Diskusi Soal Kaderisasi, Jama’ah Shalahuddin UGM Sambangi Masjid Salman ITB

ugm

Jama’ah Shalahuddin UGM berfoto usai diskusi bersama pengurus Masjid Salman ITB, Kamis (12/1/17). (foto : Fathia U.)

Bandung, (Salman Media) – Unit Kerohanian Islam Jama’ah Shalahuddin Universitas Gadjah Mada (UGM) menyambangi Masjid Salman ITB, Kamis (12/1/17). Kunjungan ini dalam rangka silaturahmi dan belajar dari pelbagai penerapan sistem Salman. Kaderisasi menjadi salah satu diskusi Jama’ah Shalahuddin dan Masjid Salman ITB.

Aldi Pradana, Ketua Jama’ah Shalahuddin mengatakan perlunya meramu proses konstruksi kaderisasi. “Karena sudah kolot sehingga  tidak kompatibel denga dinamika zaman ini. Butuh referensi  yang menarik,” ujarnya.

Ketika diskusi mengenai sesi kaderisasi, ada hal yang akan diterapkan oleh Jama’ah Shalahuddin dari sistem kaderisasi Salman. Khairun Rizki, Manajer Bidang Mahasiswa dan Kaderisasi menjelaskan mengenai Balance scorecard. Sebuah metode menentukan strategi, jadi bagaimana agar kita dapat menyusun strategi secara komprehensif. “Melihat dari 4 aspek, yaitu strategi untuk customer, proses, SDM internal dan finance,” kata Khairun. “Intinya supaya pas buat strategi itu semua dipertimbangkan, tidak hanya strategi mencari uang saja misalnya,” ujarnya menambahkan.

Maka dari itu, Aldi mengatakan strategi kaderisasi Salman yang apik dan utuh serta berkelanjutan ini menjadi sistem yang menarik diterapkan untuk Jama’ah Shalahuddin.

Mahasiswa Fisika UGM itu pun menjelaskan alasan mengapa Masjid Salman ITB menjadi tujuan bagi Jama’ah Shalahuddin. Ia melihat teman-temannya yang pernah mengikuti Latihan Mujtahid Dakwah (LMD) kesannya bagus. Selain itu, Adriano Rusfi, Dewan Penasihat Masjid Salman, sering memberi kajian di Jama’ah Shalahuddin. Tak jarang pula Bang Ad, panggilan akrabnya, menceritakan Masjid Salman dengan berbagai aktivitasnya yang bagus dan menarik.

“Salman terkait sosialisasinya kepada masyarakat, proses kaderisasi yang sampai diurusi karirnya juga, menjadi salah satu yang menarik. Integrasi dosen, alumni dan mahasiswa dalam satu wadah menjadi landasan kami mengapa harus mengunjungi Salman,” tutur mahasiswa asal Bogor itu.

Sejak tahun 1976, anak-anak Jama’ah Shalahuddin sudah berkomunikasi dengan Salman. Masjid yang berlokasi di Jalan Ganeca ini menjadi laboratorium pembelajaran bagi Jama’ah Shalahuddin. “Jadi, jangan sampai terputus generasi, harapannya saling transfer ilmu, terus jalan untuk sama-sama membangun peradaban. Kerja membangun peradaban kan harus jamaah. Dibangun oleh orang yang paham dan sadar sehingga pembangunan peradaban Indonesia harus terkoordinir,” katanya.

Selain Salman, kampus lain seperti UNPAD, UIN Sunan Gunung Djati dan UPI pun menjadi tujuan selanjutnya. Aldi menginginkan supaya anak-anak Jama’ah Shalahuddin mengenal berbagai komunitas keislaman lainnya, tidak hanya di Yogyakarta saja. “Karena ini merupakan salah satu bentuk mewariskan kebaikan kepada anak-anak. Mencoba menanam pondasi terkait jaringan dengan teman-teman JS (Jama’ah Shalahuddin). Serta menjalankan estafet kepengurusan,” pungkasnya.

 

 

 

 

Related posts

*

*

Top