Membangun Peradaban Rahmatan Lil ‘Alamin

 

turki-1

(foto: arrahmah.com)

Kita semua tentu pernah – atau bahkan sering – mendengar kata kebudayaan dan peradaban, serta frasa rahmatan lil ‘alamin. Akan tetapi, sudahkah kita memahami definisi dari kata-kata dan frasa tersebut? Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai pembangunan peradaban rahmatan lil ‘alamin, kita harus memahami definisi kebudayaan dan peradaban serta perbedaan di antara keduanya. Selain itu, kita juga harus memahami definisi rahmatan lil ‘alamin.

Kebudayaan adalah setiap hasil karya manusia yang digunakan untuk memecahkan masalah hidup manusia dan diturunkan dari generasi ke generasi. Kebudayaan memiliki beberapa unsur, yaitu kepercayaan, ilmu, seni, etika, estetika, gaya hidup, serta produksi. Kebudayaan dihasilkan dan diturunkan dari suatu generasi ke generasi selanjutnya melalui berbagai pranata berikut: keluarga, masjid, lembaga pendidikan, lembaga hukum, lembaga legislatif, dan lembaga lingkungan hidup.

Jika kebudayaan dihasilkan oleh manusia, peradaban tidak selalu demikian. Sebagian dari peradaban memang berupa kebudayaan yang bernilai tinggi dan tegak. Peradaban tidak hanya mencakup itu, tetapi juga hal-hal di luar hasil karya manusia seperti salat Jumat di masjid, dan sebagainya.

Dari definisi peradaban di atas dapat disimpulkan bahwa ajaran Islam adalah suatu bentuk peradaban, dan kita tentu tahu bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Apa itu rahmatan lil ‘alamin? Secara istilah, rahmat adalah pemberian Allah atas dasar kasih sayang-Nya. Secara bahasa, lil ‘alamin bermakna untuk semesta alam. Maka, makna rahmatan lil ‘alamin adalah pemberian Allah untuk semesta alam – tidak hanya manusia – atas dasar kasih sayang-Nya. Oleh karena itu, sejatinya, peradaban rahmatan lil ‘alamin hanyalah peradaban Islam.

Agar masyarakat dapat mencapai peradaban yang mulia ini, manusia harus mengefektifkan fungsi pranata-pranata kebudayaan di atas. Karena pranata-pranata tersebut bukan hanya sarana pembangunan kebudayaan, melainkan juga sarana pembangunan peradaban. Pembangunan peradaban rahmatan lil ‘alamin haruslah dimulai dari keluarga.

Mengapa harus dari keluarga? Karena keluarga adalah sarana transfer kebudayaan dan peradaban yang pertama bagi manusia. Keluarga yang baik dan beradab akan menghasilkan negara yang baik dan beradab pula. Namun, untuk membangun peradaban rahmatan lil ‘alamin, peran keluarga saja tidak cukup. Diperlukan juga peran pranata-pranata lain seperti masjid, lembaga pendidikan, dan lain-lain. Jika manusia sudah mencapai peradaban ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti akan selalu mencurahkan rahmat (pemberian atas dasar kasih sayang), maghfirah (ampunan), inayah (pertolongan), dan barakah (kebaikan yang bertambah-tambah) kepada manusia. (Faisal)

 

*dirangkum dari kajian Sabtu dhuha di Masjid Salman ITB oleh Dr. K. H. Asep Zaenal Ausop, M. Ag. pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1438/14 Januari 2017.

Related posts

*

*

Top