Menjadi Relawan adalah Pilihan, Tetapi Pilihan yang Sangat Berharga untuk Dirasakan

2017-01-14-PHOTO-00000032

Azmi Aflah Fadhila dalam acara “bebersih sungai”. (foto : dok. pribadi)

Tidak setiap orang menyukai aktivitas lapangan, membantu orang lain secara sadar dan rela membagi waktunya untuk orang-orang yang belum dikenal. Tak banyak pula orang-orang yang bersedia untuk bekerja demi orang lain tanpa dibayar uang. Akan tetapi, masih ada segelintir orang yang haus akan aktivitas kerelawanan dan senang menolong orang lain.

IMG_2628

Muhammad Izzudin Fahmi tengah menjadi relawan bencana banjir Bale Endah. (foto : dok. pribadi)

Muhammad Izzudin Fahmi namanya. Seorang mahasiswa Aeronotika dan Astronotika 2014 ini sejak awal kuliah sudah ikut dalam aktivitas kerelawanan. Berawal dari sebuah nazar, Fahmi mulai ikut kerelawanan di Donor Darah rutin Masjid Salman ITB di bawah Salman Health Center.  “Jadi nazarnya kalau saya masuk ITB harus terjun ke masyarakat. Awalnya sekali doang terus ketagihan. Yang buat ketagihan pas udah bantuin ada rasa puas tersendiri,” ujarnya, Selasa (12/1/17).

Niatnya mau jadi relawan itu adalah ladang amal, katanya. Fastabiqul khairat. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Sholat saja tidak cukup untuk ladang ibadah. Bagi Fahmi, berbuat baik dengan cara menjadi relawan merupakan sebuah kebutuhan.  “Intinya saling membantu, karena bagi saya ini suatu wujud syukur juga. Saya selalu berpikir dibantu sama Allah terus,  kenapa kita ga bantu yang lain juga?”

Dari rasa tolong menolong itu jadi bersyukur sama Allah. Ia pun bertemu dengan berbagai pembelajaran, kenalan dan pengalaman baru.  “Sekaligus menyebar dakwah juga dan saling mengingatkan kepada sesama,” katanya.

Ketika ditanya soal pengalaman kerelawanan yang paling menempel di benak adalah  menjadi relawan suatu bencana.  “Saat kita turun di tempat bencana, banyak faktor yang belum stabil. Disana tugas kita untuk menstabilkan faktor-faktor  itu.  Waktu itu jadi relawan bencana longsor Sumedang,” kata Fahmi seraya mengingatnya.

“Disana kondisi sangat tidak stabil. Pengungsian mau ini, sedangkan panitia begini. Lalu yang ngasih donasi begini. Jadinya kontradiktif. Pengungsinya membutuhkan bantal, yang ada makanan semua. Padahal makanan sudah lebih dari cukup. Panitia juga  justru membutuhkan SDM, ya jadi banyak faktor-lah,” kenangnya.

Mahasiswa kelahiran Bekasi 29 Desember 1996 itu mengutarakan pertama kali ia menjadi relawan adalah saat donor darah di Salman. Selanjutnya ia pernah  terjun ke  banjir Bale Endah. Aktivitas kerelawanan terakhir adalah mengikuti Kids Adventura. Sebuah program yang dibentuk untuk anak-anak. Bentuk kerelawanan yang dilakukan adalah menjadi wali adik. Kids Adventura sendiri adalah sebuah kegiatan lima hari camping dan membina adik-adik.

IMG_2627

Muhammad Izzudin Fahmi bersama anak-anak dalam acara Kids Adventura. (Foto : dok.pribadi)


“Karena memang sifat dasar manusia harus tolong menolong dan manusia tidak bisa hdup sendiri. Sebaik-baik manusia yang beramal shaleh dan tolong menolong,” ucap relawan yang aktif jadi relawan pendidikan, medik, serta kebencanaan.

Begitupula dengan Azmi Aflah Fadhila. Mahasiswa Teknik Industi Universitas Parahyangan itu aktif di berbagai aktivitas kerelawanan. Diantaranya adalah : Korsa ITB, BPBD Jawa Barat, Komite relawan Baznas Tanggap Bencana, ACT,  dan KRPBI (Korps Relawan Penanggulangan Bencana Indonesia).

Azmi mengatakan, aktivitas kerelawanan yang sangat ia ingat adalah saat pertama kali turun ke bencana di Bale Endah,  menjadi fasitator untuk anak-anak  SD dan SMP , serta membuka sekolah darurat yg mengajar untuk anak-anak. “ Sangat berkesan karena melihat anak-anak  masih dapat senang dan tertawa dalam suasana bencana banjir di daerah Baleendah,” ujarnya, Jum’at (13/1/2017).

Saat ditanya mengapa ingin ikut jadi relawan, ia menjawab sebagai mahkluk sosial  pasti punya kehidupan sosial. Dengan menjadi relawan bisa memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap bencana di Indonesia. “Selain itu bisa merasakan indahnya berbagi meski bukan dalam hal materi. Yang saya rasakan doing more, achieve more,” ucapnya.

2017-01-14-PHOTO-00000030 (1)

Azmi Aflah Fadhila (kedua dari kanan, barisan berdiri).

Selain membantu orang lain secara sosial, Azmi merasa memiliki perspektif yang baru yang dapat membuatnya mengenal lebih dirinya sendiri dan peka terhadap lingkungan sekitar. Lebih mensyukuri hidup, bersemangat bahkan menemukan inspirasi baru dengan menjadi relawan.

“Bagi saya  menjadi relawan  adalah mengetahui bahwa menjadi manusia adalah untuk berbagi. Belajar menjadi manusia yang bisa menebarkan manfaat sebanyak-banyaknya,”.  Ia pun menambahkan menjadi relawan membuat lebih bersemangat, positif dan optimis untuk diri sendiri. Aktualisasi diri menjadi sangat meningkat, dan menjadi motivasi diri sendiri dan orang lain. “Mendedikasikan waktu sebagai seorang sukarelawan pun membantu untuk mendapat teman-teman baru,memperluas jaringan, dan meningkatkan keterampilan sosial,” tuturnya.

Azmi memulai aktivitas kerelawanannya sejak  1 tahun yang lalu, tepat bulan Februari 2015. “Tapi langsung totalitas menjadi relawan. Ketagihan, hehehe,”.

“Sejatinya para relawan mengetahui bahwa hidup bukan hanya sekedar materi. Kami telah merasakan rasanya berkehidupan sosial yang sebenarnya, serta lebih menghargai hidup untuk berbagi kepada sesama,” ujar Azmi menambahkan.

Baginya menjadi relawan adalah pilihan, tetapi pilihan yang sangat berharga untuk dirasakan. “Menjadi relawan akan mengajarkan kita untuk berbagi, menjadi keluarga kedua bagi para korban bencana. Dengan menjadi relawan juga dapat menjadi cara yang bermakna dan positif untuk menarik diri dari padatnya rutinitas harian,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

*

*

Top