Minimalisasi Kemiskinan, Rumah Amal Salman ITB Bentuk Masyarakat Berdaya Lewat Bisnis

DSC06591

(ilustasi : Zaenal M.)

Dalam membangun masyarakat madani, Rumah Amal Salman ITB dengan serius menggarap masyarakat yang berdaya dalam aspek ekonomi. Pada tanggal 28 Januari 2017 silam, Rumah Amal menyajikan dua pelatihan bagi para Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau biasa disebut UMKM. Pelatihan pertamanya bertema “UMKM Go Online” dan yang kedua adalah “Manajemen Pencatatan Usaha”.

Para UMKM yang mendaftar di kepelatihan tersebut nantinya akan bergabung menjadi 300 UMKM pilihan dari Rumah Amal.  Setelah melewati proses screening, 100 UMKM nya akan menjadi bagian dari pendampingan sertifikasi halal. “Kita akan coba pasarnya kemana. Jadi ada 3 target, yakni jangka pendek, menengah dan panjang,” ujar Riki Ramdani, inisiator dari program ini, Sabtu (28/1/17).

Jangka pendeknya, pada Bulan Maret mendatang akan digelar sebuah acara Salman Agri Market. Disana para UMKM akan berpartisipasi meski masing-masing dari mereka belum memakai brand. Salman Agri Market akan menjadi tempat bertemunya UMKM binaan Rumah Amal dengan pembeli yang potensial. “Secara keseluruhan masih dalam proses diskusi kami,” tuturnya.

Riki pun menuturkan, jangka menengah dari program ini UKMK akan memberikan feedback pada Rumah Amal. Hal ini bukan hanya berdasarkan pada sebuah bisnis, akan tetapi akan membentuk sebuah gerakan masyarakat. Tiap kampung-kampung binaan di bawah Rumah Amal pun tentunya akan terbentuk UMKM yang bisa menjadi supplier. “Misalnya, menciptakan koloni kebutuhan qurban. Mereka adalah para peternak sapi yang akan terus menjadi supplier kita. Kampung-kampung binaan akan menciptakan gerakan masyarakat yang berkembang dengan bisnis ini,” ujarnya.

Bicara soal sertifikasi halal, Rumah Amal bisa mengantarkan para UMKM untuk mendapatkan sertifikasi. “Kalau bicara wadah,kita memang belum bisa menjadi rujukan. Setidaknya kita bisa mengantarkan proses mereka ke yang berwenang sehingga ada rasa aman,” kata Riki.

“Jadi nanti akan ada semacam Halal Mall. Halal Mall ini adalah para supplier dari berbagai UMKM yang kita dirikan. Kita bisa menurunkan 1000 produk halal,”. Riki pun menambahkan, 300 UMKM dari hasil pelatihan itu terdiri dari 250 UMKM terdaftar dan sisanya rekrutmen terbatas dari kampung binaan Rumah Amal.

“Kampung menjadi sebuah media. UMKM adalah prosesnya. Kita fokus untuk membangun kampung mandiri. Jika UMKM sudah memiliki produk, maka mereka bisa menjalankan bisnis. Yang disebut kampung berdaya ialah ada kegiatan UMKM, yakni adanya jalur distribusi, pembeli, marketing, dan aktivitas UMKM terkait pemenuhan kebutuhan,”  tutur inisiator Amal Berdaya itu.

Yang lebih tinggi lagi adalah membentuk Kampung Madani. Ia adalah sebuah kampung yang memperhatikan karakter masyarakat, pengangkatan nilai-nilai, sehingga menjadi masyarakat yang anti riba dan anti korupsi, misalnya. Goals-nya nanti  bisa menjadi kampung yang mendapat penghargaan dari Kementerian Sosial, atau Badan Narkotika Nasional (BNN) karena bersih dari narkoba.

Komunitas Madani adalah sebuah cita-cita, dimana membangun masyarakat lewat sisi komunitasnya. Ada harapan dimana penerima manfaat akan kembali ke komunitas masing-masing dan mengembangkan usaha di sana. Disitulah media kampung berjalan.

Pelatihan ini semacam pintu gerbang menuju langkah selanjutnya. Setelah semua berjalan dan mapan, maka akan terbentuklah Kampung Madani. Ini menjadi sebuah program Amal Berdaya. Sebuah gerakan masyarakat untuk berkontribusi meminimalisir kemiskinan.

Putaran ekonomi dari hasil yang telah mapan nantinya akan ada tiga bagian. Ada yang bertindak sebagai supplier industri penghasil bahan baku, industri memproduksi bahan baku setengah jadi, dan barang jadi.

“Adanya UMKM menjadi sebuah jaringan supaya fungsi komunitasnya berjalan. Semua ada keterkaitan satu sama lain. Karena membentu sebuah konsep Madani adalah suatu yang komprehensif,” pungkas Manajer Program di Rumah Amal Salman ITB ini.

 

Related posts

*

*

Top