Selamatkan Diri Dari “Al-Wahn” : Cinta Dunia dan Takut Mati

Uang-Lebih-Penting-dari-Cinta

(foto: tergemes.com)

 

“Wahai manusia, setiap hari usiamu berkurang, sayangnya engkau tidak pernah menyadarinya. Setiap hari Aku datangkan rezeki kepadamu, tapi engkau tidak pernah memuji (berterima kasih kepadaKu). Setiap hari Aku tidak henti-hentinya memberi rezeki kepadamu, tapi setiap malam Malaikat datang kepada-Ku membawa catatan perbuatan jelekmu”

Hadits Qudsi diatas menjadi awalan pengingat kita bahwa banyak sekali manusia yang kurang menyadari akan besarnya rahmat Allah. Manusia memakan rezeki dari Allah, namun manusia tidak pernah merasa malu berbuat durhaka kepada Allah. Doa-doa manusia oleh Allah dikabulkan, kebaikan dari-Nya tidak putus-putusnya selalu mengalir untuk manusia. Akan tetapi,  catatan buruk manusia tidak pernah berhenti sampai kepada Allah.

Kebanyakan manusia juga takut kepada sesama manusia, tapi sedikitpun tidak pernah takut kepada Allah SWT. Hingga manusia takut pada murka manusia, tapi tidak pernah takut pada Allah. Oleh karena itu, langkah awal membangun kesadaran diri akan rahmat Allah adalah dengan menanamkan perasaan selalu merasa diawasi oleh Allah kapanpun, dimanapun.

Di akhir zaman, Allah akan menanamkan kepada kita sifat Al-Wahn yaitu cinta dunia dan takut mati. Manusia akan banyak mengejar urusan dunia, bahkan berani menggadaikan keimanannya hanya demi kenikmatan dunia semata. Hidup itu inginnya senang terus, padahal tidak ada senang tanpa susah.

Namun, adakalanya kenikmatan yang membuat orang senang, justru menjadikan manusia jauh dari Allah SWT dan melampaui batas-batas  yang telah ditentukan oleh-Nya.  Padahal 1 hari di dunia itu bagaikan 1000 tahun di akhirat. Oleh karena itu, agar kita selamat dari sifat itu, Allah memerintahkan kita agar mencari kehidupan terbaik.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS An-Nahl: 97)

Menurut Ayat tersebut, kunci dari kehidupan terbaik itu adalah memperbanyak Amal Shaleh. Contohnya dengan membantu tetangga, lalu memberi tanpa mengharap balasan dari manusia maupun dari Allah. Atau menabung dan berinvestasi pahala dari hal-hal terkecil.

Menurut penuturan Dedi Mulyasana, ada beberapa kunci hidup sukses. Pertama, bersyukur kepada Allah. Bersyukur menjadi hal yang seringkali dilupakan oleh manusia. Kenikmatan yang tiada tara dianggap kecil, padahal masih banyak manusia lain yang hidupnya di bawah dari kita. Kebiasaan manusia lah yang iri melihat manusia lain yang lebih dalam hal materi, padahal belum tentu kebahagiaan batinnya terpenuhi. Maka dari itu, tentulah manusia diperintahkan untuk bersyukur supaya hidup terasa cukup dan selalu melihat kebawah.

Kedua, menjumpai Allah pada saat bahagia maka Allah akan menjumpaimu pada saat menderita. Manusia pada dasarnya sering mengeluh jika mendapatkan musibah, rasa sakit, dan penderitaan. Maka sejatinya manusia pun langsung mendekatkan diri pada Allah supaya Allah membantunya. Tetapi, ketika Allah telah memberikan kesenangan setelah itu, niscaya sirnalah kedekatan manusia kepada Tuhannya. Seakan ia dibutakan dengan kesenangan dan kemudahan yang ia dapatkan, padahal sejatinya itu semua dari Allah SWT.

Ketiga, mengingat Allah. Itu merupakan kunci sukses yang seharusnya dimiliki oleh manusia. Ketika semua yang kita lakukan, aktivitas sehari-hari didasari kepada Allah, maka tiadalah yang sia-sia. Semua kan menjadi pahala baginya.

Keempat, membebaskan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan dunia. Allah telah berjanji bahwa barangsiapa yang selalu menolong, membantu manusia lainnya dari kesulitan, niscaya hilanglah kesulitan padanya. Janji Allah selalu tepat. Maka kesuksesan pun akan dapat diraih oleh manusia yang selalu menolong orang lain.

Kelima, menanggung anak yatim. Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.[HR al-Bukhari]

Makna hadits ini adalah  orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keenam, menafkahi istri. Sebagaimana Allah berfirman dalam Alquran, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” . [al Baqarah:233]

Mendermakan harta untuk agama Allah merupakan suatu hal yang sungguh terpuji. Masih banyak manusia yang tidak menyadari betapa besarnya balasan bagi orang yang selalu mendermakan harta untuk agama Allah. Yaitu orang-orang yang senantiasa membersihkan rizkinya dengan cara infaq, tidak melupakan zakat karena hukumnya wajib, serta shadaqah sebagai pahala yang terus mengalir.

“Perumpamaan orang yang membelanjakan harta benda mereka dijalan Allah, adalah laksana satu biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Dan Allah akan menggandakan (pahala) kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah maha luas lagi maha mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah/2:261)

Kunci sukses terakhir adalah tidak bermegah-megahan dengan nikmat. Karena, Allah telah menegaskan dalam Surat At-Takatsur ayat 1-8 yang berbunyi : “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ´ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”

Oleh karena itu, jadikan Akhirat sebagai prioritas utama. Jika dipersentasekan, 70% untuk Akhirat dan 30% untuk Dunia. Bersiap karena akan banyak permasalahan yang menghadang. Namun sebaik-baiknya orang adalah bukan yang takut menghadapi masalah, tetapi yang mampu menghadapinya dengan sabar dan syukur agar menjadi suatu kenikmatan dan Amal shaleh. [Ed:Ft]

*diulas dari Kajian bersama Ustadz Prof. Dr. Dedi Mulyasana, dalam Kajian Sabtu Duha pada hari Sabtu (12/2/17) di Masjid Salman ITB.

Referensi lain : https://almanhaj.or.id/3364-keutamaan-menyantuni-anak-yatim.html

 

*

*

Top