Kisah Alumni Asrama Salman : Abdikan Diri di Pesantren Cipasung Tasikmalaya Hingga Persunting Putri KH. M. Ilyas Ruhiat

ky3

Kunjungan Ir. M. Hatta Rajasa ke Pesantren Cipasung beberapa tahun lalu. Abdul Chobir tepat di sebelah kiri dari Hatta Rajasa memakai dasi merah. (foto: dok.pribadi)

Reaksi fantastis macam apa yang akan Anda lontarkan tatkala seorang lulusan ITB mempersunting putri kyai masyhur negeri ini, bahkan tak tanggung-tanggung menjadi pewaris tahta Sang Kyai?

Tentu ini bukan sekadar kelakar omong kosong belaka kemudian dengan sengaja saya lemparkan ke hadapan Anda. Ini fakta.

Selasa, (17/1/17) saya diberi kesempatan oleh Allah untuk mewawancarai KH. Abdul Chobir, MT, salah seorang alumni Asrama Salman ITB. Beliau adalah menantu kyai karismatik Alm. KH. Muhammad Ilyas Ruhiat, Rais Aam Pengurus Besar Nahdhatul Ulama periode 1992-1999. Meskipun saya tidak mewawancarai beliau secara tatap muka, melainkan lewat pesawat telepon saja. Namun sangat bisa dipastikan bahwa beliau ini adalah orang yang santun dan kalem. Saya bisa menangkap kesan tersebut dengan jelas lewat suara beliau melalui gagang telepon.

“Begini, Yai…,” saya memulai percakapan. “Saya penasaran bagaimana kisah awal Pak Kyai hingga akhirnya bisa menjadi pemimpin Pondok Pesantren Cipasung.”

Kemudian di seberang sana, Abdul Chobir bercerita.

“Ya begini. Dulu, saat rezim berkuasa di zaman itu, kegiatan kemahasiswaan di ITB seolah vakum. ITB dijaga ketat oleh militer. Nah, kami akhirnya berinisiatif membuat kegiatan di luar. Teman-teman banyak yang membuat LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk lain. Salah satunya saya,” ujarnya.

“Ketika itu, saya dan beberapa teman mengabdikan diri di Pesantren Cipasung, asuhan Kyai Ilyas Ruhiat. Dan akhirnya saya kecantol sama putri beliau, hehehe.” Beliau melanjutkan kisahnya selang beberapa saat setelah tawa renyah itu buncah.

kya1

Kyai Abdul Chobir tengah berjalan di halaman asrama putri Pesantren Cipasung. (foto: dok.pribadi)

“Selepas lulus dari Fisika ITB, tahun 83 saya menikah dengan putri Kyai Ilyas Ruhiat. Kebetulan istri saya saat itu juga masih kuliah di IKIP Bandung (sekarang bernama UPI—red.). Tahun 87, barulah saya pindah ke Cipasung, dan mulai membantu pesantren,”.

Abdul Chobir mengatakan jika dibilang pimpinan pesantren, bukan hanya dia. Karena  Pondok Pesantren Cipasung itu besar sekali. Sekarang ada 10 asrama putra dan 10 asrama putri. Chobir  memegang beberapa bagian saja.

Ternyata, santri yang mukim sekitar 1700-an. Tapi kalau total di Yayasan Cipasung sendiri, sejak TK (Taman Kanak-kanak) hingga perguruan tinggi ada kurang lebih 7000 siswa.

“Wah, banyak sekali ya, Yai,” jawab saya penuh rasa takjub dibalik telepon.

Saya pun melanjutkan pertanyaan berikutnya mengenai STT (Sekolah Tinggi Teknologi) Cipasung yang beliau rintis. Dengan sangat antusias, beliau mulai berhikayat kisah perjuangannya ini.

“Sebetulnya, Cipasung sudah punya kampus sejak dulu. Bahkan lebih tua dari IAIN Bandung (UIN Bandung—red.). Namanya Institut Agama Islam Cipasung (IAIC). Berdiri sejak tahun 65. Kalau masalah kiblat, Institut Agama Islam Cipasung menginduk ke IAIN Yogyakarta kala itu,” tuturnya.

