Al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai Sumber Nilai Islam

 

Makalah Tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah

sumber : dunia-blajar.blogspot.com

Tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Ibadah adalah segala perbuatan yang dilakukan untuk mencari ridha Allah. Agar ibadah kita benar dan diterima Allah, diperlukan pedoman yang berasal dari Dzat yang diibadahi, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dua pedoman inilah yang menjadi sumber nilai Islam.

Secara bahasa, Al-Qur’an adalah bacaan yang diulang-ulang. Kata Al-Qur’an berasal dari kata kerja qara’a yang berarti ‘dia telah membaca’. Adapun menurut istilah, Al-Qur’an adalah kalam (firman) Allah berbahasa Arab yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah – shallallahu ‘alayhi wa sallam – melalui Malaikat Jibril – ‘alayhis salam, diriwayatkan secara mutawatir (berterusan dari generasi ke generasi), dan membacanya bernilai ibadah.

Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang menjadi mukjizat dan terpelihara sampai hari kiamat. Allah menjaga Al-Qur’an dengan para penghafalnya dan catatan-catatannya pada zaman Rasulullah, serta pembukuannya pada masa para khalifah. Fungsi Al-Qur’an ada dua, yaitu sebagai mukjizat dan pedoman hidup. Oleh karena itu, umat Islam wajib memahami Al-Qur’an. Maka bahasa Arab dan tafsir Al-Qur’an yang benar menjadi suatu keharusan untuk dikuasai. Agar Al-Qur’an dapat ditafsirkan secara benar, diperlukan ‘ulumul Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an).

Sebagai mukjizat, kebenarannya dapat ditinjau dari segi bahasa, kejadian-kejadian masa depan, dan sains. Ada delapan aspek keimanan kepada Al-Qur’an: wahyu Allah dalam bahasa Arab, wahyu yang benar dan aktual, kitab yang murni dan otentik, kitab yang tidak dapat ditiru dan ditandingi oleh manusia, korektor dan penyempurna kitab-kitab suci terdahulu, petunjuk hidup yang lengkap, pembeda kebenaran dengan kebatilan, dan kitab yang tidak mengandung kontradiksi.

Karena Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah, maka tidak mungkin kita beriman kepada Al-Qur’an jika kita tidak beriman kepada Rasulullah. Dengan kata lain, iman kepada Al-Qur’an harus didahului oleh iman kepada Rasulullah. Maka, seorang muslim haruslah mengimani sepuluh aspek keimanan kepada Rasulullah: rasul Allah, penutup para nabi, rahmat bagi seluruh alam, diutus untuk seluruh manusia, berakhlak agung, teladan yang baik, bersih dan suci dari segala dosa. Lalu tak pernah belajar dari siapapun selain Allah, wajib ditaati, diikuti jejaknya, dan diteladani, serta wajib dicintai, dishalawati, dan didoasalamkan.

Dari sepuluh aspek tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah adalah Al-Qur’an yang hidup, yaitu pengejawantahan dari kandungan Al-Qur’an. Karena itu, pantaslah jika semua perbuatan, perkataan, dan persetujuan beliau menjadi pedoman hidup umat Islam, yang disebut As-Sunnah. Dengan As-Sunnah, ayat-ayat Al-Qur’an dapat ditafsirkan secara tepat, sehingga Al-Qur’an dapat diamalkan secara sempurna. (Faisal)

*disarikan dari Kursus Kajian Islam V, Kamis (12/1/17) bersama Samsoe Basaroedin. 

 

Related posts

*

*

Top