

Ada duka yang dialami beswan satu ini. Ketika ia dilanda dilema ketika harus memilih antara pembinaan di Salman dan berbagai kesibukannya di luar sana. “Ya, padahal saya sok-sokan sibuk, hehe,” ungkap beswan yang kini ditempatkan di Bidang Mahasiswa dan Kaderisasi Salman.

rifqi 1

Rifqi pada saat menjadi peserta Summer Camp di Hongkong, 2-11 Juli 2016 lalu. (foto: dok. pribadi)

Yang menarik dari Rifqi adalah, bukan hanya seorang aktivis Salman biasa. Akan tetapi, memiliki segudang prestasi yang patut diberi apresiasi.  Selain pernah menjadi mahasiswa berprestasi Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, ia pernah menjadi peserta HKUST (Hongkong University of Science and Technology) Elite Students Summer Camp 2016. Acara yang berlevel internasional ini digelar di Hongkong pada tanggal 2 hingga 11 Juli 2016 silam.

 

“Dalam lomba tim, saya dan teman-teman pernah mendapatkan Silver Medal di International Genetically Engineered Machine (iGEM) pada tahun 2015, dan masih lomba tim, pernah menjadi Finalis lima besar Paper Competition Tokyo Tech Indonesian Commitment Awards 2016,” papar pemenang Kontes Robot Terbang Indonesia 2014 (UAV Competition) ini.

Kali ini, Rifqi bersama ketiga temannya tengah mengikuti lomba yang diadakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hokkaido di Universitas Hokkaido, Sapporo,  Jepang. Lomba yang bernama Hokkaido Indonesia Student Association Science Meeting (HISAS) 14 itu  adalah sebuah pertemuan sains tahunan.

Teknik dari lomba tersebut adalah para peserta lomba harus mengirim paper  sesuai dengan tema yang diusung oleh PPI Hokkaido. “Dan tema yang diusung pada tahun ini adalah  Sustainable Development Goals. Pelaksanaan HISAS 14 nya sendiri di Universitas Hokkaido pada tanggal 16 hingga 19 Maret 2017,” ucap laki-laki yang memiliki motto ‘Ikhlas karena Allah – Kalau ada 1000 alasan untuk berhusnudzhan, kenapa harus berprasangka buruk?’

rifqi n team

Rifqi bersama tim lomba paper Hokkaido Indonesia Student Association Science Meeting 14. (foto : dok.pribadi)

Rifqi pun menerangkan,  ada dua tim dari Salman yang mengikuti perlombaan bergengsi tersebut.  Tim pertama, alias timnya  membahas desain dan prototipe dari westafel dengan air daur ulang, yang bisa dengan mudah dibawa kemana-mana (portable). Tujuannya dari produk ini adalah membuat para pedagang kaki lima (PKL) Makanan di daerah Jalan Gelap Nyawang, Kota Bandung,  memenuhi standar sanitasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

“Kalau satu lagi membahas solusi kebijakan (untuk masyarakat) agar mereka lebih mau menggunakan transportasi publik. Tujuan dari kebijakan ini ya mengurangi kemacetan kota Bandung yang semakin parah dari waktu ke waktu,” katanya.

Kabar baiknya adalah, kedua tim dari Salman ini masuk peringkat 75 besar dari ratusan paper yang masuk. Rifqi berharap supaya paper kedua tim ini dapat didukung dan bisa lolos ke tahapan selanjutnya serta menyabet juara.

 

 

Related posts

*

*

Top