Indonesia Darurat Minat Baca, Pemerintah Kota Bandung Gelar Festival Duta Baca

Adin Mukhtarudin, Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung, tengah membuka acara Festival Duta Baca 3 di Gedung Serbaguna Salman ITB, Rabu (23/11/2016).

Adin Mukhtarudin, Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung, tengah membuka acara Festival Duta Baca 3 di Gedung Serbaguna Salman ITB, Rabu (23/11/2016). (foto : Fathia U.H)

 

Bandung, (Salman Media)Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (Kapusarda) Kota Bandung bersama Masjid Salman ITB dan Ikatan Alumni Jawa Barat menggelar acara Festival Duta Baca 3, Rabu (23/11) hingga Kamis (24/11) di Masjid Salman ITB. Acara ini dibuka oleh orasi Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, yang disampaikan langsung lewat Kepala Kapusarda, Adin Mukhtarudin.

Adin dalam sambutannya mengatakan, Indonesia menduduki posisi ke 60 dari 61 negara dengan literasi membaca yang sangat rendah. Festival Duta Baca ini  menjadi upaya Kapusarda dalam meningkatkan literasi tersebut dan sudah menjadi kali ketiga diselenggarakan.

“Selain itu, kami punya gerakan bernama Gemas. Gerakan Membaca Sauyunan. Sauyunan merupakan bahasa Sunda yang artinya satu visi dan misi untuk berkolaborasi dalam meningkatkan minat baca,” ujar Adin. “Kita diapresiasi menteri pendidikan dan kebudayaan dengan Gemas ini. Tidak semua kabupaten atau kota punya inovasi seperti ini, jadi bisa ditiru oleh yang lain juga,” tambahnya, Rabu (23/11).

Upaya Kapusarda lainnya adalah mengadakan perpustakaan keliling menggunakan mobil, perpustakaan di Mall, taman, kelurahan dan kecamatan, serta menjangkau gang-gang kecil dengan menggunakan gerobak baca. Kini, Pemerintah Kota Bandung akan mendorong seluruh institusi seperti kantor-kantor dan BUMN untuk mengadakan perpustakaan. Adin ingin hasil survey 2 tahun kebelakang bahwa minat membaca masyarakat Indonesia yang rendah ini dapat terdongkrak pada tahun 2017.

Animo masyarakat menyambut Festival Duta Baca ini sangat berkesan di tahun ketiga bersama IA ITB Jabar dan Masjid Salman ITB. Pada festival yang kesatu dan kedua, animo masyarakat dalam festival ini masih kurang begitu massive. Sebelumnya Festival Duta Baca diadakan di Bandung Indah Plaza dan Braga City Walk.

Pusat target audience dari acara ini adalah anak-anak. Karena sudah sulit jika menanamkan kebiasaan dari dewasa. Sehingga harus dimulai dari usia TK, PAUD, SD untuk mendapatkan hasil 5 hingga 10 tahun mendatang minat membaca Indonesia semakin menanjak.

Adin juga mengatakan, festival selanjutnya akan berkolaborasi lebih luas dengan para penerbit, BUMN, perusahaan, dan melakukan sosialisasi secara massive dengan semua lini. “Saya ingin seluruh mindset masyarakat terutama adik-adik tumbuh kebiasaan membaca di kemudian hari. Bukan artikel dan twitter, tetapi buku. Jika buku sudah diminati, maka orang akan mampu membaca dan berpikir radikal, yakni berpikir hingga ke akar-akar yaitu dengan baca buku filsafat. Tapi sayangnya makna radikal menjadi konotasi negatif di masyarakat,” paparnya.

Bangun Peradaban Lewat Membaca

dsc_0002

Arfi Rafnialdi, Ketua Ikatan Alumni ITB Jawa Barat sedang memberikan sambutan dalam perhelatan Festival Duta Baca 3, Kamis (23/11) di Gedung Serba Guna Salman ITB. (foto : Fathia U.H)

Ikatan Alumni (IA) ITB Jawa Barat menjadi salah satu aliansi Kapusarda dalam mensukseskan literasi membaca ini. Pada dasarnya, IA ITB memiliki alumni dari berbagai jurusan dengan ladang pekerjaan yang berbeda. IA ITB berupaya untuk mengajak alumni bahwa mereka telah mendapatkan sesuatu dari negeri ini dan alumni harus give back atas apa yang telah didapatkannya. Khususnya bagi se-antero provinsi Jawa Barat.

“Harusnya ilmu yang diperlajari alumni bukan ditukarkan jadi komersial dalam rupiah atau poundsterling. Tetapi harus jadi benefit yang dirasakan oleh masyarakat,” kata Arfi Rafnialdi, Ketua IA ITB Jabar.

Misalnya, IA ITB mengajak para alumni ke sebuah desa penghasil pisang. Secara teknik oleh alumni dibantu bagaimana mengolahnya, secara marketing bagaimana supply chain nya jadi nilai tambah, dan mengajak lulusan teknik lingkungan untuk masuk dalam zero waste sehingga meminimalisir limbah.

Kemudian, Arfi memaparkan dalam konteks minat membaca, ada fenomena anak-anak zaman sekarang makin pendek dan rentan dalam konsentrasi. Mereka lebih kuat dalam menonton atau membaca di internet dengan segala macam yang ada seperti artikel, misalnya. Sementara, kita mau membangun peradaban itu harus dengan pemahaman yang kuat, pemikiran lebih dalam, dan itu hanya didapatkan dengan membaca buku. “Untuk membangun yang lebih dalam tersebut, interaksi yang lebih dalam, membangun bangsa yang lebih kuat ya dengan melihat jendela dunia dengan membaca,” tegasnya.

Upaya Dinas Pendidikan

dsc_0061

Elih Sudiapermana (kiri) bersama Adin Mukhtarudin (kanan) tengah menonton penampilan angklung persembahan siswa SD dalam acara pembukaan Festival Duta Baca 3, di Gedung Serba Guna Masjid Salman ITB, Rabu (23/11). (foto : Fathia U.H)

Elih Sudiapermana, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung pun turut berupaya keras dalam membangun peradaban Indonesia dengan membaca. “Geliat”, menjadi sebuah program dari Wali Kota Bandung yakni Gerakan Literasi Sekolah. Oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung, Geliat ini dibuat kelompok kerja  yang menghimpun beberapa komponen tidak hanya sekolah, yaitu Kapusarda, komunitas seperti forum Taman Baca Masyarakat, juga komunitas yang sudah melakukan literasi di masyarakat.

Geliat adalah program membaca buku non-pelajaran 15 menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Ada beberapa sekolah yang sudah mulai masuk kelas pukul 06.30 untuk melaksanakan Geliat juga gerakan salat dhuha bersama. “Ada yang sudah diintegrasikan pula  ke mata pelajaran Bahasa Indonesia sehingga menjadi mata pelajaran pertama. Kita pun sedang mendorong sekolah untuk mengalokasikan anggaran BOS belanja buku non pelajaran,” ucap Elih.

Baik Adin, Elih, maupun Arfi berharap supaya dengan adanya Festival Duta Baca sebagai sarana masyarakat mengembangkan diri lewat lomba dan meningkatkan minat baca anak-anak serta rangka penyadaran orang tua supaya membiasakan anak-anaknya membaca dimulai dari rumah.

Related posts

*

*

Top