Indonesia Darurat Minat Baca : Membaca Tentukan Sikap Manusia

Dua orang anak sedang membaca di lapangan rumput Masjid Salman ITB dalam acara Festival Duta Baca, Kamis (24/11). (foto : Fathia U.H)

Dua orang anak sedang membaca di lapangan rumput Masjid Salman ITB dalam acara Festival Duta Baca, Kamis (24/11). (foto : Fathia U.H)

Elih Sudiapermana, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung mengatakan dunia pendidikan disebut soft tool learning. Seseorang disebut belajar ketika dia membaca sesuatu tekstual, lalu mengolahnya, mengkomunikasikan gagasannya, mendapat pandangannya, akhirnya membangun peradaban.

“Terlihat anak-anak yang tidak suka baca, ngomongnya cuma lu, gue, pisang goreng. Mereka kebanyakan baca konteks bukan teks. Tapi  anak-anak yang suka baca pasti ceritanya kalau dia suka  novel, maka isi novel dikomunikasikan,” tutur Elih, Rabu (23/11).

Jatuhnya kepada masalah Ujian Nasional (UN). Semakin kesini, UN justru menjadi hal yang tidak baik. Diharapkan ketika ada UN mereka bekerja keras dengan memahami pelajaran, membaca hingga paham suatu masalah, tetapi yang ada mereka belajar membaca soal dan mengetahui jawabannya, bukan membaca buku-bukunya. Makanya bimbingan belajar lebih diminati dibandingkan guru.

“Bisa jadi semakin kesini angka (nilai Ujian Nasional siswa) lebih baik. Tetapi jadi menghambat budaya baca. Karena dengan membaca maka orang dapat mengkomunikasikan gagasan, dan memutuskan bagaimana bersikap. Orang banyak baca lebih toleran terhadap perbedaan,” jelasnya.

Anak-anak yang suka baca akan sangat terbuka. Ketika angka minat baca rendah, maka berbanding lurus dengan angka-angka pelajaran lainnya,seperti Sains, matematika pun akan rendah juga.

Jangka panjang membangun peradaban mulai dari usia 0 sampai 5 tahun untuk menjadi pondasi. Penyiapan guru PAUD dan TK pun sedang digalakkan. Elih berkata, literasi membaca  ini sudah marak, tetapi cuma sepersekian saja. Misalnya ini diadakan di Salman, pasti hanya sekelilingnya saja  yang dapat merasakan maraknya. Tetapi bagaimana mereka  yang di Cibiru atau Gede Bage. “Jadi kita butuh anak-anak muda seperti Arfi-Arfi (Ketua IA ITB Jabar)  yang lain untuk membantu gerakan seperti ini,” tuturnya.

Neti Supriati, Kepala Seksi Pengelolaan Perpustakaan Kota Bandung mengatakan, karena sarana yang belum tersedia, mindset masyarakat mengenai perpustakaan itu tidak ada apa-apanya. Maka dari itu sarana perpustakaan sekarang ditingkatkan dan dibuat senyaman mungkin. Sebelumnya belum ada yang mampu mensinergikan dan menggelorakan sehingga Neti meluncurkan Gerakan Membaca Sauyunan (Gemas).

Neti pun mengatakan ada tiga strategi advokasi stakeholder, pemerintahan eksekutif, legislatif untuk memahami fungsi perpustakaan dan manfaat budaya baca. Pertama, ia  membuka penyadaran mengenai budaya baca dan mendorong kepada anak-anak usia dini.

“Kedua, mengembangkan jaringan komunitas yang sudah beradvokasi untuk berbagi peran. Kita sinergikan program. Misal ingin mengadakan pelatihan, maka kami siap menyediakan tempat dan peserta untuk anak-anak SD, SMP, misalnya. Dan itu sudah sering dilakukan di tempat kami,” ujarnya.

Ketiga, pelibatan masyarakat dengan menarik masyarakat ikut ke perpustakaan dengan membaca. Ketika seseorang keluar dari perpustakaan maka ia bisa cerdas baik secara intelektual dan ekonomi. “Karena dia datang ke perpustakaan untuk membaca, juga di sini suka ada berbagai pelatihan kreativitas usaha sehingga membuka wawasan pengunjung,” paparnya.

Neti berharap supaya dengan berbagai upaya yang digelontorkan pemerintah dan stakeholder ini menjadi langkah dalam membentuk minat baca anak-anak khususnya dan menyadarkan para orang tua supaya menggiring anaknya kepada buku bacaan, bukan telepon genggam.

 

 

 

Related posts

*

*

Top