Tetapi, IAIC  kampus ini hanya ada ilmu agamanya saja. Oleh sebab itu Ilyas Ruhiat menyarankan untuk mendirikan kampus umum. Masyarakat di daerah sana pun masih kental dikotominya. Mereka menganggap seolah ilmu umum bukan ilmu Allah. Akhirnya, berdirilah STT Cipasung di komplek Institut Agama Islam Cipasung pada tahun 1997-1998-an.

“Alhamdulillah, sekarang STT Cipasung sudah punya gedung sendiri. Berpisah dari komplek Institut Agama Islam Cipasung. Ya, kami rintis bareng-bareng. Minta bantuan teman-teman alumni ITB juga. Kalau soal jurusan, baru ada Teknik Industri (TI) dan Teknik Lingkungan (TL). Ke depannya, kami berencana membuka program baru untuk Teknik Informatika,” paparnya.

Kalau ditanya mengenai alasan mengapa hanya program itu yang dibuka, karena di Universitas Siliwangi (salah satu kampus di Tasikmalaya—red.) belum ada TI dan TL. Tapi, peminat TL selama ini belum ada. Sehingga mahasiswa STT Cipasung ya hanya mahasiswa TI.

Seolah tengah membaca daftar pertanyaan saya, Kyai Abdul Chobir memaparkan secara gamblang program-program unggulan STT Cipasung, tanpa saya bertanya sebelumnya.

ky2

Kyai Abdul Chobir membaur dengan para wisudawan-wisudawati STT Cipasung, bahkan bergaya salam dua jari. (foto: dok.pribadi)

“Kami ada program tadarus dari jam 8-9 pagi tiap hari Jumat. Kegiatan ini merupakan salah satu ciri khas pesantrren yang saya usung ke kampus. Selain itu, kami juga ingin memperkuat enterpreneurship. Jadi sebelum mengikuti ospek KTMB (Kuliah Ta’aruf Mahasiswa Baru), mereka bakalan diberi pelatihan wirausaha selama seminggu. Alhamdulillah, sudah ada yang berhasil. Ada yang ngembangin jajanan buat anak sekolah, ada juga yang mendalami kualitas produk perikanan dan pertanian. Selain kuliah, mereka juga berwirausaha. Terkait jumlah mahasiswa, sekarang ada sekitar 120-an. Kan enggak gampang, Dek, bikin kampus di daerah.”

Saat ditanya ihwal para alumninya, dengan semangat Abdul Chobir membanggakan bahwa alumni STT Cipasung sudah ada yang jadi DPR, konsultan sukses, juga ada yang jadi PNS.

Sebagai pertanyaan penutup, saya menanyakan terkait nilai-nilai Asrama Salman yang beliau terapkan di pesantren maupun STT Cipasung. Tak lupa pula, saya minta nasihat untuk kami yang masih berkecimpung di Salman.

“Salah satu nilai yang saya pegang teguh yang sekiranya menjadi ciri khas Salman itu ya perihal dikotomi. Jangan sampai kita membedakan ilmu umum dan agama. Semuanya milik Allah, kan? Selain itu, meskipun background saya adalah NU, namun saya selalu mengajarkan pada santri dan mahasiswa di sini untuk senantiasa menghargai perbedaan. Karena yang namanya perbedaan itu adalah keniscayaan. Jadi enggak usahlah ribut-ribut masalah qunut enggak qunut, tarawih 11 atau 23, dan sebagainya,” paparnya.

Chobir pun menuturkan, Salman harus tetap memposisikan diri sebagai perekat umat. Ibaratnya, Salman itu MUI-nya, yang harus bisa mempersatukan berbagai macam pemikiran, golongan, atau pun ormas. Salman harus punya semangatnya Bang Imad dan Prof. Sadali dulu.

“Oh iya, kita juga harus berupaya untuk dakwah bil hal. Dengan berbuat baik, Insya Allah masyarakat akan lebih mudah menerima. Di samping itu, masalah dikotomi pun bisa tuntas karena orang sudah bisa melihat bahwa lulusan kampus umum juga bisa melakukan amal baik sesuai perintah agama, bahkan mungkin lebih baik dari mereka yang kuliah di kampus Islam atau pesantren,” nasihatnya mengakhiri telepon kami. (Husain)

*

*

Top