Agar Ta’aruf Sesuai Syariat

 

ilustrasi-menikah_20150927_080748

pic : palembang.tribunnews.com

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. (UU no. 1 tahun 1974, pasal 1). Dalam Islam, nikah adalah ibadah. Maka dalam Al-Qur’an, hukum-hukum mengenai nikah dan pembinaan keluarga diatur dalam banyak ayat. Selain itu, Rasulullah – shallallahu ‘alayhi wa sallam – pun pernah bersabda, Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, ia bukan golonganku. (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.

Pada dasarnya, hukum nikah adalah mubah. Akan tetapi dalam praktiknya terdapat berbagai hukum nikah dalam syariat. Nikah bisa menjadi wajib jika seseorang sudah mampu dan khawatir terjerumus pada zina. Jika ia mampu, namun yakin dirinya tidak akan terjerumus padanya, nikah menjadi sunnah baginya. Adapun jika ia bermaksud menyakiti pasangan atau berbuat buruk kepada pasangan dan/atau keluarganya, nikah menjadi haram baginya.

Bagi para pemuda, nikah umumnya menjadi wajib atau sunnah, sebab pemuda umumnya memiliki libido seksual tinggi. Karena itu, potensi pemuda untuk berzina lebih tinggi. Potensi ini akan semakin besar jika pemuda tidak mampu menahan nafsunya. Maka tak mengherankan jika Rasulullah memerintahkan para pemuda untuk menyegerakan nikah jika mampu. Jika belum mampu maka harus memperbanyak puasa. Karena, makanan erat hubungannya dengan libido.

Sebagai sebuah ibadah, tentu saja nikah memiliki tujuan. Diantaranya yaitu mewujudkan pendidikan yang berkesinambungan terutama pendidikan agama. Untuk mencapai tujuan mulia dari nikah, diperlukan persiapan untuk melakukannya. Ada tiga aspek persiapan yang harus dilakukan, yaitu peningkatan iman, doa, dan ikhtiar. Termasuk aspek ikhtiar yaitu ta’aruf yang syar’i.

Ta’aruf adalah syari’at yang harus dilakukan oleh muslim dan muslimah yang hendak menikah agar tidak seperti membeli kucing dalam karung. Ta’aruf lebih tinggi derajatnya daripada ta’alum. Karena ta’aruf berarti saling mengenal sampai ke karakter jiwa, sedangkan ta’alum tidak demikian. Dalam ta’aruf tidak boleh ada pelanggaran terhadap hukum Allah, agar proses tersebut diberkahi dan tidak dimurkai Allah Azza wa Jalla.

Sebagai sebuah syari’at, ta’aruf memiliki dasar hukum, di antaranya An-Nisa: 1 dan Al-Hujurat: 13. Dan tentu saja ta’aruf yang syar’i ada aturannya. Diantaranya yaitu memilih calon pasangan berdasarkan agama dan akhlaknya. Hal ini sangat penting supaya rumah tangga menjadi surga yang diliputi sakinah (ketenangan), mawaddah (kasih sayang yang tulus), dan rahmah (rahmat dari Allah), serta menghasilkan generasi baru yang bertaqwa. Kasih sayang dan kesuburan pasangan juga sepatutnya dipertimbangkan, karena Rasulullah akan membanggakan jumlah umatnya yang banyak pada hari akhir.

Terakhir, dalam proses ta’aruf diperlukan istikharah, ridha orangtua, doa, dan pendekatan kepada calon mertua. Dalam hal ini, seorang pria harus mendekati wali nikah calon pasangannya. Pendekatan harus dilakukan secara persuasif agar kedua belah pihak ridha. Dalam ta’aruf pun survei terhadap calon pasangan dan keluarganya mutlak harus dilakukan. Hal ini perlu dilakukan agar kejujuran dalam proses taaruf lebih terjamin. Karena taaruf harus dilakukan dengan jujur dan kejujuran adalah salah satu konsep terpenting dalam Islam. (Faisal)

 

*disarikan dari Sekolah Pra Nikah, Ahad (22/1/17), di Gedung Serbaguna Masjid Salman ITB. 

Related posts

*

*

Top