Merenungi Aksi 212 dan Surat An-Nazi’at

(sumber: republika.com)

(sumber: republika.com)

Suatu hari pada zaman Nabi Musa AS, ada seorang pejabat pemerintah yang angkuh, sombong, merasa dirinya tuhan dan pantas disembah oleh rakyatnya. Fir’aun namanya. Ketika itu Allah segera  memanggil Nabi Musa di lembah suci yaitu lembah Tuwa untuk menyuruh Nabi Musa pergi kepada Fir’aun sebab ia telah melampaui batas.

Maka katakanlah (kepada Fir’aun) “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan engkau akan kupimpin ke jalan Tuhan-mu agar engkau takut kepada-Nya?” (QS An-Nazi’at: 18-19)

Lalu Nabi Musa memperlihatkan mukjizatnya supaya Fir’aun percaya bahwa Musa adalah utusan dari Allah untuk menyampaikan kebenaran. Setelah memperlihatkan mukjizatnya, Fir’aun tetap mendustakan dan mendurhakai. Kemudian ia berpaling seraya berusaha menantang Musa. Fir’aun mengumpulkan pembesar-pembesarnya dan memanggil kaumnya seraya berkata “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”. Maka Allah pun menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia.

Yang ditekankan melalui surat An-Naziat: 15-26 adalah kisah Nabi Musa AS menyeru seorang pemangku pemerintahan di zamannya yang ingkar pada Allah. Tetapi Musa menyeru Fir’aun dengan lembut dan bukan dengan cara yang kasar. Ia mengajak Fir’aun untuk mensucikan diri dan bertaubat dengan kata-kata membimbing dan memberi tahu seorang pejabat dengan baik. Lihatlah surat An-Naziat ayat 18-19 di atas.

Ternyata, kejadian ini terjadi pula di pemerintahan Indonesia. Kasus penistaan agama yang sedang panas-panasnya oleh seorang pejabat pemerintah ini membuat geram sebagian umat muslim di Indonesia. Tak heran, aksi pun dilancarkan dengan berbondong-bondong memasuki daerah kedudukannya, yakni ke ibu kota.

Musa telah mencontohkan adab yang baik untuk mengingatkan seorang pejabat pemerintah dalam surat An-Naziat tersebut. Umat muslim seyogianya menegur dengan kata-kata yang baik dan sopan serta mengajak dirinya dengan cara membimbing. Karena, hakikatnya orang yang menistakan Alquran akan dilempar ke neraka.

Ketika ada sebuah penghinaan agama oleh seorang pejabat, prosedurnya adalah bersabar terlebih dahulu jika sang pejabat masih suka melaksanakan salat. Tanyakan kepada orang terdekatnya seperti pengawalnya, apakah sang pejabat tidak pernah meninggalkan salat. Jika salatnya masih selalu dilaksanakan, maka kita harus bertahan diri terlebih dulu.

Lain hal jika sang pejabat tidak beriman, maka seperti dalam surat An-Naziat ayat 17, Allah menyuruh Musa pergi menghadap Firaun. Sama halnya jika terjadi kejadian seperti itu di masa ini. Maka pergilah menemuinya, dan ucapkanlah kata-kata yang baik. Sebab Allah telah memberi pelajaran tersebut dari kisah Nabi Musa AS.

Alquran memang tidak akan pernah habis masanya atau basi. Ia akan selalu serupa dan sama menyertai setiap zaman dalam menjawab berbagai persoalan hidup. Karena sebaik-baik manusia adalah yang mengajarkan Alquran dan mengamalkannya.**

**disarikan dari Kajian Ba’da Duhur bersama Ustadz Aceng, Selasa (29/11/2016).

*

*

Top