Tingginya Ilmu dalam Dinamika Peradaban

ilmu-dan-peradaban

(ilustrasi : kaliakbar.com)

Pendidikan menjadi sorotan yang berarti di berbagai pelosok negeri. Tak terkecuali masyarakat pemegang prinsip Islami. Islam menjunjung tinggi ilmu hingga para pengembannya disejajarkan Al Qur an dalam rentetan ayat-Nya. Bahwa “Allah, malaikat dan orang yang diberikan ilmu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia”. Ayat ini menunjukkan penghargaan dari Allah untuk orang berilmu sehingga disebutkan beriringan dengan nama-Nya serta malaikat-Nya. Dalam Islam ulama sebagai orang berilmu pun dihormati, tentu saja juga karena ilmunya. Terlepas dari itu, Allah memberikan ganjaran bagi yang berjalan menuntut ilmu, lebih baik dari shalat 100 rakaat. Begitulah cara Allah menyeru kewajiban seorang muslim dalam menuntut ilmu.

Layaknya dua sisi mata pisau, ilmu dapat memuliakan manusia namun di sisi lain, dapat menghinakan manusia. Ilmu seharusnya membuat umat Islam menuju peradaban yang progresif. Kehancuran umat Islam terjadi ketika, terdapat 3 hal yang tidak diperhatikan. Tiga hal tersebut mencakup lemahnya politik, terlantarnya ekonomi, dan tentu saja rancunya ilmu. Kerancuan ilmu menghilangkan keteraturan, menyebabkan sesuatu tidak ditempatkan pada seharusnya. Begitupun jika ada orang yang berilmu dan tidak bertauhid, ilmunya sia-sia belaka.

Tidak hanya sampai di situ, mendahulukan yang remeh temeh ternyata membuat ilmu menjadi berbahaya. Ada makna prioritas yang membutuhkan peran ilmu dalam mengurutkannya. Segala ilmu tentulah berasal dari Maha Pemilik Ilmu. Setinggi-tingginya derajat yang Allah berikan bagi orang berilmu, bukanlah ruang untuk berbangga diri. Pepatah ilmu padi cukup menjadi analogi akan pribadi berilmu nan rendah hati. Jadikanlah aku sebuah teropong, melihat diri lebih kecil, dan melihat ke luar semakin besar.

Allah akan mengangkat orang orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah). Semakin berilmu seseorang, maka kita akan semakin meyakini adanya Allah. Kendati demikian, ilmu dan iman harus sejalan.. Keutamaan belajar salah satunya terletak pada para malaikat yang mengepakkan sayapnya kepada pemburu ilmu. Mengajarkan adalah taraf amal yang mulia setelah seseorang mencapai taraf belajar terlebih dulu. Tingginya derajat orang berilmu dapat dimaknai melalui bagaimana sesorang dapat mengamalkan ilmunya dalam peradaban yang kini kian dinamis. Ilmu yang diiringi iman kelak menghasilkan peradaban hakiki yang tercatat sebagai penutup akhir zaman. (Cintya)

 

*diulas dari Kajian Ifthar pada hari Kamis, 2 Februari 2017 bersama Ustadz Yayat Supriatna.

Related posts

*

*

Top